Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Surplus Beras Bukan Jaminan, GREAT Soroti Ancaman El Nino

SELASA, 01 SEPTEMBER 2026 | 12:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

GREAT Institute mengingatkan pemerintah memperkuat mitigasi produksi padi di tengah ancaman El Nino yang kini berada pada kategori sangat kuat menurut BMKG dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027.

Peringatan tersebut disampaikan dalam GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme.

GREAT menilai ketahanan pangan Indonesia saat ini lebih kuat dibanding episode El Nino 2023-2024. Namun, surplus nasional tidak otomatis menghilangkan kerentanan produksi di setiap daerah.


Data BPS mencatat produksi beras 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi domestik diproyeksikan Bapanas sebesar 31,2 juta ton. Terdapat surplus lebih dari 3,5 juta ton. Pemerintah juga tidak melakukan impor beras umum pada 2025 dan masih memproyeksikan tidak melakukan impor pada 2026.

“Produksi maupun cadangan beras kita memang masih berada dalam kategori aman. Bantalan nasional dari surplus beras 2025 bisa memberi pemerintah ruang gerak yang jauh lebih baik dibanding episode El Nino 2023-2024. Namun, ketepatan mitigasi pada produksi padi tetap diperlukan, terutama dalam mengantisipasi dampak kekeringan yang berbeda antarwilayah,” kata Ekonom GREAT Institute Dr. Hastuti dalam pernyataannya yang dikutip di Jakarta, Selasa 1 Agustus 2026.

GREAT mencatat, pada El Nino 2023-2024, enam provinsi, yakni Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Maluku, dan Maluku Utara, mengalami kontraksi produksi lebih dari 10 persen, terutama akibat berkurangnya luas panen.

Sementara itu, sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat mengalami kehilangan volume yang lebih besar secara nasional meski persentase penurunannya lebih kecil. Jawa Tengah, misalnya, kehilangan sekitar 736 ribu ton dibandingkan periode baseline.

Kondisi tersebut dinilai relevan dengan situasi saat ini. Pemantauan BMKG pada Agustus 2026 menunjukkan curah hujan rendah telah mendominasi lebih dari 90 persen wilayah Indonesia.

“Kita sudah mengetahui intensitas risiko El Nino tahun ini dan kita tidak dapat menghilangkan risiko tersebut. Fokus kita saat ini harus diarahkan pada kesiapan infrastruktur irigasi dan distribusi sarana produksi pertanian ke seluruh wilayah Indonesia. Ketepatan dalam eksekusinya menjadi semakin penting terutama bagi wilayah yang sedang memasuki periode tanam berikutnya,” ujar Hastuti.

Pemerintah telah menjalankan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, program pompanisasi, serta penyediaan pupuk bersubsidi untuk musim tanam 2026.

Selain produksi, GREAT meminta pemerintah menjaga stabilitas harga beras agar dampak El Nino tidak semakin membebani masyarakat, khususnya rumah tangga rentan.

“Kami mengimbau agar pemerintah juga fokus pada stabilitas harga beras. Kenaikan harga beras ketika risiko iklim kian terasa dapat menggeser anggaran rumah tangga ke pangan dan mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan lainnya. Tekanan tersebut akan paling berat dirasakan rumah tangga rentan karena mereka memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menyesuaikan pengeluaran,” tambah Hastuti yang juga merupakan Dosen Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan di IPB ini.

GREAT merekomendasikan pemerintah memprioritaskan Cadangan Beras Pemerintah dan sarana produksi di wilayah rentan, memperkuat pemetaan kerentanan produksi, serta meningkatkan pemantauan harga beras di tingkat daerah.

“Kinerja produksi beras adalah pencapaian penting yang memberi Indonesia posisi jauh lebih kuat dalam memasuki episode ini dibanding 2023-2024 lalu. Tapi justru karena posisi nasional sudah kuat, pemerintah tidak boleh abai terhadap kerentanan yang berbeda antarwilayah, yang kerap luput dari angka agregat, sekaligus menjaga stabilitas harga selama episode kali ini berlangsung,” pungkas Hastuti.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Thoriqoh itu Fokus ke Allah, Bukan ke Jokowi dan PSI

Selasa, 01 September 2026 | 05:52

Enam Program Prioritas Sektor Kelautan-Perikanan Jamin Kesejahteraan Masyarakat

Selasa, 01 September 2026 | 05:26

IAW Soroti Tersendatnya INA-24: Sampai Kapan Berlindung di Balik Warisan?

Selasa, 01 September 2026 | 04:53

Prabowo Terima KTA NU

Selasa, 01 September 2026 | 04:29

Onduline Siapkan Produk dan SDM Terbaik Dukung Pembangunan Sekolah Rakyat

Selasa, 01 September 2026 | 03:59

Tragedi Kelas Menengah, Terjepit dan Terlupakan

Selasa, 01 September 2026 | 03:47

Sempat 13 Hari Hilang Kontak di Laut, Awak KM El Malika Bersiap Kembali ke Rumah

Selasa, 01 September 2026 | 03:25

TNI Perkuat Penanganan Karhutla Melalui Penyuluhan

Selasa, 01 September 2026 | 02:55

Usung Konsep "Moving for Longevity", Fervid Pilates Studio Perluas Edukasi Komunitas

Selasa, 01 September 2026 | 02:42

Merawat Konsep Ekonomi-Politik Hatta

Selasa, 01 September 2026 | 02:20

Selengkapnya