Sekolah Darurat SDN Golomondo, Desa Latung, Cibal Barat, Manggarai (Foto: Dok Istimewa)
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak cepat menangani kerusakan sarana pendidikan akibat gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, telah berkomunikasi dengan Gubernur NTT untuk memastikan pendataan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.
“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” katanya kepada wartawan, Jumat, 4 September 2026.
Tim Kemendikdasmen telah diterjunkan ke tujuh kabupaten di Pulau Flores, yakni Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.
Berdasarkan data per 16 Agustus 2026, tercatat 253 satuan pendidikan terdampak yang terdiri atas 199 satuan di bawah kewenangan kabupaten dan 54 satuan di bawah kewenangan provinsi, termasuk Ruang Kelas Baru hasil revitalisasi seperti SDN Wae Wulan dan SDI Lengko Randang. Penanganan di lapangan dikoordinasikan oleh BPMP dan BGTK, dengan Manggarai Timur sebagai wilayah terdampak terparah yang mencakup 104 satuan pendidikan.
“Selain kerusakan bangunan, musibah gempa bumi juga menelan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan yakni dua orang murid dan satu orang guru,” ucap Abdul.
Sebagai langkah antisipasi, Kemendikdasmen mengarahkan penghentian sementara pembelajaran di ruang kelas yang rusak untuk dipindahkan ke ruang aman, tenda belajar, atau meliburkan kegiatan sesuai kondisi daerah.
“Kami juga menyiapkan dukungan psikososial melalui kerja sama dengan HIMPSI. Layanan tersebut akan segera bergerak setelah tim pendahuluan memberikan konfirmasi kondisi lapangan. Langkah selanjutnya adalah mendorong pembersihan sekolah yang masih aman digunakan serta mengoordinasikan pemanfaatan anggaran belanja tambahan untuk kebutuhan sarana dan alat belajar,” tegasnya.
Untuk mendukung keberlangsungan sekolah, Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat melalui dua klaster ekspedisi.
Tahap pertama mengirim 30 tenda dari Jakarta dan Yogyakarta ke Pelabuhan Labuan Bajo beserta 1.000 paket Family Kit, 200 paket school kit umum, dan 2.000 paket school kit SMA/SMK untuk Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Sementara klaster kedua mengirim 20 tenda dari BBPPMPV BOE Malang ke Pelabuhan Ende guna mendukung sekolah di wilayah Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.