Berita

Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan. (Foto: Dok PKS)

Politik

Pemerintah Diminta Blak-blakan Anggaran Tambahan 1 Juta Ton SPHP

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2026 | 13:06 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah diminta membuka secara transparan kebutuhan anggaran untuk rencana penambahan 1 juta ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). 

Menurut Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan, penambahan volume SPHP harus dibarengi dengan evaluasi terhadap efektivitas subsidi yang telah dikeluarkan negara dalam menekan harga beras di tingkat konsumen.

“Kuota SPHP sebelumnya sebesar 828 ribu ton membutuhkan subsidi harga sekitar Rp4,97 triliun. Sekarang pemerintah berencana menambah lagi 1 juta ton. Pertanyaan kami sederhana: berapa tambahan biaya fiskal yang harus ditanggung negara, dan seberapa besar dampaknya terhadap harga yang benar-benar dibayar masyarakat?” kata Johan, Jumat, 11 September 2026.


Johan mendukung intervensi pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga beras, terlebih menghadapi periode penurunan produksi. Namun, menurutnya, keberhasilan kebijakan tidak boleh hanya dinilai berdasarkan besarnya stok Bulog atau banyaknya beras yang berhasil dikeluarkan dari gudang.

“Uang negara yang digunakan sangat besar. Karena itu ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa ton SPHP tersalurkan. Kita harus bisa menjawab: berasnya sampai ke mana, rakyat membelinya dengan harga berapa, dan apakah harga pasar di wilayah tersebut benar-benar turun,” ujarnya.

Ia menilai pertanyaan tersebut semakin relevan karena pemerintah masih menguasai stok beras dalam jumlah besar, sementara intervensi melalui Cadangan Beras Pemerintah telah dilakukan secara masif. 

Apabila pemerintah terus menambah volume intervensi tetapi harga di tingkat konsumen belum menunjukkan respons yang sebanding, maka menurut Johan terdapat persoalan yang perlu ditelusuri pada rantai distribusi dan transmisi harga.

“Jangan sampai kita mengeluarkan subsidi triliunan rupiah tetapi kebocoran manfaat terjadi di sepanjang rantai distribusi. Yang harus menikmati subsidi itu adalah rakyat sebagai konsumen, bukan justru berhenti sebagai margin tambahan di tengah rantai perdagangan,” tegas Johan.

Johan meminta Bapanas dan Perum Bulog menyampaikan evaluasi berbasis wilayah terhadap pelaksanaan SPHP, bukan hanya laporan agregat nasional mengenai tonase penyaluran. 
Pemerintah perlu menunjukkan daerah mana yang menerima SPHP, berapa volumenya, bagaimana pergerakan harga sebelum dan sesudah intervensi, serta berapa biaya pemerintah untuk menghasilkan setiap rupiah penurunan harga di tingkat konsumen.

“Kalau negara mengeluarkan Rp1 triliun, publik berhak tahu berapa besar dampaknya terhadap harga beras. Ini bukan sekadar soal anggaran, tetapi soal value for money. Setiap rupiah subsidi pangan harus bisa kita pastikan benar-benar berubah menjadi manfaat bagi rakyat,” kata Johan.

Ia juga mengingatkan agar penambahan SPHP tidak menimbulkan persoalan baru di tingkat produsen. Waktu dan wilayah penyaluran harus diatur secara presisi agar intervensi untuk menurunkan harga konsumen tidak justru menekan harga gabah petani ketika memasuki periode panen.

“Negara mempunyai dua kewajiban sekaligus: menjaga harga gabah agar petani mendapatkan keuntungan yang layak dan menjaga harga beras agar masyarakat mampu membelinya. Kebijakan SPHP harus mampu menjembatani keduanya,” pungkas Johan.



Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya