Berita

Ilustrasi. (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Brent Tembus 100 Dolar AS, DPR Ingatkan Beban APBN Bisa Makin Berat

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026 | 12:12 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Harga minyak dunia yang kembali menembus 100 Dolar AS per barel menjadi alarm bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM. Kenaikan harga berpotensi langsung memperbesar beban devisa, subsidi dan kompensasi energi hingga menekan APBN.

Anggota Komisi XII DPR RI, Totok Daryanto, mengatakan lonjakan harga tersebut dipengaruhi gangguan pasokan dan ketegangan di kawasan Teluk serta Selat Hormuz.

“Kenaikan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel harus menjadi peringatan serius bagi Indonesia,” kata Totok kepada RMOL, Kamis, 10 September 2026. 


Berdasarkan data 10 September 2026, harga minyak Brent berada sekitar 101,10 Dolar AS per barel, sedangkan WTI sekitar 96,24 Dolar AS per barel.

Menurut Totok, situasi ini memperlihatkan risiko ketergantungan Indonesia terhadap pasokan dari luar negeri. Karena itu, peningkatan produksi migas domestik dan pengurangan impor tidak bisa lagi ditunda.

“Karena itu, produksi migas dalam negeri memang harus ditingkatkan dan ketergantungan pada impor harus dipercepat pengurangannya,” tegasnya.

Namun, peningkatan produksi tidak dapat dilakukan secara instan. Pemerintah perlu mengoptimalkan sumur-sumur eksisting, menerapkan enhanced oil recovery (EOR), menyelesaikan proyek yang tertunda, serta memberikan kepastian regulasi dan keekonomian bagi investasi hulu migas.

Di sektor hilir, pengurangan impor perlu didukung peningkatan kapasitas dan utilisasi kilang dalam negeri, pengembangan biofuel seperti B50, pemanfaatan gas bumi, kendaraan listrik, serta pengawasan tata niaga impor yang lebih transparan dan efisien.

Totok menegaskan persoalan harga minyak tidak berhenti pada naiknya harga komoditas, tetapi menyangkut kemampuan Indonesia menjaga ketahanan energinya ketika pasar global terguncang.

“Jadi, harga minyak di atas 100 Dolar AS per barel bukan hanya masalah harga, tetapi alarm mengenai ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah perlu menjadikan kondisi tersebut sebagai momentum untuk mempercepat kemandirian energi, sehingga Indonesia tidak terus-menerus rentan terhadap gejolak geopolitik dan harga minyak dunia.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

September 2026, Industri Kayu Tertekan Karhutla

Rabu, 30 September 2026 | 20:27

Komisaris Asuransi Tokio Marine Indonesia Dicecar KPK Soal Pencairan Komisi Fiktif Asuransi Pelni

Rabu, 30 September 2026 | 20:26

Prabowo Minta Efisiensi APBN Tetap Terukur demi Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 30 September 2026 | 20:26

Insentif Pajak Gaji Karyawan di Bawah Rp10 Juta Berlanjut Hingga 2027

Rabu, 30 September 2026 | 19:51

Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali Asian Games, BNI Apresiasi Pembinaan PBSI

Rabu, 30 September 2026 | 19:36

Pancasila, Persatuan, dan Ujian Geopolitik

Rabu, 30 September 2026 | 19:23

33,2 Juta Keluarga Akan Terima Bantuan Beras 10 Kg selama Oktober-Desember

Rabu, 30 September 2026 | 19:12

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Rp31 Triliun di Kuartal IV 2026

Rabu, 30 September 2026 | 19:01

Dakwah Ekonomi Syarikat Islam Sejalan dengan Visi Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 18:34

Pengelolaan Gambut di Riau Jadi Rujukan Badan Baru Bentukan Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 18:28

Selengkapnya