Kapal Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa. (Foto: Kantorsar Banjarmasin)
Bangkai Kapal Virgo Transport 8 yang kecelakaan di perairan Laut Jawa akhirnya ditemukan dari udara oleh Tim SAR Gabungan. Dari hasil pemantauan menggunakan helikopter Dauphin HR-3601, badan kapal terlihat dalam kondisi terbalik di tengah laut.
Temuan tersebut diperoleh saat Tim SAR Udara melakukan penyisiran visual dari udara di sekitar perairan Laut Jawa pada Minggu, 13 September 2026. Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin menyampaikan, Helikopter Dauphin HR-3601 berhasil mendeteksi posisi bangkai kapal.
Dalam pemantauan dari udara, badan kapal tampak jelas berada dalam posisi terbalik. Bagian lambung berwarna merah terlihat muncul di atas permukaan laut, sementara gelombang cukup kuat mengitari badan kapal.
Titik koordinat lokasi temuan kemudian langsung diteruskan kepada Tim SAR Gabungan yang berada di laut untuk menjadi acuan penyisiran dan penanganan lebih lanjut.
"Hasil pemantauan dan titik koordinat temuan dari udara langsung diteruskan kepada Tim SAR Gabungan di laut (SRU Laut) untuk penanganan, penyisiran lanjutan, dan evakuasi di sekitar lokasi," demikian keterangan Kantor SAR Banjarmasin.
Penemuan bangkai kapal dari udara menjadi perkembangan penting dalam operasi pencarian KMP Virgo Transport 8. Dengan lokasi kapal telah terdeteksi, tim di laut dapat memusatkan penyisiran dan upaya evakuasi di sekitar titik tersebut.
Sebelumnya, Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan operasi pencarian dan pertolongan melibatkan berbagai unsur laut dan udara. Unsur tersebut antara lain kapal Basarnas, KRI TNI AL, kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian, pesawat, hingga helikopter.
Hingga perkembangan terakhir, 113 orang dari total 243 orang yang berada di KMP Virgo Transport 8 telah dievakuasi. Sebanyak 107 orang ditemukan selamat, satu orang mengalami luka berat, dan enam orang meninggal dunia.
Operasi SAR masih berlangsung untuk mencari dan mengevakuasi korban lainnya.
Kapal Virgo Transport 8 sebelumnya berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal dilaporkan menghadapi cuaca buruk sebelum akhirnya hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA, Minggu, 13 September 2026.
Sebelum hilang kontak, awak kapal sempat melaporkan kondisi cuaca buruk kepada pihak perusahaan. Beberapa jam kemudian, kapal mengalami perubahan
center of gravity atau kemiringan.
Kondisi tersebut membuat kapal mengirimkan broadcast untuk meminta bantuan. Awak kapal juga mengaktifkan
Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) untuk mengirimkan sinyal darurat.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin kemudian menerima informasi tersebut dan melakukan analisis cepat sebelum meneruskannya kepada Basarnas Command Center.
Deklarasi kondisi darurat selanjutnya disampaikan kepada pengguna lalu lintas laut di kawasan Laut Jawa untuk membantu proses pencarian dan pertolongan.
Proses pencarian juga menghadapi tantangan kondisi laut. Nakhoda KN SAR Laksmana sebelumnya melaporkan tinggi gelombang di sekitar lokasi kejadian mencapai 2 hingga 2,5 meter. Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko bagi kapal-kapal SAR berukuran sekitar 40 meter yang melakukan operasi pencarian dan evakuasi di lokasi.