Berita

Anggota Komisi VI DPR Zulfikar Hamonangan. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Skema Permodalan KDKMP Disorot Legislator Senayan

SELASA, 01 SEPTEMBER 2026 | 20:43 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kondisi sejumlah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang mulai menanggung cicilan dari Dana Desa meski belum memperoleh modal usaha dan belum menjalankan kegiatan operasional, disorot Anggota Komisi VI DPR Zulfikar Hamonangan.

Anggota DPR dari Dapil Banten III itu mencontohkan kondisi KDKMP di wilayah Tangerang Raya.

Berdasarkan data yang diterimanya, sekitar 350 KDKMP telah terbentuk atau berjalan. Namun, hampir separuhnya disebut belum memperoleh permodalan usaha.


“Sehingga hari ini, hampir 50 persen dari Koperasi Merah Putih yang ada belum mendapatkan permodalan usaha kepada mereka,” kata Zulfikar kepada wartawan, Selasa 1 September 2026.

Menurut Zulfikar, kondisi tersebut antara lain terjadi karena sejumlah koperasi belum menjalani survei ulang maupun belum masuk dalam pendataan secara daring untuk mendapatkan dukungan permodalan.

Di sisi lain, koperasi-koperasi tersebut sudah memasuki masa pembayaran cicilan yang bersumber dari Dana Desa. Padahal, usaha yang diharapkan menjadi sumber pendapatan koperasi belum berjalan.

“Ibarat orang sudah ambil mobil kredit, mobilnya belum datang, tapi sudah harus dibayarkan,” kata Zulfikar.

Zulfikar menilai kondisi tersebut janggal dan berpotensi membebani koperasi di tingkat desa.

“Ini aneh. Kendaraan yang belum mereka nikmati, mereka harus melakukan tahapan pembayaran pencicilan melalui Dana Desa. Ini harus diselesaikan,” kata Legislator Demokrat ini.

Selain persoalan permodalan, Zulfikar meminta Kementerian Koperasi mengalokasikan anggaran pelatihan yang secara khusus menyasar generasi muda, termasuk Generasi Z.

Menurutnya, ketertarikan anak muda terhadap koperasi masih rendah karena belum melihat prospek ekonomi maupun ruang pengembangan diri yang jelas di dalam koperasi.

“Tolonglah sisihkan kegiatan dengan pemuda yang terkait masalah koperasi, pemahaman tentang koperasi, serta peran pemuda di koperasi tersebut,” kata Zulfikar.

Zulfikar juga mendorong KDKMP tidak hanya menjadi pengecer barang dari perusahaan besar atau BUMN pangan.

Sebaliknya, koperasi harus menjadi agregator hasil produksi masyarakat desa, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan hingga perikanan.

Hasil produksi masyarakat tersebut, kata dia, semestinya ditampung dan dibeli KDKMP untuk kemudian disalurkan kepada Perum Bulog.

“Harusnya Koperasi Merah Putih-lah yang membeli produk hasil pertanian dan peternakan yang ada di tiap desa. Lalu setelah dibeli oleh Koperasi Merah Putih, dijual ke Bulog,” kata Zulfikar.

Zulfikar menilai pola tersebut akan membuat koperasi memiliki sumber usaha yang berbasis pada potensi ekonomi desa, bukan bergantung pada pasokan barang dari Bulog untuk dijual kembali kepada masyarakat.

Ia pun mengkritik apabila hubungan koperasi dan Bulog justru dibalik. Koperasi hanya menunggu distribusi beras, minyak goreng, gula, atau kebutuhan pokok lainnya dari Bulog untuk kemudian menjalankan usaha layaknya toko ritel.

“Kalau dibalik-balik prosesnya, seolah-olah fungsi Bulog seperti gudang Alfa atau gudang Indomaret,” kata Zulfikar.

Menurut Zulfikar, Bulog seharusnya menjadi pihak yang menyerap hasil produksi yang dikumpulkan Koperasi Merah Putih dari masyarakat desa.

Bulog juga dinilai perlu terlibat memberikan pembinaan kepada koperasi agar hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan masyarakat memenuhi standar kualitas pasar dan dapat diserap dalam rantai pasok pangan nasional.

Dengan skema tersebut, KDKMP tidak hanya berfungsi sebagai pengecer barang konsumsi, tetapi menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan produksi masyarakat desa dengan pasar yang lebih luas.

Zulfikar mengingatkan, apabila pengembangan Koperasi Merah Putih terlalu bertumpu pada bisnis ritel dan distribusi sembako dari Bulog, tujuan membangun kemandirian koperasi berpotensi bergeser.

“Kalau Koperasi Merah Putih hanya berjalan dalam bidang ritel, pada akhirnya Kementerian Koperasi menjadi seperti distributor ritel. Padahal yang harus kita bangun adalah kemandirian koperasi,” pungkas Zulfikar.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya