Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

ESDM Keluarkan Kepmen Penurunan Harga Minyak Mentah

SELASA, 11 AGUSTUS 2026 | 13:34 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan penurunan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) melalui Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 319.K/MG.03/MEM.M/2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan harga ICP Juli 2026 turun menjadi 81,68 Dolar AS per barel. Penurunan tersebut sejalan dengan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kembali pulihnya pasokan minyak dunia.

"Penetapan ICP bulan Juli 2026 sebesar US$81,68 per barel mencerminkan dinamika pasar minyak mentah global yang mengalami penyesuaian menyusul meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta pulihnya kembali arus pasokan minyak dunia," kata Laode dalam keterangannya, Selasa 11 Agustus 2026.


Menurut Laode, penyesuaian harga juga terjadi pada sejumlah minyak mentah acuan dunia. Harga Brent yang diperdagangkan di bursa Intercontinental Exchange (ICE) tercatat 83,97 Dolar AS per barel, turun 0,46 Dolar AS dari 84,43 Dolar AS per barel.

Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) di Nymex turun 2,57 Dolar AS menjadi 79,22 Dolar AS per barel dari sebelumnya 81,79 Dolar AS per barel.

Harga Dated Brent juga turun 2,06 Dolar AS menjadi 83,41 Dolar AS per barel dari sebelumnya 85,47 Dolar AS per barel. Adapun OPEC Basket turun 7 Dolar AS menjadi 82,74 Dolar AS per barel per 30 Juli 2026.

Laode mengatakan penurunan harga minyak tersebut dipengaruhi de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berujung pada gencatan senjata, serta pulihnya jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), kelancaran logistik di Selat Hormuz menambah pasokan minyak dunia hingga 4,1 juta barel per hari pada Juni 2026. Kondisi tersebut membawa total produksi minyak global mencapai 98,8 juta barel per hari.

Meski harga minyak menunjukkan tren penurunan, pemerintah tetap mewaspadai potensi volatilitas lanjutan. Risiko tersebut antara lain berasal dari kemungkinan eskalasi militer skala terbatas serta perubahan stok minyak mentah komersial Amerika Serikat.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya