Berita

Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun (kanan) Foto: Istimewa)

Olahraga

Final Soekarno Cup 2026, Gotong Royong Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT

SENIN, 24 AGUSTUS 2026 | 13:57 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Final Soekarno Cup 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi talenta muda sepak bola Indonesia, tetapi juga momentum memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian kemanusiaan di kalangan generasi muda.

Turnamen yang diinisiasi Prananda Prabowo tersebut mempertemukan 400 talenta muda dari 16 provinsi. Rangkaian kompetisi ditutup dengan penyerahan dana gotong royong kemanusiaan untuk membantu korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun, mengatakan dana tersebut dihimpun melalui gerakan penggalangan gotong royong yang melibatkan berbagai pihak selama pelaksanaan Soekarno Cup 2026.


Menurutnya, penyerahan dana kemanusiaan menjadi bagian penting dalam penutupan turnamen. Hal itu sekaligus menegaskan bahwa sepak bola tidak hanya berbicara mengenai pertandingan, kemenangan, dan prestasi.

“Soekarno Cup yang telah rutin digelar sejak 2023 di Jakarta, 2025 di Bali, 2026 di Jawa Timur, dan ke depan terus kami gelar, diikhtiarkan untuk mencari talenta muda akar rumput dari berbagai pelosok Tanah Air sekaligus membangun karakter generasi muda bahwa sepak bola harus menjadi kekuatan yang mempersatukan dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Komarudin sebelum pertandingan final Soekarno Cup di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin 24 Agustus 2026.

Final Soekarno Cup 2026 mempertemukan Banteng Jabar U-17 dan Banteng Bali U-17. Sementara perebutan peringkat ketiga mempertemukan Banteng Jatim U-17 dan Banteng Papua U-17.

Komarudin menegaskan, pengumpulan dana solidaritas untuk korban gempa NTT merupakan wujud nyata semangat gotong royong. Menurutnya, nilai aksi tersebut tidak hanya diukur dari jumlah dana yang terkumpul, tetapi juga dari pesan kemanusiaan yang ditanamkan kepada generasi muda.

“Ketika saudara-saudara kita di NTT mengalami bencana, kita semua harus merasa terpanggil untuk membantu. Inilah makna gotong royong yang sesungguhnya. Bersama-sama meringankan beban saudara kita tanpa melihat perbedaan daerah dan latar belakang,” ujarnya.

Juru Bicara Soekarno Cup sekaligus legenda Timnas Indonesia, Anang Ma'ruf, menilai perpaduan pembinaan sepak bola dan aksi kemanusiaan memberikan pesan penting bagi para pemain muda.

Menurut mantan bek kanan Timnas Indonesia itu, 400 pemain dari 16 provinsi yang mengikuti Soekarno Cup tidak hanya membawa mimpi menjadi pesepak bola profesional, tetapi juga mendapatkan pelajaran mengenai arti menjadi bagian dari masyarakat dan bangsa.

“Anak-anak ini belajar bahwa menjadi pemain sepak bola bukan hanya soal kemampuan teknik. Ada nilai tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian. Ketika mereka ikut bergotong royong membantu korban gempa di NTT, mereka sedang belajar menjadi manusia Indonesia yang sesungguhnya,” kata Anang.

Ia menambahkan, sepak bola memiliki kekuatan besar untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah. Perbedaan asal, suku, dan lingkungan, kata Anang, justru dapat disatukan melalui permainan yang sama.

“Dari 16 provinsi mereka datang sebagai anak-anak daerah, tetapi di lapangan mereka menjadi satu sebagai anak Indonesia. Semangat yang sama kemudian kita bawa keluar lapangan melalui aksi kemanusiaan ini,” ujarnya.

Karena itu, Soekarno Cup tidak hanya ditempatkan sebagai ajang kompetisi sepak bola, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda. Kompetisi menjadi sarana untuk belajar tentang sportivitas, disiplin, persatuan, sekaligus kepedulian sosial.

“Soekarno Cup pun menempatkan sepak bola sebagai ruang pembentukan karakter. Kompetisi menjadi sarana bagi generasi muda untuk belajar tentang sportivitas, disiplin, persatuan, sekaligus kepedulian sosial,” demikian Anang Ma'ruf.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya