Berita

Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno. (Foto: Istimewa)

Bisnis

Pramono Kena Sentil: APBD Rp91 Triliun, Kenapa Masih Mau Ngutang?

MINGGU, 13 SEPTEMBER 2026 | 19:16 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerbitkan obligasi daerah dinilai belum layak dilakukan sebelum pembenahan internal pemerintahan dan efisiensi anggaran benar-benar dilakukan.

Ekonom Senior Indef, Didik J Rachbini menilai peringatan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa agar pemerintah daerah berhati-hati berutang memiliki dasar yang kuat.

Didik mencontohkan pengalaman Brasil menjadi pelajaran penting bahwa penerbitan obligasi daerah tanpa kontrol utang yang ketat dapat berujung pada gagal bayar dan berdampak terhadap stabilitas ekonomi nasional.


"Kontroversi ini tidak masalah terjadi sehingga semua pihak, pemerintah daerah dan pemerintah pusat serta otoritas moneter, berpikir dua kali dan menimbang dengan cermat risiko-risikonya," kata Didik dalam keterangannya, Minggu, 13 September 2026.

Didik menilai potensi persoalan semakin besar apabila penerbitan utang daerah dilakukan dalam kondisi politik dan birokrasi yang belum bersih, transparan, dan efisien. Secara teoritis politik dan birokrasi memiliki kecenderungan memaksimalkan anggaran atau dikenal dengan konsep budget maximizer theory.

Karakter tersebut berbeda dengan dunia usaha yang secara umum berorientasi pada profit maximizer. Sementara birokrasi cenderung menjadi budget maximizer, bahkan membangun struktur birokrasi yang semakin besar melalui apa yang dikenal sebagai empire builder theory.

"Politik dan birokrasi sudah pasti karakternya seperti itu. Pemerintah akan terus-menerus membangun kerajaan birokrasi yang gemuk," ujarnya.

Didik juga menyoroti kondisi fiskal pemerintah pusat yang dinilainya justru perlu mendapat perhatian lebih serius. Ia menyebut utang pemerintah pusat telah meningkat hingga sekitar Rp10.000 triliun dan membebani APBN dengan pembayaran sekitar Rp600 triliun setiap tahun.

Beban bunga utang yang tinggi akan mengganggu ruang fiskal pemerintah dan berpotensi menekan dunia usaha serta investasi. Ditambah, tingkat bunga Indonesia mencapai sekitar 7 persen dengan China sekitar 1,6 persen, Singapura 2,3 persen, dan Jepang 2,9 persen.

"Ini benar-benar mencekik dan menguras dana APBN setiap tahun," katanya.

Oleh karenanya, Didik menilai rencana Pemprov Jakarta di bawah komando Gubernur Pramono Anung soal penerbitan obligasi daerah perlu dipertanyakan. Sebab, APBD Jakarta dinilainya sudah sangat besar, bahkan pada tahun sebelumnya mencapai lebih dari Rp91 triliun.

Dengan anggaran sebesar itu, Pemprov DKI seharusnya terlebih dahulu melakukan efisiensi dan memprioritaskan belanja untuk kebutuhan utama. Ia mencontohkan sejumlah kegiatan seperti pengerukan waduk yang dapat menyedot anggaran hingga ratusan miliar Rupiah.

"Pengeluaran daerah selama ini masih belum efisien dan bahkan superboros," katanya.

Karena itu, Didik menyarankan Pemprov DKI melakukan pembenahan internal sebelum melangkah ke tahap penerbitan obligasi daerah.

"Kita harus melihat ke dalam dahulu, yakni kesiapan politik dan birokrasi yang sehat, transparan, dan efisien," tuturnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya