Berita

Ilustrasi Cara Cek Titik Api Karhutla di Kalimantan (Sumber: SiPongi+ Kementerian Kehutanan)

Nusantara

Cara Cek Titik Api Karhutla di Kalimantan, Pantau Hotspot Lewat 3 Layanan Ini

SABTU, 22 AGUSTUS 2026 | 09:41 WIB | OLEH: TIFANI

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tengah menjadi perhatian masyarakat. Tagar #PrayForKalimantan ramai berseliweran di media sosial setelah warganet menemukan sejumlah penanda severe fire atau kebakaran parah di berbagai wilayah Kalimantan melalui Google Maps.

Mengutip data BNPB, jumlah hotspot atau titik panas di Kalimantan mencapai 1.487 titik. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 767 titik.

Selanjutnya, terdapat 560 titik di Kalimantan Barat, kemudian masing-masing 74 titik di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, serta 3 titik di Kalimantan Utara. Dampak karhutla juga terlihat dari kondisi udara di sejumlah wilayah. 


Kualitas udara di Palangka Raya dilaporkan mencapai AQI 487 atau masuk kategori berbahaya. Sementara jarak pandang di beberapa wilayah dilaporkan hanya sekitar 1,4 kilometer.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dapat ikut memantau persebaran titik panas melalui sejumlah layanan pemantauan yang tersedia. Lantas, bagaimana cara cek titik api karhutla di Kalimantan?

Cara Cek Titik Api Karhutla di Kalimantan

Ada beberapa layanan yang bisa digunakan untuk melihat persebaran hotspot maupun informasi kebakaran hutan, mulai dari layanan resmi pemerintah hingga Google Maps. Berikut cara cek titik api karhutla di Kalimantan:

1. SiPongi+ Kementerian Kehutanan

Salah satu sumber yang dapat digunakan untuk memantau titik api karhutla di Kalimantan adalah SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut). SiPongi+ merupakan sistem pemantauan karhutla yang menyediakan informasi mengenai hotspot terkini serta berbagai informasi terkait kebakaran hutan dan lahan.

Untuk melihat persebaran titik panas, masyarakat dapat mengakses laman SiPongi+ dan memilih wilayah yang ingin dipantau.

Cara cek hotspot karhutla melalui SiPongi+: Pada peta SiPongi+, warna titik menunjukkan tingkat confidence atau tingkat kepercayaan terhadap hotspot yang terdeteksi. Meski demikian, tingkat kepercayaan yang tinggi tidak otomatis berarti titik tersebut merupakan kebakaran yang sedang berlangsung. Data satelit tetap perlu dibandingkan dengan informasi lain dan, jika diperlukan, diverifikasi melalui pengecekan di lapangan.

2. Citra Polar Hotspot BMKG

Selain SiPongi+, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan Citra Polar Hotspot BMKG untuk melihat deteksi titik panas di wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan. Layanan ini menggunakan citra satelit untuk membantu memantau hotspot. 

Pengamatan dilakukan pada siang dan malam hari menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada sejumlah satelit polar. Cara cek titik panas melalui BMKG: Dalam membaca data BMKG, masyarakat perlu memperhatikan lokasi, persebaran, serta waktu pengamatan. BMKG menjelaskan bahwa hotspot merupakan anomali suhu panas yang dideteksi satelit dibandingkan dengan kondisi di sekitarnya.

Namun, kemampuan satelit dalam mendeteksi titik panas memiliki keterbatasan. Hotspot tidak dapat terdeteksi pada wilayah yang tertutup awan atau berada di blank zone.

Artinya, tidak adanya titik hotspot pada peta bukan berarti suatu wilayah pasti terbebas dari karhutla.

3. Google Maps

Google Maps juga dapat digunakan sebagai sumber informasi tambahan untuk memantau kebakaran yang sedang berlangsung. Fitur ini berbeda dengan SiPongi+ dan Citra Polar Hotspot BMKG. 

Jika kedua layanan tersebut menampilkan informasi hotspot berdasarkan deteksi satelit, Google Maps menampilkan informasi mengenai wildfires atau kebakaran hutan yang sedang berlangsung. Cara cek kebakaran hutan di Google Maps: Pada Google Maps, informasi kebakaran dapat muncul dalam bentuk ikon kebakaran maupun area berwarna pada peta. Area merah menunjukkan perkiraan wilayah yang terdampak kebakaran aktif, sementara area kuning menunjukkan wilayah dengan tingkat kepastian yang lebih rendah.

Google menggabungkan informasi dari sejumlah sumber, termasuk data otoritas dan satelit, serta menggunakan teknologi AI dan machine learning untuk membantu mendeteksi dan memantau kebakaran. Meski begitu, informasi yang ditampilkan Google Maps tetap bersifat perkiraan. Batas area kebakaran pada peta tidak selalu sama dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Apa Bedanya Hotspot dan Kebakaran?

Masyarakat juga perlu memahami bahwa hotspot tidak selalu sama dengan kebakaran. Hotspot merupakan titik panas yang terdeteksi oleh satelit berdasarkan adanya anomali suhu di suatu wilayah. 

Karena itu, kemunculan satu atau beberapa titik panas belum dapat dijadikan bukti mutlak bahwa sedang terjadi kebakaran besar. Tingkat kepercayaan pada data hotspot juga perlu diperhatikan. 

Semakin tinggi tingkat kepercayaannya, semakin besar indikasi bahwa terdapat anomali panas yang terdeteksi di lokasi tersebut, tetapi tetap membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya