Berita

Ilustrasi. (Foto: Humas BRI)

Bisnis

BRI Jaga Pertumbuhan Berkualitas Lewat Prinsip Kehati-hatian Penyaluran Kredit

JUMAT, 21 AGUSTUS 2026 | 02:50 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga momentum pertumbuhan kredit dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang disiplin. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memastikan ekspansi bisnis berjalan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian.

Sebagai bank dengan fokus utama pada pemberdayaan segmen UMKM, BRI memandang pertumbuhan kredit tidak semata-mata diukur dari besarnya penyaluran pembiayaan, tetapi juga dari kualitas kredit yang dihasilkan. Oleh karena itu, setiap proses penyaluran kredit dilakukan dengan mempertimbangkan profil risiko debitur, prospek usaha, kemampuan membayar, serta kondisi sektor dan industri yang dibiayai.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengungkapkan bahwa prinsip kehati-hatian menjadi fondasi dalam setiap keputusan penyaluran kredit BRI. Penguatan kualitas aset dilakukan sejak tahap awal melalui proses underwriting yang disiplin, pemantauan kualitas kredit secara berkelanjutan, serta penerapan sistem early warning untuk mengidentifikasi potensi risiko sedini mungkin.


“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas. Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ety dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.

Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, BRI menerapkan pendekatan yang selektif dengan mempertimbangkan karakteristik risiko pada setiap segmen dan sektor ekonomi. 

BRI juga terus menyempurnakan  kebijakan perkreditan serta mekanisme monitoring portofolio agar tetap relevan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan profil risiko. Pendekatan tersebut memungkinkan BRI menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan tingkat risiko yang dapat diterima oleh bank.

Di sisi lain, pengelolaan risiko tidak berhenti setelah kredit disalurkan. BRI melakukan pemantauan portofolio secara berkala melalui pendekatan berbasis data untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur maupun potensi tekanan pada sektor tertentu.

“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” lanjut Ety.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting mengingat portofolio BRI yang didominasi segmen UMKM dengan karakteristik nasabah yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia. Dengan basis data dan pengalaman panjang di segmen UMKM, BRI terus meningkatkan kemampuan dalam memahami karakteristik dan profil risiko nasabah secara lebih granular.

Sebagai informasi, perbaikan kualitas aset BRI tersebut tercermin dari rasio NPL yang membaik secara Quarter on Quarter (qoq) dari posisi akhir Desember 2025 sebesar 3,07 persen menjadi 3,01 persen pada Maret 2026. Selain itu, salah satu indikator risiko kredit yang lebih forward-looking, yaitu rasio Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Rasio LaR turun dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen di Maret 2026, atau turun 145 basis poin.

BRI juga secara konsisten menjaga kecukupan pencadangan dan permodalan sebagai bagian dari mitigasi risiko serta bantalan untuk menghadapi berbagai potensi tekanan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan fundamental perseroan tetap kuat dalam mendukung ekspansi bisnis ke depan. 

Hal ini tercermin dari rasio NPL Coverage yang terjaga pada 179,45 persen dan rasio LaR Coverage pada 55,75 persen. Konsistensi tren yang stabil untuk dua rasio tersebut menggambarkan kedisiplinan dalam menjaga tingkat pencadangan risiko sebagai bagian dari implementasi manajemen risiko yang prudent.
 


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya