Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Tangkapan layar TV Parlemen)

Politik

Pidato Kenegaraan Prabowo Tunjukkan Kejelasan Arah Pemerintah

SABTU, 15 AGUSTUS 2026 | 00:31 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD 2026 dinilai menunjukkan arah pemerintahan yang semakin jelas.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai, pidato Presiden Prabowo kali ini bukan sekadar pidato politik, melainkan laporan pertanggungjawaban politik kepada rakyat yang ditopang oleh sejumlah capaian konkret dan angka-angka kinerja pemerintahan.

“Saya memberikan nilai 99,9. Ini bukan karena pidatonya bagus secara retorika saja, tetapi karena Presiden mampu menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah mulai menghasilkan angka-angka yang terukur. Ada output, ada outcome, dan ada arah yang jelas,” ujar Iwan kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.


Iwan juga menilai pidato Presiden kali ini jauh dari kesan blunder maupun kata-kata dan kalimat kontroversial yang menimbulkan polemik di publik.

Salah satu hal yang menjadi sorotan Iwan adalah perbaikan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Setelah dilakukan koreksi dan pembenahan laporan, laba BUMN tahun 2024 tercatat sekitar Rp186 triliun. Kemudian pada 2025, laba BUMN meningkat menjadi sekitar Rp326 triliun atau tumbuh sekitar 75,3 persen.

“Kenaikan laba BUMN dari Rp186 triliun menjadi Rp326 triliun menunjukkan adanya perbaikan tata kelola dan efisiensi yang signifikan. Ini bukan angka kecil. Ini menunjukkan aset negara dapat dikelola lebih produktif,” katanya.

Pada sisi penerimaan negara, dividen BUMN tahun 2024 mencapai Rp85,5 triliun.

Iwan menilai angka tersebut memperlihatkan bahwa BUMN tidak hanya diposisikan sebagai korporasi negara, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat kapasitas fiskal dan pembangunan nasional.

Menurut Iwan, pesan penting lain dari pidato Presiden adalah keberanian pemerintah melakukan koreksi terhadap data, tata kelola, serta kinerja institusi negara.

“Presiden sedang membangun budaya pemerintahan yang tidak boleh puas dengan angka di atas kertas. Kalau ada yang perlu dikoreksi, dikoreksi. Kalau ada kebocoran, ditutup. Kalau ada aset negara yang tidak produktif, harus dioptimalkan,” ujar Iwan.

Karena itu, menurutnya, ukuran keberhasilan pemerintahan Prabowo tidak boleh hanya dilihat dari popularitas kebijakan, tetapi dari peningkatan penerimaan, efisiensi anggaran, produktivitas BUMN, penciptaan lapangan kerja, dan manfaat yang diterima masyarakat.

Iwan juga menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Menurutnya, kebijakan tersebut memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibanding sekadar pemberian makanan kepada anak sekolah.

“MBG adalah investasi manusia. Pemerintah sedang mencoba memutus rantai masalah stunting, kekurangan gizi, rendahnya kualitas kesehatan anak, sekaligus menciptakan multiplier effect bagi petani, nelayan, peternak, UMKM, koperasi dan ekonomi daerah,” katanya.

Iwan melihat benang merah pidato Presiden Prabowo adalah gagasan mengenai kemandirian nasional.

Kemandirian tersebut tercermin dalam dorongan terhadap industrialisasi, hilirisasi, penguatan BUMN, ketahanan pangan, energi, serta pengembangan industri nasional.

“Presiden ingin Indonesia tidak menjadi negara yang hanya menjadi pasar. Indonesia harus menjadi negara yang memproduksi, mengolah, memiliki teknologi, menciptakan nilai tambah dan menikmati hasil kekayaan alamnya sendiri,” jelas Iwan.

Menurut Iwan, arah tersebut relevan dengan tantangan geopolitik dan ekonomi global yang semakin tidak pasti.

Iwan menegaskan, pidato kenegaraan tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Pidato tersebut harus menjadi baseline untuk mengukur kinerja pemerintah pada tahun berikutnya.

“Hari ini Presiden menyampaikan capaian. Tahun depan publik harus kembali menagih. Berapa pertumbuhan ekonominya, bagaimana kemiskinan, pengangguran, daya beli, investasi, penerimaan negara, kinerja BUMN, kualitas pendidikan dan kesehatan. Jadi pidato ini harus menjadi kontrak kinerja yang bisa diuji,” tegasnya.

Iwan menyimpulkan kekuatan utama pidato Presiden Prabowo adalah kombinasi antara visi besar Indonesia dan angka-angka capaian yang konkret.

“Saya beri 99,9. Bukan 100 karena dalam politik dan pemerintahan tidak ada ruang untuk cepat puas. Masih ada pekerjaan rumah. Tetapi 99,9 menunjukkan bahwa arah pemerintahannya jelas, keberaniannya ada, dan hasilnya mulai terlihat dalam angka,” demikian Iwan.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya