Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Setelah Minyak, Kini Suku Bunga Jadi Bayang-Bayang Pasar

SENIN, 21 SEPTEMBER 2026 | 07:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar keuangan global menghadapi perubahan arah risiko sepanjang pekan kemarin atau periode 14-18 September 2026. 

Kenaikan suku bunga sejumlah bank sentral utama, harga minyak yang masih tinggi, serta tekanan terhadap mata uang negara berkembang menjadi perhatian investor.

Di pasar saham, sektor Healthcare dan Properties & Real Estate menjadi dua sektor dengan kinerja terlemah, masing-masing turun 4,56 persen dan 3,57 persen.


Sebaliknya, CPO menjadi aset dengan performa terbaik dengan kenaikan 2,95 persen, disusul indeks Nikkei yang menguat 1,57 persen. Di pasar komoditas, harga minyak mentah turun 1,82 persen, sedangkan batu bara terkoreksi 1,76 persen.

PT Ashmore Asset Management Indonesia dalam Weekly Commentary menilai perhatian pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada harga minyak, tetapi juga pada arah kebijakan suku bunga global.

The Fed menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 4,00 persen dari 3,75 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak 2023 dan dilakukan ketika perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan.

Penjualan ritel AS pada Agustus tumbuh 1,2 persen, sementara klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 196 ribu, lebih rendah dari perkiraan 208 ribu.

"Permintaan konsumen dan lapangan kerja yang tetap kuat memberi ruang bagi The Fed untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika inflasi terbukti persisten," tulis Ashmore.

Langkah serupa juga terlihat di Jepang. Bank of Japan menaikkan suku bunga menjadi 1,25 persen dari 1,00 persen. Dengan keputusan tersebut, tiga bank sentral utama dunia dalam waktu berdekatan bergerak ke arah pengetatan kebijakan.

Menurut Ashmore, perkembangan ini penting bagi pasar negara berkembang karena kenaikan suku bunga global dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mendorong aliran modal kembali ke negara maju.

Meski demikian, kenaikan suku bunga The Fed tidak langsung mendorong imbal hasil obligasi Amerika Serikat lebih tinggi. Imbal hasil UST 10 tahun yang sempat menembus 5,03 persen pada 15 September kembali turun ke sekitar 4,94 persen.

Ashmore menilai pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar lebih banyak merespons perbedaan antara ekspektasi dan realisasi. Kenaikan suku bunga The Fed sendiri telah cukup banyak diperhitungkan oleh pelaku pasar sebelumnya.

Di sisi lain, harga minyak relatif stabil. Brent berada di sekitar 104 Dolar AS per barel setelah sebelumnya mendekati 110 Dolar AS.

Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menjadi salah satu faktor penahan harga. Saudi Aramco disebut berupaya mengalihkan pengiriman minyak sekaligus memulihkan sebagian kapasitas East-West Pipeline yang terganggu akibat serangan drone.

Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum konflik.

"Perselisihan yang mendasarinya belum semakin dekat dengan penyelesaian, dan Harga 104 Dolar AS mencerminkan kondisi tersebut," sebut Ashmore.

Di Indonesia, tekanan terhadap pasar tercermin dari pelemahan rupiah ke Rp17.742 per Dolar AS. Investor asing juga masih mencatatkan jual bersih saham sekitar 65 juta Dolar AS hingga Kamis, meski lebih kecil dibandingkan 152 juta Dolar AS pada pekan sebelumnya.

"Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual mungkin mulai mereda," tulis Ashmore

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun justru turun tipis menjadi 7,13 persen dari 7,15 persen.

Perhatian investor domestik selanjutnya tertuju pada rapat Bank Indonesia pada 23 September. Konsensus memperkirakan BI Rate dipertahankan di level 5,75 persen.

Ashmore melihat BI menghadapi tantangan karena bank-bank sentral utama global mulai memperketat kebijakan. Selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat yang semakin menyempit berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar.

Harga minyak juga menjadi persoalan tersendiri. Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di level 70 Dolar AS per barel, sementara harga Brent pada pekan lalu masih berada di sekitar 104 Dolar AS.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran melalui subsidi energi maupun harga yang dibayarkan konsumen.

Secara keseluruhan, Ashmore menilai karakter risiko pasar mulai berubah. Jika sebelumnya perhatian investor lebih banyak tertuju pada dampak harga minyak terhadap ekonomi global, kini arah suku bunga juga menjadi faktor utama.

Bagi Indonesia, kedua risiko tersebut memiliki jalur pengaruh yang berbeda. Harga minyak berkaitan dengan perdagangan, inflasi dan anggaran, sedangkan perubahan suku bunga global lebih langsung memengaruhi nilai tukar dan imbal hasil obligasi.

"Hal-hal utama yang perlu diperhatikan adalah keputusan BI pada 23 September dan sinyal yang diberikan mengenai bulan-bulan mendatang, apakah perbaikan pipa Arab Saudi tetap sesuai jadwal, volume pengiriman melalui Hormuz, serta arah imbal hasil AS setelah The Fed mengambil tindakan," ungkap Ashmore.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya