Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Rupiah Ditutup Loyo ke Rp17.723 per Dolar AS, Pasar Masih Cermati Sanksi AS ke Iran

SELASA, 25 AGUSTUS 2026 | 16:55 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar Rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa, 25 Agustus 2026

Mengutip data Bloomberg, Rupiah melemah 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.723 per Dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan Rupiah hari ini turut dipengaruhi penguatan indeks Dolar AS yang menguat terutama setelah pengumuman kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran.


“Indeks Dolar AS menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi untuk memutus jalur kehidupan ekonomi Iran guna memaksa berakhirnya konflik,“ kata Ibrahim dalam riset hariannya.

Bessent menegaskan negara-negara harus memilih antara mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran atau menghadapi risiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis Dolar AS.

Menurutnya, Bessent belum menyebutkan negara mana saja yang akan menjadi sasaran sanksi. Pemerintah AS disebut masih memberikan waktu bagi negara-negara terkait untuk mematuhi arahan baru tersebut.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Washington tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer terhadap Iran.

Namun, AS saat ini lebih mengandalkan tekanan ekonomi. Kondisi tersebut dinilai ikut meredakan kekhawatiran pasar terhadap ancaman gangguan pasokan minyak Timur Tengah akibat konflik.

Selain konflik Timur Tengah, pasar juga mencermati kebijakan fiskal AS. Bessent menyatakan kesiapan memperluas pembelian kembali utang pemerintah berjangka panjang.

Ia juga mengatakan pemerintah AS akan segera meluncurkan inisiatif fiskal untuk mengatasi tingginya biaya pinjaman pemerintah.

"Investor menantikan data inflasi AS mendatang dan pidato pertama Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole," jelas Ibrahim.

Lanjut dia, data inflasi AS akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar dalam membaca arah kebijakan The Fed.

"Kondisi inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi akan kebijakan The Fed yang lebih longgar," tandasnya.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya