Berita

Ketua Umum Keluarga Besar FKPPI, Pontjo Sutowo bersama Bambang Soesatyo. (Foto: Dok. FKPPI)

Politik

FKPPI Alat Perjuangan, Bukan Kendaraan Politik

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2026 | 19:52 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

RMOL.  Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) harus tetap menjadi organisasi perjuangan dan tidak bergeser menjadi kendaraan untuk merebut kekuasaan politik. Karena itu, arah perjuangan organisasi perlu disusun dalam haluan jangka panjang yang tidak berubah setiap kali terjadi pergantian kepengurusan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Keluarga Besar FKPPI, Pontjo Sutowo dalam Rapat Pimpinan Nasional FKPPI di Jakarta, Jumat, 11 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, Pontjo mendorong penyusunan Garis-Garis Besar Haluan Perjuangan (GBHP) sebagai pedoman organisasi dalam jangka panjang.

"Sebuah perjuangan harus memiliki perspektif jangka panjang. Tidak ada perjuangan yang hanya berlangsung lima tahun. Perjuangan itu panjang," kata Pontjo.


Ia menekankan pentingnya keterlibatan daerah dalam merumuskan GBHP. Aspirasi daerah, kata Pontjo, harus menjadi bagian dari penyusunan arah organisasi, bukan sekadar menerima program yang telah ditetapkan pusat.

"Semestinya, haluan besar perjuangan FKPPI mampu menampung aspirasi dari seluruh daerah. Aspirasi tersebut harus didengar dan menjadi bagian dari proses penyusunan haluan organisasi," ujarnya.

Pontjo mengaitkan penyusunan GBHP dengan rencana Musyawarah Nasional (Munas) FKPPI pada Desember mendatang. Ia berharap haluan tersebut dapat menjadi salah satu acuan dalam pelaksanaan Munas.

Menurutnya, perubahan kepengurusan tidak semestinya selalu diikuti perubahan arah dasar organisasi.

"Jangan sampai justru Munas yang setiap kali membuat garis haluan baru, sehingga program organisasi berubah-ubah sesuai dengan siapa yang memimpin atau siapa yang menguasai Munas," katanya.

"Pengurus boleh berganti, tetapi arah perjuangan tidak boleh berubah," tegas Pontjo.

Ia kemudian menegaskan posisi FKPPI sebagai organisasi yang berorientasi pada perjuangan, bukan perebutan kekuasaan politik.

"FKPPI bukan kendaraan politik untuk mencari kekuasaan. FKPPI adalah alat perjuangan, alat untuk mencapai cita-cita," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Pontjo juga menyoroti persoalan pendidikan. Menurutnya, sistem pendidikan nasional perlu diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya mampu mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan.

Ia juga menilai sistem politik Indonesia perlu memiliki keterkaitan yang kuat dengan budaya masyarakat. Masyarakat, kata Pontjo, harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan.

"Semakin banyak rakyat yang menjadi subjek pembangunan, semakin baik," ujarnya.

Di bidang ekonomi, Pontjo menyoroti distribusi manfaat dari pengelolaan sumber daya alam. Ia mempertanyakan kondisi masyarakat di sejumlah daerah yang memiliki kekayaan alam, namun belum memperoleh manfaat yang sepadan.

Menurutnya, manfaat pengelolaan sumber daya alam harus turut dirasakan masyarakat di daerah penghasil.

"Jangan sampai yang menikmati justru pihak asing, sementara masyarakat setempat tidak mendapatkan manfaat yang sepadan," ujarnya.

Pontjo mengatakan persoalan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian bangsa. "Kita tidak boleh terus bergantung. Kita harus yakin pada diri sendiri," katanya.

Pembangunan Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Pontjo kemudian menekankan pentingnya kemerdekaan secara mental. Menurutnya, masyarakat yang masih terjajah secara mental akan sulit mewujudkan kemandirian bangsa.

"Orang yang terjajah tidak mungkin memerdekakan orang lain. Hanya orang yang merdeka yang mampu memerdekakan," kata Pontjo.

"Kalau masyarakat tidak merdeka, kemerdekaan yang sesungguhnya tidak akan pernah terwujud. Kalau masyarakat masih terjajah secara mental, persoalan bangsa ini tidak akan pernah selesai," pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya