SURAH Al-Waqi’ah barangkali merupakan salah satu surah Al-Qur’an yang paling sering dibaca dengan satu harapan sederhana yaitu kelancaran rezeki.
Di banyak tempat, surah tersebut dikenal sebagai surat rezeki, dibaca selepas salat atau pada waktu-waktu tertentu dengan keyakinan akan keberkahan dan kelapangan hidup.
Keyakinan semacam itu tentu tidak perlu dipersoalkan selama ia ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar spiritual. Namun, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perkara rezeki yang sering luput ketika Al-Waqi’ah dibaca hanya sebagai “surat kekayaan”.
Al-Waqi’ah sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar yaitu tentang bagaimana manusia memandang kehidupan, kematian, kekayaan, kekuasaan, alam, dan dirinya sendiri.
Surah ke-56 dalam Al-Qur’an ini merupakan surah Makkiyah. Ia turun dalam fase ketika Nabi Muhammad SAW berhadapan dengan masyarakat yang sedang mengalami pergulatan serius mengenai tauhid, kehidupan setelah kematian, serta tatanan sosial yang menjadikan kekayaan, keturunan dan kekuasaan sebagai sumber kemuliaan.
Karena itu, Al-Waqi’ah tidak sekadar berbicara tentang apa yang akan terjadi setelah dunia berakhir. Ia juga sedang menggugat cara manusia menjalani kehidupan sebelum akhir itu tiba.
Ketika Manusia Merasa Dunia akan SelamanyaNama Al-Waqi’ah berarti “peristiwa yang pasti terjadi”. Ia merujuk pada Hari Kiamat, sebuah peristiwa yang dalam pandangan Al-Qur’an tidak mungkin dihindari.
Surah ini dibuka dengan gambaran tentang bumi yang diguncangkan dan gunung-gunung yang dihancurkan. Sesuatu yang selama ini dianggap paling kokoh ternyata tidak memiliki kekekalan.
Pesannya sederhana, tetapi secara psikologis sangat dalam yaitu tidak ada sesuatu pun di dunia yang benar-benar permanen. Manusia modern hidup dengan ilusi sebaliknya.
Kita mengumpulkan harta seolah memiliki waktu yang tidak terbatas. Kita mengejar jabatan seolah kekuasaan dapat memperpanjang usia. Kita membangun reputasi seolah nama kita akan dikenang selamanya. Kita mempertahankan status sosial seolah kedudukan merupakan identitas yang tidak akan pernah runtuh.
Padahal, kematian adalah batas paling demokratis dalam kehidupan manusia. Ia tidak mengenal jabatan, kekayaan, popularitas, ataupun keturunan. Di hadapan kematian, manusia akhirnya kembali menjadi manusia.
Kesadaran semacam inilah yang secara psikologis ingin dibangun Al-Waqi’ah, yaitu melepaskan manusia dari keterikatan berlebihan terhadap dunia.
Bukan agar manusia membenci dunia, melainkan agar manusia tidak diperbudak olehnya.
Ketika Ukuran Kemuliaan DibalikAl-Waqi’ah kemudian berbicara tentang tiga kelompok manusia yaitu
as-sabiqun, ashabul yamin, dan
ashabusy syimal. Pembagian ini menarik jika dibaca dalam konteks sosial.
Masyarakat manusia selalu menciptakan hierarki. Ada yang dianggap tinggi karena keturunan, ada yang dihormati karena kekayaan, ada yang ditakuti karena kekuasaan, dan ada pula yang dipandang rendah karena kemiskinan.
Al-Qur’an menawarkan ukuran yang berbeda. Pada akhirnya, manusia tidak dinilai berdasarkan seberapa mahal pakaian yang dikenakan, seberapa besar rumah yang dimiliki, seberapa tinggi jabatan yang diduduki, atau seberapa banyak pengikut yang dimiliki di media sosial. Yang menjadi ukuran adalah amal dan kedekatannya kepada Allah.
Dengan demikian, Al-Waqi’ah seperti sedang melakukan pembalikan terhadap logika status sosial manusia. Apa yang dianggap tinggi oleh manusia belum tentu tinggi di hadapan Tuhan. Dan apa yang dianggap rendah oleh manusia belum tentu rendah di hadapan Tuhan.
Inilah salah satu pesan sosial yang sangat relevan untuk zaman sekarang.
Ketika Harta Berubah Jadi Ukuran ManusiaKita hidup di tengah masyarakat yang semakin mudah mengukur keberhasilan berdasarkan kepemilikan. Orang kaya dianggap berhasil. Orang miskin dianggap gagal.
Mobil menjadi simbol kelas sosial. Rumah menjadi simbol keberhasilan. Jabatan menjadi simbol kehormatan. Bahkan media sosial telah menciptakan arena baru tempat manusia berlomba mempertontonkan gaya hidup.
Yang diperebutkan bukan hanya kekayaan, tetapi juga pengakuan atas kekayaan.
Di sinilah Al-Waqi’ah menjadi sangat relevan. Islam tidak mengharamkan kekayaan. Islam tidak menyuruh manusia hidup dalam kemiskinan. Yang dikritik adalah ketika manusia menjadikan harta sebagai pusat kehidupan dan menjadikan kepemilikan sebagai ukuran harga diri.
Persoalannya bukan apakah kita memiliki harta. Persoalannya adalah apakah harta telah memiliki kita.
Sebab ketika uang menjadi pusat orientasi hidup, manusia perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keserakahan, antara kesejahteraan dan kemewahan, antara keberhasilan dan kesombongan.
Al-Waqi’ah mengingatkan bahwa seluruh kepemilikan itu pada akhirnya akan ditinggalkan.
Rezeki Bukan Sekedar soal JumlahKarena itu, membaca Al-Waqi’ah hanya dengan kacamata “agar kaya” terasa terlalu sempit. Ada riwayat yang populer mengenai keutamaan membaca Al-Waqi’ah untuk terhindar dari kefakiran. Namun riwayat tersebut diperselisihkan kekuatan
sanadnya oleh para ulama hadis. Karena itu, tidak tepat menjadikan Al-Waqi’ah sebagai formula matematis bahwa membaca surat tersebut otomatis akan membuat seseorang kaya.
Yang lebih penting adalah pesan Qur’an-nya tentang rezeki. Di bagian akhir, Al-Waqi’ah mengajak manusia merenungkan air, tanaman dan api. Manusia ditanya mengenai siapa yang sebenarnya menumbuhkan tanaman dan menurunkan air.
Pertanyaan tersebut menyentuh persoalan yang sangat mendasar, siapa sebenarnya pemilik kehidupan?
Manusia memang bekerja. Manusia menanam, berdagang, membangun perusahaan dan mengembangkan teknologi. Tetapi manusia tidak menciptakan hukum-hukum kehidupan yang memungkinkan semua itu terjadi.
Kita tidak menciptakan hujan. Kita tidak menciptakan benih. Kita tidak menciptakan tanah. Kita tidak menciptakan tubuh kita sendiri. Maka apa yang kita sebut sebagai “milik saya” pada akhirnya hanyalah sesuatu yang berada dalam batas-batas amanah.
Di sinilah konsep rezeki dalam Al-Waqi’ah menjadi jauh lebih luas daripada sekadar uang. Rezeki adalah sesuatu yang diterima manusia untuk dikelola dan dipertanggungjawabkan.
Dari Kepemilikan Menuju Amanah EkologisPesan tersebut bahkan dapat dibaca dalam konteks krisis lingkungan hari ini. Manusia modern sering bertindak seolah bumi adalah gudang tanpa batas. Hutan ditebang, gunung dikeruk, sungai dicemari dan tanah dieksploitasi atas nama pembangunan. Masalahnya bukan semata-mata pembangunan.
Masalahnya adalah ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa alam bukan milik mutlak manusia. Al-Waqi’ah mengajak manusia kembali melihat sumber-sumber kehidupan yang paling elementer air, tanaman, tanah dan api.
Jika manusia sadar bahwa ia bukan pencipta alam, maka seharusnya lahir sikap yang berbeda terhadap alam. Bukan eksploitasi tanpa batas, melainkan pengelolaan yang bertanggung jawab.
Bukan keserakahan, melainkan keberlanjutan. Bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlangsungan kehidupan.
