Peresmian Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi dibentuk pada Kamis 20 Agustus 2026. (Foto: RMOL/Alifia)
Indonesia resmi memiliki Indonesia Bullion Market Association (IBMA) sebagai wadah pelaku industri untuk memperkuat ekosistem emas sekaligus meningkatkan daya saing pasar bulion nasional di tingkat global.
Asosiasi yang dibentuk pada Kamis 20 Agustus 2026 itu dipimpin Selfie Dewiyanti sebagai Ketua Umum dan Anton Sukarna sebagai Sekretaris Jenderal.
Keanggotaannya mencakup perusahaan pertambangan emas, manufaktur dan pengolahan bijih menjadi emas batangan dan perak, perusahaan perdagangan emas batangan atau bullion dealer, perusahaan pembiayaan dan lembaga keuangan non-bank yang memiliki izin di bidang industri bulion, hingga bank bulion.
Sejumlah perusahaan yang telah bergabung antara lain Pegadaian, BSI, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, dan ICDX Group.
Selain itu, terdapat PT Central Mega Kencana (CMK) yang menaungi merek perhiasan Mondial, Frank & co., dan The Palace Jeweler, PT Sentral Kreasi Kencana (SKK Jewels), serta PT Laku Emas Indonesia.
Adapun kegiatan usaha bulion atau bank emas diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025.
Saat ini, terdapat dua lembaga yang telah mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjalankan kegiatan usaha bulion, yakni PT Pegadaian (Persero) dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI).
Pembentukan bank emas merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Jasa Keuangan (UU P2SK).
Hingga saat ini, bank emas di Indonesia tercatat telah mengelola sekitar 177 ton emas. Sebanyak 153 ton dikelola Pegadaian, sementara 24 ton lainnya dikelola BSI.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kehadiran IBMA menjadi fase baru dalam pengembangan industri bulion di Indonesia.
Menurutnya, setelah fondasi regulasi dan kelembagaan dibangun melalui implementasi kegiatan usaha bulion, fokus selanjutnya adalah menciptakan pasar yang lebih efisien, likuid, transparan, dan terintegrasi.
"Indonesia memiliki potensi emas yang besar. Tantangan kita bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan emas tersebut dikelola di dalam negeri sehingga menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Airlangga di BSI Tower, Jakarta.
Airlangga berharap IBMA dapat menjadi katalis untuk memperkuat kolaborasi antar pelaku industri sekaligus meningkatkan daya saing pasar bullion Indonesia.