Sejumlah pengusaha berdarah Indonesia berhasil membangun karier sekaligus kerajaan bisnis di berbagai penjuru dunia.
Mereka bahkan mampu menembus sektor-sektor strategis yang dikenal memiliki persaingan ketat di tingkat global.
Keberhasilan tersebut tidak selalu lahir dari modal besar. Sebagian memulainya dari keahlian teknis, keberanian membaca peluang, pengalaman sebagai diaspora, hingga kemampuan memahami kebutuhan pasar lokal.
Berikut delapan pengusaha keturunan Indonesia yang sukses membangun kiprah bisnis di luar negeri.
1. Pantas Sutardja (Amerika Serikat)Pantas Sutardja merupakan salah satu nama penting di balik lahirnya Marvell Technology, perusahaan semikonduktor yang berbasis di Amerika Serikat.
Bersama mendiang saudaranya, Sehat Sutardja, dan Weili Dai, Pantas mendirikan Marvell pada 1995. Ia kemudian menjabat sebagai chief technology officer hingga 2014.
Setelah keluar dari Marvell, Pantas tetap aktif di industri teknologi dan mendirikan LatticeWork pada 2013, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi penyimpanan dan komputasi data. Dia juga memiliki sekitar 3 persen saham Credo Technology, perusahaan semikonduktor yang melantai di Nasdaq.
Kekayaan Pantas juga telah masuk dalam pemantauan Forbes. Berdasarkan profil Forbes per 8 September 2026, kekayaan bersihnya diperkirakan mencapai 1,7 miliar dolar AS, yang menempatkannya di peringkat 2.390 orang terkaya dunia.
2. Iwan Sunito (Australia)Pengusaha kelahiran Indonesia, Iwan Sunito, membangun namanya melalui industri properti Australia.
Dia merupakan salah satu pendiri Crown Group yang mengembangkan sejumlah proyek properti di Sydney dan menjadi salah satu pengembang yang cukup dikenal di pasar Australia.
Skala bisnis yang pernah dibangun Iwan tergambar dari kinerja Crown Group pada masa ekspansinya.
Dalam wawancara dengan
The Jakarta Post pada tahun 2013, Iwan menyebut Crown membukukan sekitar 300 juta dolar Australia dari penjualan pada tahun finansial tersebut dan menargetkan sekitar 500 juta dolar Australia pada tahun berikutnya. Saat itu, proyek-proyek yang tengah berjalan memiliki nilai sekitar 2,8 miliar dolar Australia.
Setelah perjalanan Crown Group mengalami restrukturisasi, Iwan melanjutkan kiprahnya melalui bisnis properti baru.
3. Leo Koguan (Amerika Serikat)Leo Koguan merupakan salah satu pengusaha keturunan Indonesia dengan posisi finansial paling menonjol dalam daftar ini.
Lahir di Indonesia, Koguan kemudian membangun karier bisnisnya di Amerika Serikat dan menjadi pendiri serta chairman SHI International, perusahaan penyedia solusi teknologi informasi untuk korporasi dan institusi berskala global.
Forbes mencatat SHI International membukukan penjualan kotor sekitar 15 miliar dolar AS. Koguan juga dikenal sebagai investor besar di Tesla, meskipun Forbes mencatat bahwa ia telah menjual sebagian kepemilikannya di perusahaan otomotif tersebut.
Per 10 September 2026, Forbes memperkirakan kekayaan bersih Koguan mencapai 8,5 miliar dolar AS, menempatkannya di peringkat 453 orang terkaya dunia. Forbes juga mencatat Koguan telah 17 kali masuk dalam berbagai daftar kekayaan mereka.
4. Theresia Gouw (Amerika Serikat)Theresia Gouw Lahir di Indonesia pada 1968, kemudian pindah ke Amerika Serikat bersama orang tua dan saudara perempuannya ketika berusia tiga tahun.
Dia kemudian menempuh pendidikan di Brown University dan Stanford Graduate School of Business sebelum membangun karier di industri teknologi dan modal ventura.
Gouw menghabiskan sekitar 15 tahun di Accel dan menjadi perempuan pertama yang menjadi partner di perusahaan modal ventura tersebut.
Diq ikut berinvestasi pada sejumlah perusahaan teknologi yang kemudian berkembang pesat, termasuk Trulia dan perusahaan keamanan siber Imperva. Pada 2014, Gouw mendirikan Aspect Ventures bersama Jennifer Fonstad.
Pada 2019, Gouw kembali mendirikan perusahaan venture capital, Acrew Capital. Perusahaan tersebut kini mengelola sekitar 1,7 miliar aset dolar AS.
Forbes pada 2025 menyebut Gouw sebagai perempuan miliarder pertama di industri venture capital Amerika Serikat, dengan kekayaan yang pada September 2026 diperkirakan sekitar 1,2 miliar dolar AS.
5. Kwee Liong Tek (Singapura)Kwee Liong Tek merupakan bagian dari keluarga pengusaha keturunan Indonesia yang membangun kerajaan properti dan hospitality di Singapura.
Ia bersama tiga saudaranya mengendalikan Pontiac Land, perusahaan yang didirikan oleh mendiang ayah mereka, Henry Kwee.
Pontiac Land kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok properti keluarga terbesar di Singapura.
Portofolionya mencakup hotel-hotel mewah dan gedung perkantoran ikonik, sementara ekspansinya telah menjangkau New York, Sydney dan Maladewa. Keluarga Kwee juga mengakuisisi Capella Hotel Group pada 2017.
Kwee Liong Tek sebelumnya menjabat sebagai chairman Pontiac Land sebelum menjadi chairman emeritus pada 2024 dalam proses regenerasi kepemimpinan keluarga.
Dia juga mulai memperluas investasi ke sektor teknologi, termasuk mendukung perusahaan pembayaran digital dan blockchain. Forbes memperkirakan kekayaan pribadinya sekitar 1,8 miliar dolar AS pada September 2026.
6. Martua Sitorus (Singapura)Martua Sitorus merupakan salah satu pengusaha Indonesia yang membangun bisnis berskala global dari Singapura.
Dia dikenal sebagai salah satu pendiri Wilmar International bersama Kuok Khoon Hong pada 1991. Perusahaan tersebut kemudian tumbuh menjadi salah satu pemain terbesar dunia dalam perdagangan dan pengolahan kelapa sawit.
Martua kemudian mengembangkan bisnis bersama saudaranya, Ganda Sitorus, melalui KPN, yang sebelumnya dikenal sebagai Gama. Kelompok usaha tersebut memiliki kepentingan di sektor perkebunan kelapa sawit, properti, dan manufaktur semen.
Pada September 2026, Forbes memperkirakan kekayaan Martua sekitar 3,5 miliar dolar AS. Meski berdomisili di Singapura, ia tetap tercatat sebagai warga negara Indonesia.
7. Sukanto Tanoto (Singapura)Sukanto Tanoto merupakan salah satu pengusaha keturunan Indonesia yang berhasil membangun kerajaan bisnis berskala global.
Berbasis di Singapura, ia merupakan pendiri dan pemilik Royal Golden Eagle (RGE), kelompok usaha yang memiliki kepentingan di industri pulp dan kertas, serat viscose, minyak sawit, energi, hingga properti.
Bisnis RGE kini tersebar di sejumlah negara, termasuk Indonesia, Tiongkok, Brasil, Kanada, Spanyol, Malaysia, dan Singapura.
Dari sisi kekayaan, Forbes mencatat Tanoto memiliki kekayaan bersih sekitar 4,2 miliar dolar AS per 10 September 2026. Angka tersebut menempatkannya di sekitar peringkat 1.039-1.041 orang terkaya dunia, sementara dalam daftar Indonesia's 50 Richest 2025, ia berada di peringkat ke-21 dengan kekayaan 3,7 miliar dolar AS.
8. Selly Septiani Dewi (Jepang)Selly Septiani Dewi menjadi contoh diaspora Indonesia yang membangun bisnis dengan menggarap ceruk pasar spesifik di Jepang.
Berbekal latar belakang sebagai apoteker dan pengalaman di bidang quality assurance, Selly merintis Hajime Skincare and Herbs, yang mengembangkan produk perawatan kulit berbasis prinsip halal di Negeri Sakura.
Selly disebut sebagai diaspora Indonesia pertama yang menciptakan kosmetik atau skincare halal di Jepang. Produk Collagen and Elastin Series miliknya mulai diluncurkan pada Februari 2024.
Pada tahap awal, masing-masing produk diproduksi sebanyak 200 unit; ketika diwawancarai
ANTARA pada Juli 2024, penjualan serum telah mencapai 60 persen, cleanser 30 persen, dan toner 15 persen dari produksi awal tersebut. Selain skincare, bisnisnya juga mencakup produk jamu dan layanan perawatan.
Skala usaha Selly memang belum dapat dibandingkan dengan perusahaan miliaran dolar milik sejumlah nama lain dalam daftar ini. Namun, keberhasilannya menembus pasar Jepang memperlihatkan bahwa bisnis diaspora dapat dimulai dari ceruk yang sangat spesifik, kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan keunggulan produk dan kebutuhan konsumen.