Berita

Ilustrasi pergerakan IHSG. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

IHSG dan Rupiah Kompak Merah Imbas Timur Tengah Memanas

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026 | 17:02 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 10 September 2026.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.589, merosot 88,8 poin atau 1,33 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Tekanan terjadi di seluruh indeks sektoral. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor energi sebesar 2,06 persen, diikuti transportasi 1,80 persen dan infrastruktur 1,31 persen.


Sebanyak 543 saham melemah, 161 saham menguat, dan 259 saham lainnya stagnan. Volume transaksi tercatat mencapai 45 miliar saham dengan nilai Rp21,33 triliun. Frekuensi transaksi tercatat 2,63 juta kali, sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp11.529 triliun.

Pada perdagangan yang sama, Rupiah juga ditutup melemah. Mengutip data Bloomberg, Rupiah berada di level Rp17.547 per Dolar AS, turun 36 poin atau 0,21 persen dari perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan pasar tidak terlepas dari kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berisiko mengganggu pasokan energi global.

"AS dan Iran terlibat dalam serangkaian serangan terparah terhadap kapal-kapal sejak konflik bermula pada bulan Februari, di tengah kembali memanasnya pertempuran antara kedua pihak setelah sempat mereda sejenak pada bulan Agustus," kata Ibrahim dalam risetnya.

Menurutnya, Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada Rabu. Sementara AS mengaku membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

"Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini, yang semakin menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan," ujarnya.

Ibrahim menilai serangan tersebut memperbesar risiko gangguan pasokan energi di kawasan Teluk, terutama jika konflik meluas hingga ke luar Selat Hormuz.

"Serangan Houthi tersebut memperparah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan di kawasan Teluk akan meluas hingga ke luar wilayah Hormuz sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global," jelasnya.

Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan kenaikan harga minyak dunia juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan tekanan terhadap kondisi fiskal pemerintah, meskipun pemerintah sebelumnya mengisyaratkan anggaran negara masih berada dalam posisi aman.

"Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor, di antaranya kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG)," tuturnya.

Menurut Ibrahim, apabila penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan belanja subsidi, risiko pelebaran defisit APBN di atas target akan semakin besar dan berpotensi menambah tekanan terhadap Rupiah.

"Dan apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan Dolar AS, yang dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik," sambungnya.

Ibrahim menambahkan, penyesuaian harga BBM domestik juga dapat menjadi persoalan tersendiri karena berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

"Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat," tandasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya