Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)
Pengamat politik Selamat Ginting menilai tiga falsafah Jawa yang disampaikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) justru seperti nasihat yang sedang ditujukan kepada dirinya sendiri.
Jokowi sebelumnya menyampaikan tiga falsafah Jawa yang selama ini disebut menjadi pegangannya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat memimpin Indonesia.
Hal itu disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Tiga falsafah tersebut yakni lamun sira sekti, ojo mateni, yang berarti meskipun memiliki kesaktian atau kekuasaan, jangan menjatuhkan orang lain.
Kemudian lamun siro banter, ojo ndhisiki, yang berarti meskipun mampu bergerak cepat, jangan selalu mendahului. Terakhir, lamun sira pinter, ojo minteri, yang berarti meskipun pintar, jangan merasa paling pintar atau bersikap sok pintar.
Menurut Selamat, pesan tersebut justru menunjukkan logika terbalik jika dikaitkan dengan perjalanan politik Jokowi.
"Kalau kata lagu dangdut Meggy Z, senyum Jokowi itu membawa luka. Jadi Jokowi ini seorang delusi politik. Lihatlah pernyataannya, sesungguhnya itu adalah logika terbalik," kata Selamat lewat kanal Youtube Forum Keadilan, Rabu, 2 September 2026.
Selamat menilai tiga petuah Jawa tersebut seolah-olah merupakan percakapan Jokowi dengan dirinya sendiri.
"Tiga petuah Jawa yang disampaikan Jokowi, saya kira Jokowi ini sedang bicara dengan Joko Widodo," ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan masing-masing pesan tersebut dengan lingkaran keluarga dan politik Jokowi atau yang kerap diistilahkan sebagai dinasti Jokowi.
"Jokowi sedang bicara dengan bapaknya Gibran, Jokowi sedang berbicara dengan Ketua Umum PSI Kaesang, Jokowi sedang bicara dengan menantunya Bobby Nasution," kata Selamat.
Menurutnya, pesan mengenai tidak menjatuhkan orang lain, tidak selalu mendahului, serta tidak merasa paling pintar justru dapat dibaca sebagai nasihat Jokowi kepada lingkungan terdekatnya sekaligus kepada dirinya sendiri.
Selamat juga menyinggung sorotan publik terhadap Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, termasuk berbagai kontroversi politik yang mengiringi perjalanan kekuasaannya.
"Dan Jokowi jangan lupa sedang berbicara dengan finalis OCCRP pemimpin terkorup di dunia," ujarnya.
Karena itu, Selamat menyimpulkan bahwa tanpa disadari, Jokowi justru tengah menyampaikan nasihat kepada dirinya sendiri melalui tiga falsafah Jawa tersebut.
"Jadi bagi saya betul-betul tanpa disadari dia sedang menasihati diri sendiri," pungkas Selamat.