Berita

Seekor orang utan yang terlihat lemas akibat menghirup banyak asap akibat karhutla. (Foto: Instagram RMOL)

Nusantara

Ancaman di Balik Hilangnya Habitat Endemik dan Langka Akibat Karhutla

RABU, 02 SEPTEMBER 2026 | 02:55 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera tidak hanya mengancam tutupan hutan, tetapi juga keberlangsungan satwa endemik dan langka yang bergantung pada ekosistem tersebut. 

Hilangnya habitat, sumber makanan, dan sumber air akibat kebakaran dapat menyebabkan kematian satwa, fragmentasi habitat, hingga memicu konflik antara satwa dan manusia.

Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, menyimpulkan bahwa karhutla di Kalimantan dan Sumatera tidak terlepas dari aktivitas manusia, baik oleh korporasi maupun perorangan. 


Sebab, ia menegaskan, yang terjadi di sana bukan terbakar, melainkan dibakar.

“Pola kebakaran tersebut berulang setiap tahun, sementara upaya pencegahan cenderung belum dilakukan secara optimal. Respons pemerintah dan masyarakat sering kali baru menguat ketika kebakaran telah meluas sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya semakin besar,” tutur Mustari dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa malam, 1 September 2026.

Ia menerangkan, karhutla dapat melanda areal perkebunan, hutan sekunder, bahkan hutan primer yang menjadi habitat penting bagi satwa liar.

“Orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang dapat terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat,” ucapnya.

Mustari menjelaskan, ancaman paling langsung adalah kematian satwa akibat terbakar. Sementara itu, satwa yang berhasil menyelamatkan diri akan menghadapi hilangnya habitat, sumber makanan, dan air. 

“Mereka kemudian mencari habitat sementara, seperti hutan sekunder atau kawasan yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman,” ungkapnya. 

Lanjut dia, kondisi yang demikian itu berpotensi meningkatkan konflik satwa dengan manusia. 

“Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,” tegas Mustari.

Ia menambahkan, pemulihan ekosistem setelah karhutla tidak dapat hanya diukur dari tumbuhnya kembali vegetasi. Pemulihan jaring dan rantai makanan membutuhkan waktu sangat panjang, bahkan dapat mencapai ratusan tahun dan tidak selalu kembali seperti kondisi semula.

Karena itu, Mustari menekankan agar penegakan hukum tanpa pandang bulu, penguatan pencegahan, serta perlindungan dan perluasan habitat penting satwa melalui kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa.

“Lebih baik mencegah daripada bereaksi dan panik saat terjadi kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya lagi. 

Menurutnya, penyadartahuan publik juga perlu diperkuat karena dampak karhutla tidak hanya dirasakan satwa, tetapi juga manusia melalui gangguan terhadap kualitas udara, pangan, dan air.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya