Berita

Dewan Pers menggelar Pelatihan Jurnalistik Tematik bertajuk “Bukan Londo Ireng: Jurnalisme Kritis vs Stigmatisasi Anti Kritik”. (Foto: RMOL)

Politik

Dewan Pers:

Stigmatisasi "Londo Ireng" Jangan Jadi Alat Membungkam Kritik Jurnalis

KAMIS, 13 AGUSTUS 2026 | 10:25 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Dewan Pers menggelar Pelatihan Jurnalistik Tematik bertajuk “Bukan Londo Ireng: Jurnalisme Kritis vs Stigmatisasi Anti Kritik”. Kegiatan ini membahas tantangan jurnalis dalam menjaga independensi dan sikap kritis di tengah meningkatnya polarisasi serta stigmatisasi di ruang publik.

Diskusi ini merespons pidato Presiden Prabowo Subianto dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center, Kamis, 23 Juli 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan pemerintah tidak antikritik. Namun, ia menilai terdapat pihak-pihak di Indonesia yang lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.


Prabowo kemudian menyebut “londo ireng” masih ada hingga sekarang dengan mengenakan “baju” yang berbeda. Dalam bagian tersebut, ia menyinggung wartawan, jurnalis, pengamat, serta lembaga swadaya masyarakat atau LSM.

Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi Dewan Pers, Busyro Muqoddas, mengatakan stigmatisasi terhadap jurnalis harus dihadapi dengan kesabaran. 

Menurutnya, kritik yang disampaikan pers merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi dan tidak seharusnya dibalas dengan pelabelan yang dapat menghambat kerja jurnalistik.

“Jangan sampai stigmatisasi kepada jurnalis dengan tuduhan itu untuk menghalangi kritik. Kritik harusnya dipahami, harus dihormati, bukan distigmatisasi,” kata Busyro di Hall Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.

Ia menekankan, Dewan Pers terus mendorong agar jurnalis tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional. Untuk itu, pelatihan jurnalistik juga menghadirkan narasumber dari instansi pemerintah maupun pihak yang memiliki kompetensi memadai agar terjadi pertukaran perspektif antara pers dan pemangku kepentingan.

Busyro menilai peran pers semakin penting ketika sejumlah kelompok masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan dan aktivis, menghadapi tantangan dalam mempertahankan sikap kritis. Misalnya Ormas banyak mengurusi kelompoknya, aktivis dilemahkan, dimasukkan ke zona nyaman, mahasiswa juga sama. Maka tugas jurnalistik mengambil peran.

Menurut Busyro, kondisi tersebut menjadi momentum bagi insan pers untuk memperkuat kembali fungsi jurnalistik sebagai salah satu pilar demokrasi. Ia juga mengingatkan bahwa gagasan Indonesia Emas tidak cukup hanya berbicara mengenai pencapaian material, tetapi harus dibarengi dengan pembangunan karakter bangsa.

“Masa depan Indonesia harus beradab dan beretika,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pers Toto Suryanto menegaskan bahwa setiap kekuasaan tidak boleh alergi terhadap kritik. Kritik, kata dia, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mekanisme demokrasi dan diperlukan untuk memastikan kekuasaan tetap berjalan sesuai kepentingan masyarakat.

Ia menekankan bahwa pergantian pemerintahan merupakan bagian dari dinamika politik, tetapi keutuhan negara harus tetap menjadi prioritas.

“Pemerintahan berganti, negara harus tetap utuh. Kekuasaan itu melindungi, bukan memusuhi,” ujarnya.

Toto juga mengingatkan jurnalis agar menggunakan kemampuan berpikir dan nuraninya secara elegan dalam menjalankan tugas. Sikap kritis, menurutnya, justru menjadi salah satu syarat utama seorang wartawan.

“Pers menggunakan akal budinya dengan elegan. Jurnalis sebaiknya harus kritis, karena kritis syarat jadi wartawan,” tandasnya.

Melalui pelatihan tersebut, Dewan Pers berharap jurnalis tidak terjebak dalam stigma maupun tekanan politik, tetapi tetap mampu menghasilkan karya jurnalistik yang kritis, objektif, berimbang, dan berpegang pada etika profesi.


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Miris! Hafalan Al-Qur’an Jadi Bahan Permainan

Kamis, 13 Agustus 2026 | 02:11

OJK Dukung Pemprov DKI Terbitkan Obligasi Daerah

Kamis, 13 Agustus 2026 | 02:00

Jangan Main Hakim Sendiri terkait Kasus Hafalan Al-Qur'an Berhadiah Miras

Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:48

Dua ASN Ditjen Pajak Jadi Tersangka Korupsi PT TPL

Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:23

Tak Ditemukan Luka Luar di Jenazah Sutrimo

Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:06

Pemprov DKI Pastikan Miliki Kapasitas Keuangan Terbitkan Obligasi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:26

Walkot Jakut Imbau Masyarakat Tetap Tenang soal Kasus Promosi Miras di Ancol

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:19

Kemendag Perluas Akses Pasar Produk UMKM dengan Libatkan Ritel Modern

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:02

Furikake dan Tantangan Pangan Bergizi: Jangan Berhenti pada Produknya

Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:51

Utang Pemerintah Tembus Rp10.000 Triliun

Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:41

Selengkapnya