Berita

Presiden Prabowo Subianto melepaskan kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 9 September 2026 (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Publika

Satu Emas Rp3 Miliar, Atlet Langsung Jadi Miliarder

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2026 | 02:18 WIB

SEBELUMNYA Presiden Prabowo dihujat gara-gara buku 'Islam Ala Prabowo.' Kali ini kita patut acungi jempol buat Prabowo. Siapkan bonus Rp3 miliar untuk satu emas. Luar biasa. Begitu dapat satu emas, atlet langsung menjadi miliarder.

Bukan miliarder konten. Bukan miliarder janji. Bukan miliarder yang hartanya masih berupa “segera cair”. Ini Rp3 miliar. 

Presiden Prabowo menyampaikan bonus itu saat melepas Kontingen Indonesia menuju Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026, 9 September 2026. Tetapi ada catatan penting. Angka Rp3 miliar itu untuk peraih emas nomor perorangan.


Bandingkan dengan Asian Games Hangzhou 2022. Saat itu emas perorangan mendapat Rp1,575 miliar. Emas ganda Rp1,05 miliar dan emas beregu Rp787,5 juta. Perak perorangan Rp525 juta, ganda Rp420 juta, beregu Rp315 juta. Perunggu perorangan Rp262,5 juta, ganda Rp210 juta, beregu Rp157,5 juta.

Sekarang emas perorangan menjadi Rp3 miliar. Naiknya sekitar Rp1,425 miliar, atau sekitar 90,5 persen. Wah, emasnya tetap 24 karat, tetapi bonusnya sudah seperti naik kelas ekonomi.

Yang lebih menarik, target Indonesia kali ini justru empat emas. Padahal di Hangzhou 2022 Indonesia berhasil membawa pulang tujuh emas.

Jangan salah paham. Target turun bukan berarti pemerintah kehilangan optimisme. Ada alasan teknis. Tiga nomor dulu menyumbangkan emas tidak dilombakan lagi, yakni dua nomor dragon boat dan satu nomor menembak.

Kalau empat emas semuanya berasal dari nomor perorangan, hitungan warung kopinya sederhana: 4 × Rp3 miliar = Rp12 miliar. Rp12 miliar! Di warkop tempat tongkrongan saya, angka sebesar itu kalau dibelikan pisang goreng, warkopnya langsung roboh.

Namun jangan buru-buru menyimpulkan pemerintah harus menyiapkan Rp12 miliar. Sebab nomor ganda dan beregu memiliki skema berbeda, masih dihitung. Bonus perak dan perunggu juga belum diumumkan.

Respons atlet pun menarik. Ketua Umum PBSI Fadil Imran menyebut bonus tersebut bisa menambah semangat atlet. PBSI berencana memberikan bonus tambahan sesuai kemampuan organisasi.

Lifter senior Eko Yuli Irawan juga menyambut positif. Bonus itu dianggap menjadi penyemangat bagi atlet. Semangatnya sendiri untuk bersaing kembali disebut semakin “kenceng”.

Wajar saja. Atlet tetap manusia. Mereka bisa berlatih karena cinta Merah Putih, mengejar kehormatan, memburu prestasi, sekaligus tentu tidak akan marah kalau rekening ikut tersenyum.

Tetapi Wamenpora Taufik Hidayat mengingatkan, atlet harus mengejar prestasi terlebih dahulu, bonus kemudian. Bonus adalah apresiasi atas prestasi, bukan tujuan utama.

Ketua Umum PB PABSI Rosan Perkasa Roeslani juga menilai bonus itu sebagai apresiasi luar biasa pemerintah. Namun emas bukan sekadar uang. Ada kehormatan atlet dan kebanggaan bangsa.

Ketika Prabowo mengumumkan Rp3 miliar, tepuk tangan atlet langsung riuh. Manusiawi sih. Mungkin ada tepuk tangan karena bangga. Ada karena terharu. Ada juga dalam hati sedang menghitung, “Rp3 miliar... kalau dapat emas, jadi berapa setelah ini dan itu?”

Kalkulator belum dinyalakan, tetapi otak sudah bekerja lembur. Namun inti persoalannya tetap indah. Negara sedang memberi pesan, keringat atlet punya harga dan prestasi mereka layak dihargai.

Target boleh empat emas. Tetapi semangat jangan empat. Harus empat puluh. Sebab mereka tidak berangkat ke Jepang untuk mengejar uang semata. Mereka berangkat membawa nama Indonesia.

Kalau emas berhasil dibawa pulang, Merah Putih berkibar, Indonesia Raya menggema, lalu Rp3 miliar masuk rekening, itu bukan sekadar bonus. Itu seperti negara berkata kepada atlet, “Nak, kau sudah membuat bangsa ini bangga. Sekarang biarkan rekeningmu ikut merasakan kebanggaan itu.”

Kali ini memang pantas acungi jempol. Emasnya harus dikejar. Prestasinya harus diperjuangkan. Bonusnya? Jangan ditolak. Nasionalisme boleh membara, rekening juga boleh ikut sejahtera.

Begitulah olahraga zaman sekarang. Dulu atlet mengejar emas untuk kebanggaan. Sekarang? Kejar kebanggaan, dapat emas, pulang-pulang jadi miliarder.

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Dokumen dan BBE Usai Geledah Rumah Mewah Anggota Polri Yayat Sudrajat

Kamis, 10 September 2026 | 20:17

Pendalaman Fakta dan Penegakan Hukum Transparan Diperlukan di Kasus DJKA

Kamis, 10 September 2026 | 20:12

Tim 9 Kejagung Temukan Bukti Pemerasan Febrie di Kasus Jiwasraya

Kamis, 10 September 2026 | 20:05

Konsisten Perkuat Investasi Berkelanjutan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Kamis, 10 September 2026 | 19:58

Waketum Golkar: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 19:50

Rombak Ratusan Pejabat, Purbaya Minta Kemenkeu Bergerak Lebih Cepat

Kamis, 10 September 2026 | 19:40

Iwakum Dorong Pengerahan Maksimal Cari Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 | 19:31

Menyoal Kasus Dadan Cs, JMI: Jangan Ramai di Awal, Lalu Hilang di Tengah Jalan

Kamis, 10 September 2026 | 19:14

Polisi Siap Sikat Penimbun Masker di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 | 19:01

Pembagian 50:50 Kuota Haji Tambahan Ternyata Kebijakan Gus Yaqut

Kamis, 10 September 2026 | 18:45

Selengkapnya