Dalam konteks ini, Al-Waqi’ah dapat dibaca sebagai salah satu fondasi penting bagi etika ekologis Islam: manusia adalah khalifah sekaligus makhluk yang bergantung kepada alam.
Politik Kekuasaan yang SementaraPesan Al-Waqi’ah juga relevan dalam kehidupan politik. Kekuasaan sering membuat manusia merasa dirinya tidak tersentuh. Jabatan melahirkan privilese. Kekuasaan menciptakan jarak. Kekayaan membangun rasa superioritas.
Tetapi Al-Waqi’ah menghadirkan satu kenyataan yang menghancurkan seluruh kesombongan tersebut yaitu kematian.
Di hadapan kematian, presiden dan rakyat biasa sama-sama kehilangan jabatan. Pengusaha dan buruh sama-sama meninggalkan harta. Orang terkenal dan orang yang tidak dikenal sama-sama kembali kepada Tuhan.
Karena itu, Al-Waqi’ah sesungguhnya mengandung kritik terhadap kesombongan kekuasaan. Kekuasaan manusia selalu sementara.
Maka kekuasaan seharusnya tidak digunakan untuk memperbesar ego, melainkan untuk memperluas kemaslahatan.
Membaca Al-Waqi'ah dengan Kesadaran BaruBarangkali inilah cara yang lebih utuh untuk membaca Al-Waqi’ah. Ia bukan sekadar surat yang dibaca agar rezeki bertambah. Ia adalah surat yang mengajarkan manusia bagaimana seharusnya memperlakukan rezeki.
Ia bukan sekadar surat tentang kematian. Ia mengajarkan bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan sebelum kematian.
Ia bukan sekadar berbicara tentang akhirat. Ia sedang mengoreksi cara manusia membangun kehidupan dunia.
Kepada orang kaya, Al-Waqi’ah berkata jangan sombong. Kepada orang miskin jangan merasa hina. Kepada penguasa kekuasaanmu sementara. Kepada pemilik modal hartamu adalah amanah. Kepada manusia yang mengeksploitasi alam engkau bukan pencipta bumi. Dan kepada seluruh manusia, ia mengingatkan apa pun yang hari ini kita banggakan, pada akhirnya akan kita tinggalkan.
Maka persoalan terbesar manusia bukanlah berapa banyak yang berhasil ia kumpulkan sebelum mati. Persoalan yang lebih penting adalah untuk apa semua yang ia miliki digunakan selama ia hidup?
Di tengah zaman yang semakin materialistis, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting. Sebab mungkin kita tidak sedang mengalami krisis kekayaan. Tapi kita sedang mengalami krisis makna.
Kita memiliki lebih banyak barang, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak ketenangan. Kita memiliki lebih banyak teknologi, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak kebijaksanaan. Kita memiliki lebih banyak kekayaan, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak kemanusiaan.
Al-Waqi’ah hadir untuk mengingatkan bahwa kehidupan tidak selesai pada apa yang tampak.
Ada sesuatu setelah dunia. Ada pertanggungjawaban setelah kekuasaan. Ada perhitungan setelah kekayaan. Dan ada kehidupan setelah kematian.
Karena itu, membaca Al-Waqi’ah semestinya bukan hanya membuat kita berharap mendapatkan lebih banyak rezeki. Lebih dari itu, ia seharusnya membuat kita bertanya, Jika semua yang saya miliki hanyalah titipan, sudahkah saya menjadi manusia yang layak dipercaya untuk menerimanya?
Barangkali di situlah Al-Waqi’ah menemukan relevansinya bagi manusia modern. Ia tidak mengajarkan kita bagaimana menjadi kaya. Ia mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sulit tentang bagaimana memiliki kekayaan tanpa diperbudak olehnya, memiliki kekuasaan tanpa menjadi angkuh karenanya, menikmati dunia tanpa melupakan akhirat, dan memanfaatkan alam tanpa menghancurkannya.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan dinilai dari seberapa banyak dunia yang berhasil ia miliki. Melainkan dari seberapa besar kebaikan yang ia tinggalkan ketika dunia tidak lagi menjadi miliknya.
Teguh Pati AjidarmaWasekjen PB PMII Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan