Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Tiga Indeks Utama Rontok, Bursa Eropa Anjlok Tertekan Eskalasi Perang Iran

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2026 | 07:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa ekuitas Eropa terperosok ke level terendah dalam dua bulan pada penutupan perdagangan Kamis 10 September 2026 waktu setempat. 
Penurunan ini ditekan oleh kekhawatiran pengetatan moneter lanjutan setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan biaya pinjaman serta memperingatkan ancaman inflasi energi akibat konflik Iran-Amerika Serikat.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melemah 0, 69 persen atau 4,44 poin ke posisi 635,97, yang merupakan level terlemah sejak 8 Juli. 

Tekanan jual merata melanda bursa utama regional; Indeks DAX Jerman menyusut 0, 84 persen menjadi 25.361,15, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0, 57 persen ke 10.608,92, dan CAC 40 Prancis melemah 0, 49 persen ke level 8.116,76.


Langkah ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,5 persen, kenaikan kedua tahun ini, menjadi katalis utama pelemahan pasar. Keputusan tersebut diambil guna mencegah penularan lonjakan harga energi akibat perang Iran ke perekonomian zona Euro yang rentan terhadap impor bahan bakar. 

Meskipun ECB merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi nol koma sembilan persen, bank sentral memperkirakan inflasi rata-rata mencapai tiga persen tahun ini, dengan risiko tekanan harga yang diprediksi bertahan lebih lama.

Tekanan terhadap pasar saham semakin berat akibat lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus 105 Dolar AS per barel menyusul eskalasi serangan terhadap kapal pelayaran. Kondisi ini mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak 2011, sementara pelaku pasar memperkirakan tambahan kenaikan suku bunga hingga 60 basis poin menjelang April 2027.

Di lantai bursa, sektor pertambangan mencatat kinerja terburuk dengan keanjlokan 3, 7 persen akibat ketidakpastian rencana tarif tembaga AS, menyeret saham KGHM, Antofagasta, dan Anglo American turun 5 - 8 persen. 
Sentimen negatif kian lengkap menyusul data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat yang di atas perkiraan, memicu aksi jual global menjelang rilis data inflasi konsumen AS yang krusial bagi arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya