Pasar keuangan global menghadapi perubahan arah risiko sepanjang pekan kemarin atau periode 14-18 September 2026.
Kenaikan suku bunga sejumlah bank sentral utama, harga minyak yang masih tinggi, serta tekanan terhadap mata uang negara berkembang menjadi perhatian investor.
Di pasar saham, sektor Healthcare dan Properties & Real Estate menjadi dua sektor dengan kinerja terlemah, masing-masing turun 4,56 persen dan 3,57 persen.
Sebaliknya, CPO menjadi aset dengan performa terbaik dengan kenaikan 2,95 persen, disusul indeks Nikkei yang menguat 1,57 persen. Di pasar komoditas, harga minyak mentah turun 1,82 persen, sedangkan batu bara terkoreksi 1,76 persen.
PT Ashmore Asset Management Indonesia dalam Weekly Commentary menilai perhatian pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada harga minyak, tetapi juga pada arah kebijakan suku bunga global.
The Fed menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 4,00 persen dari 3,75 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak 2023 dan dilakukan ketika perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan.
Penjualan ritel AS pada Agustus tumbuh 1,2 persen, sementara klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 196 ribu, lebih rendah dari perkiraan 208 ribu.
"Permintaan konsumen dan lapangan kerja yang tetap kuat memberi ruang bagi The Fed untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika inflasi terbukti persisten," tulis Ashmore.
Langkah serupa juga terlihat di Jepang. Bank of Japan menaikkan suku bunga menjadi 1,25 persen dari 1,00 persen. Dengan keputusan tersebut, tiga bank sentral utama dunia dalam waktu berdekatan bergerak ke arah pengetatan kebijakan.
Menurut Ashmore, perkembangan ini penting bagi pasar negara berkembang karena kenaikan suku bunga global dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mendorong aliran modal kembali ke negara maju.
Meski demikian, kenaikan suku bunga The Fed tidak langsung mendorong imbal hasil obligasi Amerika Serikat lebih tinggi. Imbal hasil UST 10 tahun yang sempat menembus 5,03 persen pada 15 September kembali turun ke sekitar 4,94 persen.
Ashmore menilai pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar lebih banyak merespons perbedaan antara ekspektasi dan realisasi. Kenaikan suku bunga The Fed sendiri telah cukup banyak diperhitungkan oleh pelaku pasar sebelumnya.
Di sisi lain, harga minyak relatif stabil. Brent berada di sekitar 104 Dolar AS per barel setelah sebelumnya mendekati 110 Dolar AS.
Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menjadi salah satu faktor penahan harga. Saudi Aramco disebut berupaya mengalihkan pengiriman minyak sekaligus memulihkan sebagian kapasitas East-West Pipeline yang terganggu akibat serangan drone.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum konflik.
"Perselisihan yang mendasarinya belum semakin dekat dengan penyelesaian, dan Harga 104 Dolar AS mencerminkan kondisi tersebut," sebut Ashmore.
Di Indonesia, tekanan terhadap pasar tercermin dari pelemahan rupiah ke Rp17.742 per Dolar AS. Investor asing juga masih mencatatkan jual bersih saham sekitar 65 juta Dolar AS hingga Kamis, meski lebih kecil dibandingkan 152 juta Dolar AS pada pekan sebelumnya.
"Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual mungkin mulai mereda," tulis Ashmore
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun justru turun tipis menjadi 7,13 persen dari 7,15 persen.
Perhatian investor domestik selanjutnya tertuju pada rapat Bank Indonesia pada 23 September. Konsensus memperkirakan BI Rate dipertahankan di level 5,75 persen.
Ashmore melihat BI menghadapi tantangan karena bank-bank sentral utama global mulai memperketat kebijakan. Selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat yang semakin menyempit berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar.
Harga minyak juga menjadi persoalan tersendiri. Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di level 70 Dolar AS per barel, sementara harga Brent pada pekan lalu masih berada di sekitar 104 Dolar AS.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran melalui subsidi energi maupun harga yang dibayarkan konsumen.
Secara keseluruhan, Ashmore menilai karakter risiko pasar mulai berubah. Jika sebelumnya perhatian investor lebih banyak tertuju pada dampak harga minyak terhadap ekonomi global, kini arah suku bunga juga menjadi faktor utama.
Bagi Indonesia, kedua risiko tersebut memiliki jalur pengaruh yang berbeda. Harga minyak berkaitan dengan perdagangan, inflasi dan anggaran, sedangkan perubahan suku bunga global lebih langsung memengaruhi nilai tukar dan imbal hasil obligasi.
"Hal-hal utama yang perlu diperhatikan adalah keputusan BI pada 23 September dan sinyal yang diberikan mengenai bulan-bulan mendatang, apakah perbaikan pipa Arab Saudi tetap sesuai jadwal, volume pengiriman melalui Hormuz, serta arah imbal hasil AS setelah The Fed mengambil tindakan," ungkap Ashmore.