Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

ESSA dan TPIA Sama-sama Ramai di Sesi I, Mana yang Lebih Agresif?

SELASA, 11 AGUSTUS 2026 | 14:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dua saham yang bergerak di sektor energi dan industri kimia, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), sama-sama mencatat aktivitas perdagangan cukup ramai pada Selasa siang, 11 Agustus 2026. Namun, dari sisi nilai transaksi, TPIA terlihat jauh lebih dominan.

Pantauan RMOL berdasarkan data bursa, hingga pukul 14.41 WIB, saham ESSA berada di level 685. Saham emiten yang bergerak di bidang energi dan petrokimia tersebut sempat menyentuh harga tertinggi 695 dan terendah 665 sepanjang perdagangan.

Dengan demikian, rentang pergerakan ESSA mencapai Rp30 atau sekitar 4,4 persen dari posisi terendah ke tertinggi. Pada level 685, harga saham ESSA berada lebih dekat dengan batas atas pergerakannya dibandingkan level terendah.


Aktivitas transaksinya juga cukup tinggi. Hingga pukul 14.41 WIB, ESSA telah diperdagangkan sebanyak 125,19 juta saham dengan nilai transaksi Rp85,33 miliar. Frekuensinya mencapai 13.001 kali.

Pergerakan ESSA ini menjadi perhatian karena saham tersebut sebelumnya menarik minat investor setelah membagikan dividen besar pada Juni 2026. ESSA membagikan dividen sekitar Rp895,8 miliar atau Rp52 per saham, sehingga faktor dividen menjadi salah satu daya tarik saham tersebut bagi investor.

Sementara itu, aktivitas perdagangan TPIA terlihat jauh lebih besar. Hingga pukul 14.42 WIB, sekitar satu menit setelah data ESSA, saham TPIA berada di level 2.120.

Sepanjang perdagangan, TPIA bergerak dari level terendah 2.060 hingga tertinggi 2.150. Artinya, rentang pergerakannya mencapai Rp90 atau sekitar 4,4 persen dari level terendah ke tertinggi, hampir sama secara persentase dengan rentang ESSA.

Namun, perbedaan terlihat jelas pada volume dan nilai transaksi. Hingga pukul 14.42 WIB, volume perdagangan TPIA mencapai 246,43 juta saham dengan nilai transaksi Rp516,35 miliar. Frekuensinya mencapai 38.448 kali.

Dengan nilai transaksi Rp516,35 miliar, aktivitas perdagangan TPIA sekitar enam kali lebih besar dibandingkan ESSA yang mencapai Rp85,33 miliar. Dari sisi volume, TPIA juga mencatat sekitar dua kali lipat perdagangan ESSA, sedangkan frekuensi transaksinya hampir tiga kali lebih tinggi.

Jika dibandingkan dari sisi rentang harga, kedua saham justru relatif berimbang. ESSA bergerak antara Rp665-Rp695, sedangkan TPIA berada di kisaran Rp2.060-Rp2.150. Secara persentase, ruang pergerakan keduanya sama-sama berada di sekitar 4,4 persen dari harga terendah ke tertinggi.

Perbedaan utamanya terlihat pada intensitas transaksi. TPIA jauh lebih ramai dari sisi nilai dan frekuensi, menunjukkan aktivitas jual-beli yang lebih besar pada saham tersebut hingga sekitar pukul 14.42 WIB.

Dari sisi bisnis, ESSA memiliki eksposur utama pada energi dan petrokimia, sementara TPIA merupakan salah satu pemain utama industri petrokimia nasional. Karena itu, meski sama-sama berkaitan dengan sektor energi dan industri kimia, penggerak harga keduanya tidak sepenuhnya sama.

Data hingga menjelang penutupan perdagangan ini menunjukkan ESSA tetap memiliki daya tarik, terutama setelah pembagian dividen jumbo pada Juni lalu. Namun, dari sisi likuiditas dan besarnya dana yang berpindah tangan pada perdagangan Selasa, TPIA terlihat lebih dominan.

Dengan kata lain, ESSA menarik perhatian dari sisi sentimen dividen dan aktivitas perdagangan, sedangkan TPIA menonjol dari besarnya nilai transaksi. Keduanya sama-sama bergerak cukup lebar, tetapi TPIA menjadi saham yang jauh lebih aktif diperdagangkan pada sesi perdagangan tersebut.

Redaksi telah melakukan koreksi informasi penyebutan PT Surya Esa Perkasa Tbk menjadi PT ESSA Industries Indonesia Tbk dengan kode emiten tetap sama. Perubahan dilakukan setelah mendapat informasi koreksi dari perusahaan dimaksud.  

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya