Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat, Sabtu 22 Agustus 2026. (Foto: Akun YouTube SekretariatKabinet)
TERIMA kasih untuk influencer dari luar Kalimantan Barat (Kalbar) banyak menyuarakan keprihatinan. Kalbar memang dipenuhi asap.
Presiden Prabowo Subianto sudah turun langsung. Ia juga sudah kerahan ribuan personel TNI untuk ikut memadamkan api. Sebagai warga Bumi Khatulistiwa, hanya bisa pasrah.
Perlu diketahui, pada pagi hari, jarak pandang tinggal 400-800 meter. Sebanyak 21 penerbangan di Bandara Supadio Pontianak tertunda pada 18-21 Agustus 2026. Pesawat seperti ikut trauma menembus kabut lebih pekat dari janji penanganan.
Pada 22 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto meninjau titik api di Desa Limbung, Kubu Raya, tanpa masker. Laporan resmi mencatat 198
hotspot tingkat kepercayaan tinggi, 3.100 tingkat menengah, dan 406 tingkat rendah dalam 24 jam. Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara menjadi wilayah paling ganas.
Api seolah berkata, “Selamat datang, Pak Presiden. Saya sudah menunggu.”
Tiga batalion TNI, sekitar 1.500 personel dari luar Kalimantan, dikerahkan. Helikopter
water bombing ditambah. Operasi modifikasi cuaca kembali dijanjikan.
Semua bergerak cepat. Tapi api gambut punya filosofi sendiri, kecil di permukaan, besar penderitaannya. Yang terbakar bukan cuma hutan. Ada manusia yang ikut menjadi abu.
Taufik Hidayat (26) ditemukan hangus di Jalan Poros Sungai Pelang–Tumbang Titi, Ketapang. Ia nekat menerobos asap saat pulang kerja. Kekurangan oksigen, terjatuh, lalu terbakar di sisi jalan yang dikepung api.
Ada rumah yang menunggu. Ada keluarga yang menunggu. Tetapi jalan pulang hari itu berubah menjadi jalan terakhir.
Di Rasau Jaya, Kubu Raya, Kasim (65), penjaga kebun, juga meninggal setelah ikut membantu pemadaman. Ia ditemukan tertelungkup dan diduga mengalami serangan jantung di tengah kepulan asap.
Ia datang membantu memadamkan api. Justru napasnya yang padam.
Sejak Januari 2026, lebih dari 151 ribu kasus ISPA tercatat di Kalimantan Barat. Di Ketapang, kasus meningkat dari 587 menjadi 673 dalam tiga pekan.
Secara lebih luas, lebih dari tiga juta orang di tujuh provinsi terpapar langsung, sementara ISPA melonjak hingga 78 persen di beberapa wilayah.
Asap ternyata tidak mengenal paspor, apalagi KTP. Di Sarawak, pemerintah Malaysia sampai menutup sementara hampir 600 sekolah pada 20-21 Agustus 2026. Sekitar 509 SD dan 82 sekolah menengah. Hampir 200.000 siswa terdampak, 107.590 siswa SD dan 89.733 siswa SMP/SMA.
Itu merupakan penutupan kedua pada Agustus akibat kabut asap. Pembelajaran dialihkan ke rumah dan daring demi melindungi kesehatan anak-anak. Api mungkin berkobar di Kalbar. Tetapi anak-anak Sarawak ikut membayar tagihannya.
Batas negara ada di peta. Asap tidak peduli. Puskesmas dan rumah sakit dibuka 24 jam. Posko bencana asap didirikan. Oksigen dan masker disiapkan. Fasilitas kesehatan berubah menjadi benteng terakhir antara hidup dan sesak napas.
Rumah warga mungkin tidak ludes massal. Kendaraan pun relatif aman. Namun asap jauh lebih licik. Ia tidak perlu membakar rumah untuk menyiksa penghuninya. Cukup masuk lewat hidung. Lalu paru-paru yang membayar.
Anak-anak belajar
daring, penerbangan tertunda, warga diminta berdiam diri, sementara semua menunggu hujan.
Dalam kaidah fikih ada prinsip
dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, mencegah kerusakan harus didahulukan dari menarik kemaslahatan. Sayangnya, kaidah sering terdengar indah di mimbar, tetapi terasa terlambat ketika asap sudah masuk ruang tamu.
Isu Haji Isam sebagai koordinator penanganan karhutla sempat viral, lalu dibantah Istana. Semua pihak diminta membantu, tetapi bukan sebagai koordinator. Kabut informasi datang dan pergi. Kabut asap tetap tinggal.
Luas lahan terbakar di Kalbar sudah mencapai puluhan ribu hektare. Gambut terbakar sedikit, asapnya bisa seperti produksi pabrik.
Kalbar kaya hutan, kaya gambut, kaya sumber daya. Tetapi hari ini ada satu kekayaan yang terasa paling mahal, udara bersih. Warga tidak meminta istana. Tidak meminta karpet merah. Mereka hanya meminta sesuatu mestinya gratis.
Tolong, beri kami napas. Di tanah katanya kaya itu, warga akhirnya hanya meminta sesuatu paling sederhana kepada langit, tolong, beri kami napas.
Rosadi JamaniMantan wartawan