Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud dalam konferensi pers rilis BPS, Rabu 5 Agustus 2026. (Foto: Tangkapan layar YouTube)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (yoy). Kinerja tersebut terutama ditopang oleh industri pengolahan dari sisi produksi serta konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi bersama sektor perdagangan, konstruksi, serta informasi dan komunikasi.
"Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud dalam konferensi pers rilis BPS, Rabu 5 Agustus 2026.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Kinerja tersebut diperkuat oleh pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) serta konsumsi pemerintah yang meningkat seiring bergairahnya aktivitas ekonomi selama periode libur dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Edy menjelaskan, kelompok restoran dan hotel mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi, yakni sebesar 6,47 persen. Peningkatan itu didorong oleh naiknya konsumsi makanan jadi pada sektor penyediaan makanan dan minuman.
Sementara itu, kelompok transportasi dan komunikasi tumbuh 5,71 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi, pembelian kendaraan bermotor, serta aktivitas perawatan kendaraan.
Di sisi investasi, PMTB juga membukukan pertumbuhan positif yang berasal dari investasi pemerintah maupun swasta.
"Pertumbuhan PMTB tertinggi terjadi pada subkomponen kendaraan yang meningkat 26,03 persen," terangnya.
Selain kendaraan, subkomponen peralatan lainnya tumbuh 16,18 persen, baik yang bersumber dari produksi dalam negeri maupun impor. Pertumbuhan PMTB juga didukung oleh realisasi investasi BKPM yang meningkat 7,14 persen.
Sementara itu, konsumsi pemerintah ikut mencatatkan pertumbuhan seiring meningkatnya realisasi belanja negara. Kondisi tersebut didorong oleh kenaikan belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, dan Polri, serta percepatan penyaluran tunjangan tenaga pendidik non-PNS.
Tak hanya itu, peningkatan belanja barang dan jasa, khususnya belanja barang yang disalurkan kepada masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan konsumsi pemerintah.
Berdasarkan wilayah, BPS mencatat kawasan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi membukukan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional pada triwulan II 2026.