Berita

Ilustrasi tokoh penentu pemilihan presiden Indonesia. (Foto: artificial intelligence)

Politik

Pertarungan Para King Maker dan Super-Konektor Belakang Layar Pilpres 2029

JUMAT, 21 AGUSTUS 2026 | 18:29 WIB | OLEH: DIKI TRIANTO

Konsolidasi politik dan pemetaan kekuatan politik nasional mulai memperlihatkan persaingan sengit kendati gelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 masih beberapa tahun mendatang.

Medan pertempuran politik tidak hanya menjadi panggung bagi para kandidat elektoral, melainkan panggung penentuan bagi jajaran king maker, elite partai, hingga peretas jalan sumber daya di belakang layar.

Berdasarkan analisis politik kekinian, gravitasi utama masih berpusat pada Prabowo Subianto sebagai petahana.


Namun yang tidak bisa diabaikan, konstelasi politik bisa bergeser dinamis mengikuti pertarungan peran para king maker yang mengunci tiket, membentuk aliansi, dan menyusun arah koalisi.

Pengendali Tiket dan Arah Poros

Peran king maker dalam pesta demokrasi lima tahunan sekelas Pilpres hampir selalu ada. Sebut saja di Pilpres 2024, sejumlah tokoh ketua umum partai politik hingga mantan presiden dan wakil presiden disebut punya andil besar dalam menyuguhkan kandidat.

Melihat perkembangan perpolitikan saat ini, king maker 2029 diprediksi tidak akan jauh berbeda dengan Pilpres 2024. Sebut saja Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla, Surya Paloh, hingga Joko Widodo (Jokowi).

Peta king maker 2029 bisa terbagi dalam beberapa kategori utama, mulai dari pimpinan partai politik, figur senior (elder statesmen), hingga super-konektor di bidang bisnis dan keamanan.

Megawati sudah jelas akan memegang kendali penuh atas tiket dari PDIP, apakah akan membangun poros sendiri atau bergabung dengan koalisi.

Dari jejaring mantan presiden, ada SBY dan Jokowi yang bisa memegang pengaruh legitimasi dan pendukung. Jokowi belakangan sudah blak-blakan terus menggalang pengaruh via kekuatan relawan dan posisi Gibran Rakabuming Raka di istana, sedangkan SBY mengamankan posisi Demokrat serta bisa memberi legitimasi bagi putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Selanjutnya ada broker elite dan senior. Di sini, Surya Paloh selain menjadi Ketum Nasdem juga sebagai pemilik media yang punya posisi tawar tinggi. Kombinasi kekuatan mesin partai dan jaringan media bisa saja menentukan terbentuknya poros tengah atau pengalihan oposisi.

Sementara itu ada nama politisi gaek sekelas Jusuf Kalla (JK). JK bisa berperan menjadi broker senior penyeimbang elite bisnis dan legitimasi politik kawasan Indonesia Timur.

Yang tidak bisa diabaikan juga king maker belakang layar, sekelas Luhut Binsar Panjaitan. Ia bisa menjadi super-konektor yang menghubungkan elite bisnis, investor, dan keamanan.

Di luar dari manuver para king maker ini, dinamika 6 hingga 18 bulan ke depan akan sangat ditentukan oleh kepastian revisi UU Pemilu, aturan syarat pengusungan capres, performa ekonomi, serta manuver penetapan cawapres dari masing-masing poros koalisi.

Publik kini tinggal menunggu bagaimana manuver cerdik para king maker ini dalam menyusun strategi, meracik koalisi, hingga akhirnya menyuguhkan pasangan calon terbaik yang akan resmi bertarung di panggung Pilpres 2029, serta berapa banyak pasang calon yang kelak berhasil melenggang ke kertas suara.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Dokumen dan BBE Usai Geledah Rumah Mewah Anggota Polri Yayat Sudrajat

Kamis, 10 September 2026 | 20:17

Pendalaman Fakta dan Penegakan Hukum Transparan Diperlukan di Kasus DJKA

Kamis, 10 September 2026 | 20:12

Tim 9 Kejagung Temukan Bukti Pemerasan Febrie di Kasus Jiwasraya

Kamis, 10 September 2026 | 20:05

Konsisten Perkuat Investasi Berkelanjutan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Kamis, 10 September 2026 | 19:58

Waketum Golkar: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 19:50

Rombak Ratusan Pejabat, Purbaya Minta Kemenkeu Bergerak Lebih Cepat

Kamis, 10 September 2026 | 19:40

Iwakum Dorong Pengerahan Maksimal Cari Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 | 19:31

Menyoal Kasus Dadan Cs, JMI: Jangan Ramai di Awal, Lalu Hilang di Tengah Jalan

Kamis, 10 September 2026 | 19:14

Polisi Siap Sikat Penimbun Masker di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 | 19:01

Pembagian 50:50 Kuota Haji Tambahan Ternyata Kebijakan Gus Yaqut

Kamis, 10 September 2026 | 18:45

Selengkapnya