ALHAMDULILLAH, penulis dapat hadir dalam kegiatan STUDIUM GENERALE & BEDAH BUKU. Studium Generale mengambil tema: "Peta Baru Dunia Islam dan Masa Depan Timur Tengah", pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Prof. Dr. Zulkifli, M.A. (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Dr. Kholid Al Walid, M.Ag. (Penulis buku Republik Islam Iran) dan Studium Generale Prof. Yon Machmudi, Ph.D. (Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Indonesia), hadir menyampaikan paparan.
Hanya saja Dr. Abraham Samad, S.H., M.H. (Penulis kata pengantar buku Republik Islam Iran), berhalangan hadir. Beliau, bertepatan dengan agenda di Kota Malang.
Acara dilaksanakan sekira Pukul 08.15 WIB s.d. selesai, bertempat: Auditorium Prof. Dr. Suwito, M.A., Sekolah Pascasarjana.
Ada satu pertanyaan yang penulis ajukan kepada Yang Mulia Dr. Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Republik Indonesia selaku Keynote Speakers. Sayangnya, karena penulis menyampaikan pandangan di akhir diskusi, sehingga pertanyaan tersebut belum dijawab, dan baru sebatas menjadi PR.
Pertanyaan penulis adalah, apakah Iran berkomitmen untuk meningkatkan tanggung jawab dari melindungi rakyat dan teritorial Iran meningkat menjadi penopang peradaban Islam?
Pertanyaan ini, substansinya adalah apakah Iran (bersama Yaman), mau dan mampu mengambil tugas dan tanggung jawab untuk menopang peradaban Islam, dengan menegakkan Khilafah, sebagaimana dahulu suku Aus dan Khazraj (kaum Anshar) menopang tegaknya peradaban Islam, melalui tegaknya Daulah Islam di Madinah.
Pertanyaan ini penting untuk dijawab, agar kaum muslimin saat ini tidak sekedar bersimpati kepada Iran, akan tetapi membela penuh Iran karena Iran menjadi pusat Negara Khilafah dan pemimpinnya kelak menjadi Khalifah atau Imam bagi seluruh kaum muslimin (Bukan hanya menjadi Imam bagi Iran).
Pertanyaan ini juga penting dijawab, agar tidak ada lagi sekat-sekat nasionalisme warisan barat, yang telah memisahkan kaum muslimin dengan ta'ashub atau ikatan kebangsaan yang sempit. Sehingga, Iran bisa membela kaum muslimin di Palestina, Irak, Kuwait, dll secara total, karena itu bagian dari tugas dan tanggung jawab Iran sebagai junnah (perisai) dan Rain (pemimpin) bagi segenap kaum muslimin.
Pertanyaan yang penting untuk dijawab, agar seluruh kaum muslimin baik di Iran, maupun diluar Iran (Qatar, Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, dll), bisa membela Iran secara totalitas, karena telah diikat dengan persaudaraan Islam melalui tegaknya institusi Khilafah yang berpusat di Iran.
Yang paling penting, kami umat Islam siap taat dan patuh pada saudara kami dari bangsa manapun, sepanjang ketaatan itu untuk menerapkan kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.
Pada tahap awal, saudara kami dari kalangan Arab, baik para Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah hingga Bani Abbasiyah, telah dimuliakan dengan kepemimpinan Islam, dimana kaum muslim dibawah panji Khilafah telah memimpin peradaban dunia, memakmurkan bumi dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru alam.
Namun, batas amanah itu sudah sampai. Para Khalifah dari Bangsa Arab telah berlalu. Bangsa Arab kini, para penguasanya (para raja) justru menjadi antek Amerika & Zionis Israel.
Selanjutnya, bangsa Turki telah diberikan kemuliaan dengan tegaknya Kekhilafahan Islam di Turki. Hingga mereka, memilih hanya mengurusi Turki, melalaikan urusan kaum muslimin, dan akhirnya kemuliaan bangsa Turki dicabut seiring diruntuhkannya kekuasan Khilafah pada 3 Maret 1924.
Turki berubah menjadi bangsa egois, tak lagi melindungi kaum muslimin seperti era Khilafah. Dan akhirnya, kemuliaan itu berlalu, bangsa Turki hari ini bukanlah bangsa Turki seperti era kekhilafahan Islam.
Karena itu, sebelum kami memberikan dukungan dan pembelaan penuh, apakah bangsa Iran siap memimpin seluruh kaum muslimin? Apakah, pemimpinnya siap dibaiat, untuk didengar dan ditaati, untuk menerapkan Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru alam?
Pertanyaan ini penting, sebelum akad Khilafah itu diberikan kepada Iran. Karena akad Kekhilafahan harus dengan keridloan dan pilihan (bi ridlo wa ikhtiar).
Iran, tidak boleh dipaksa menerima baiat. Kaum muslimin juga harus diberikan kemerdekaan untuk memilih, apakah baiat itu diberikan kepada seorang laki laki, muslim, berakal, baligh, merdeka, adil dan memiliki kemampuan untuk mengemban tugas kekhilafahan, dari kalangan bangsa Iran, atau dari bangsa yang lain.
Jika lelaki Iran tersebut menolak, masih ada satu pertanyaan lagi. Apakah Iran, yang saat ini menyandang predikat sebagai Ahlul Quwwah, dengan kekuatan militer, senjata, teknologi, kekuatan pemikiran dan fisik yang dimiliki, yang terbukti sanggup melawan agresi Amerika dan Zionis Israel, tetap menjadikan bangsa Iran mandiri dan independen, MAU MEMBERIKAN NUSYROH (PERTOLONGAN) UNTUK MENEGAKKAN KHILAFAH, LAKSANA KAUM ANSHOR YANG MENOLONG DAKWAH NABI DAN MENDIRIKAN DAULAH ISLAM DI MADINAH?
Jika pilihan kedua yang diambil, maka Iran siap menjadi Madinah Kedua. Yakni, siap untuk memberikan pertolongan dan perlindungan, bagi penegakan Khilafah yang berpusat di Iran, dan insya Allah akan meluas dan menyatukan seluruh kaum muslimin.
Karpet merah untuk menyambut kedatangan Al Mahdi, adalah dengan menegakkan institusi Khilafah. Karena Al Mahdi, akan datang sebagai Khalifah, sebagai Iman, bukan sebagai Raja atau Presiden.
Hari ini, harapan umat Islam tertuju pada Iran. Iran, terbukti memiliki kekuatan. Iran dimuliakan oleh Allah SWT, dengan karunia kebaikan sehingga mampu melawan Amerika dan Israel.
Keberanian Iran, kekuatan Iran, telah meninggikan panji wibawa dan kemuliaan umat Islam. Iran menjadi bukti, bahwa umat Islam bukanlah penjilat pantat Trump. Umat Islam, tidak pernah takut dengan ancaman dan intimidasi. Umat Islam, punya kekuatan untuk berdiri dan mendongakkan muka.
Konstitusi Iran (Dustur) harus dikonversi dari hanya melindungi segenap bangsa Iran, melainkan juga melindungi seluruh kaum muslimin. Konstitusi yang memiliki visi menerapkan Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru alam. Republik Islam Iran harus segera dikonversi menjadi Kekhilafahan Islam yang berpusat di Iran.
Dan saat itupun segera tiba....
Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki, Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat atau menghilangkannya kalau Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj nubuwwah selama Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengangkatnya jika Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yang sangat kuat selama yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengangkatnya bila Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan (tirani) selama yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengangkatnya bila Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj nubuwwah.“ Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad)
Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik