Berita

Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Ahmad Syaikhu. (Foto: Dok PKS)

Bisnis

Perbankan Syariah Harus Perluas Pangsa Pasar

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2026 | 15:13 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah didorong segera mereformulasi kebijakan untuk mempercepat pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Pasalnya, pertumbuhan aset perbankan syariah yang cukup signifikan dinilai belum sepenuhnya mampu mendorong peningkatan pangsa pasar.

Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Ahmad Syaikhu, menjelaskan, secara pertumbuhan, perbankan syariah menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Total aset yang pada 2019 berada di kisaran Rp538 triliun meningkat menjadi sekitar Rp902 triliun pada Agustus 2024. 

Bahkan, pertumbuhan perbankan syariah tercatat lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional, yakni 9,33 persen berbanding 6,41 persen pada 2019 dan 10,36 persen berbanding 9,35 persen pada 2024.


Namun, pertumbuhan tersebut belum diikuti peningkatan pangsa pasar yang signifikan. Syaikhu mencatat pangsa pasar perbankan syariah meningkat dari 3,98 persen pada 2011 menjadi sekitar 7,44 persen pada September 2024. Setelah berbagai upaya dilakukan, termasuk merger sejumlah bank syariah, pangsa pasar tersebut dinilai masih belum mampu menembus angka dua digit. 

“Meskipun perkembangan yang pesat ini belum diiringi dengan pangsa pasar yang tumbuh secara signifikan. Ini sudah tiga dekade, bahkan belum sampai tembus angka dua digit,” ujar Syaikhu lewat keterangan resminya, Jumat, 4 September 2026.

Kondisi tersebut, perlu menjadi bahan evaluasi serius, terutama jika Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia. Berdasarkan data State of the Global Islamic Economy, Indonesia masih berada di peringkat ketujuh dalam perkembangan perbankan syariah, sementara Malaysia konsisten berada di posisi teratas. 
"Padahal, kedua negara sama-sama mayoritas penduduknya Muslim, menerapkan sistem dual banking, serta memiliki kerangka regulasi dan lembaga pengawasan yang relatif sebanding," ujar Syaikhu.

Kesenjangan tersebut terlihat dari sejumlah indikator. Pada 2024, total aset perbankan syariah Indonesia berada di kisaran Rp918 triliun, sedangkan Malaysia mencapai sekitar Rp4.266 triliun. 

Dari sisi pangsa pasar, Indonesia berada di kisaran 7,44 persen, sementara Malaysia telah mencapai sekitar 34 persen. Adapun pembiayaan perbankan syariah Indonesia tercatat sekitar Rp628 triliun, jauh di bawah Malaysia yang mencapai sekitar Rp3.290 triliun.

“Kenapa Malaysia bisa secepat itu, bisa sebesar itu? Ini yang kemudian tentu kita sebagai tetangga perlu baca juga untuk mengambil pelajaran,” kata Syaikhu. 

Ia menilai Malaysia tidak harus dijadikan model ideal, tetapi layak menjadi pembanding untuk mengidentifikasi faktor kebijakan, regulasi, maupun strategi implementasi yang membuat industri perbankan syariahnya mampu berkembang lebih cepat.

Karena itu, Syaikhu menekankan pentingnya diagnosis yang lebih mendalam terhadap hambatan pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Menurutnya, perlu dilihat apakah persoalan utama berada pada desain regulasi yang belum kondusif, kebijakan yang membutuhkan terobosan, atau justru pada implementasi kebijakan di lapangan. 

“Kebijakan itu sudah dibuat, regulasinya sudah ada, cuma ada kendala implementasi. Nah, ini mungkin perlu juga diungkap apa sungguhnya kendala yang menghalangi sehingga menghambat pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia,” tegasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya