Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Saham Adidas Tertekan di Tengah Kekhawatiran Pasar AS

JUMAT, 21 AGUSTUS 2026 | 10:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Saham Adidas kembali tertekan di tengah pelemahan belanja konsumen di Amerika Serikat (AS), persaingan harga, dan kekhawatiran terhadap keuntungan menjadi perhatian investor.

Pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026, saham Adidas di bursa Eropa ditutup di 151 Euro, turun 3,14 persen dari hari sebelumnya.

Penurunan terjadi setelah pesaing Adidas, JD Sports, memangkas proyeksi pendapatannya. Kabar tersebut memicu aksi jual di sektor olahraga dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap melemahnya belanja konsumen, terutama di AS.


Bagi Adidas, kondisi pasar AS menjadi perhatian karena permintaan yang melemah dan persaingan harga telah menekan kinerja perusahaan di kawasan tersebut. Saham Adidas juga sudah melemah dalam beberapa pekan terakhir meski perusahaan sebelumnya menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya.

Investor kini juga menyoroti margin keuntungan Adidas. Perusahaan akan memasuki masa transisi kepemimpinan keuangan setelah Birgit Kretschmer bergabung dengan jajaran direksi pada 1 September dan menggantikan Harm Ohlmeyer sebagai CFO pada akhir tahun.

Meski menghadapi tekanan, terdapat sinyal positif dari internal perusahaan. CEO Adidas Bjørn Gulden membeli 3.212 saham Adidas pada akhir Juli dengan harga rata-rata 158,93 Euro per saham, dengan nilai transaksi sekitar 508.000 Euro.

Adidas juga masih menjalankan program pembelian kembali saham. Sementara itu, RBC Capital Markets tetap memberikan penilaian positif terhadap saham Adidas dan melihat peluang pertumbuhan di AS serta tanda-tanda stabilisasi di China.

Namun, UBS masih melihat risiko dari persaingan yang ketat, terutama di pasar sepatu lari. Kondisi tersebut membuat investor masih berhati-hati meski prospek penjualan Adidas tetap cukup kuat.

Pergantian CFO pada September dan laporan kinerja kuartal III pada 29 Oktober akan menjadi perhatian berikutnya. Investor akan melihat apakah Adidas mampu mempertahankan pertumbuhan penjualan sekaligus memperbaiki keuntungan perusahaan.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya