Berita

KMP Mutiara Sentosa 2 terbakar di perairan utara Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep. (Foto: Instagram.com/kantorsa_surabaya)

Publika

KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Laut

Lima Meninggal, 41 Masih Hilang
SENIN, 03 AGUSTUS 2026 | 14:15 WIB

MARI kita berkabung dan memanjatkan doa untuk saudara kita yang menaiki KMP Mutiara Sentosa 2. Kapal itu terbakar di tengah laut. Dikabarkan lima meninggal, 41 masih hilang. 

Minggu pagi, 2 Agustus 2026, seharusnya menjadi hari biasa. Ada manusia berangkat mencari nafkah, pulang menemui keluarga, atau sekadar duduk di kapal sambil menatap laut. 

Tetapi di tengah perjalanan dari Surabaya menuju Makassar, sebuah perjalanan berubah menjadi tragedi.


KMP Mutiara Sentosa 2 yang membawa 271 orang, terdiri 232 penumpang dan 39 awak kapal. Lalu, terbakar di perairan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Hingga pukul 16.00 WIB, Kantor SAR Surabaya melaporkan lima orang meninggal dunia, 225 orang selamat, sementara 41 lainnya masih dalam pencarian. Empat puluh satu manusia. Bukan angka.

Mereka adalah anak seseorang. Ayah seseorang. Ibu seseorang. Suami, istri, saudara, atau sahabat yang pagi itu mungkin hanya berpamitan dengan kalimat sederhana, "Hati-hati."

Kini keluarga mereka menunggu dalam ketidakpastian yang jauh lebih menyakitkan dari sebuah kabar buruk. Informasi kebakaran pertama kali diterima perusahaan pelayaran dari nakhoda sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah itu, nakhoda tak lagi dapat dihubungi.

Kalimat itu terdengar pendek dalam sebuah laporan. Tetapi bagi keluarga, "tidak dapat dihubungi" bisa menjadi kalimat paling panjang dalam hidup.

Kantor SAR Surabaya baru menerima informasi pertama sekitar pukul 08.24 WIB dari Syahbandar Tanjung Perak. Posisi kapal kemudian diketahui sekitar pukul 09.45 WIB, sekitar 19 mil laut di utara Pulau Burung, Sapudi.

Saat itu sebagian badan kapal sudah terbakar. Para penumpang bertahan di anjungan dan haluan, menunggu pertolongan. Mereka berdiri di atas kapal yang perlahan berubah menjadi neraka, sementara di sekelilingnya hanya ada laut.

Lalu sekitar pukul 10.20 WIB, sebagian penumpang memilih melompat ke laut. Nuan bayangkan ketakutan itu. Di belakang ada api. Di depan ada lautan. Mereka tidak melompat karena berani. Mereka melompat karena ingin hidup.

Sejumlah korban berhasil dievakuasi oleh TB Hasnur 26 dan Kapal British Mentor. Beberapa kapal lain juga merapat ke lokasi. 

Para korban selamat dan korban meninggal kemudian dibawa menggunakan Kapal Meratus Pematang Siantar, TB Hasnur 26, Transco Arafura, Meratus Project 3, Prakarsa Mas, dan SC Aila XVII.

Sementara itu, tim SAR terus berpacu dengan waktu. KN SAR 249 Permadi diperkirakan membutuhkan sekitar enam jam untuk mencapai lokasi. 

Ditjen Perhubungan Laut juga mengerahkan KN Grantin P.211. Sementara Distrik Navigasi menyiapkan KN Masalembo untuk mendukung operasi.

Pemerintah mengatakan keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi prioritas utama.  

Kalimat itu tentu benar. Tetapi bagi keluarga korban, prioritas bukanlah kalimat. Prioritas adalah satu hal sederhana: orang yang mereka cintai pulang.

Tragedi ini kembali mengingatkan bahwa di negeri kepulauan, laut bukan sekadar jalur transportasi. Laut adalah kehidupan sekaligus tempat yang bisa berubah menjadi kuburan dalam hitungan menit.

Ironisnya, manusia sering baru menghitung pentingnya keselamatan setelah sirene berbunyi dan api terlihat dari kejauhan. Kita terlalu sering menganggap perjalanan sebagai rutinitas, sampai sebuah musibah mengingatkan bahwa pulang sebenarnya adalah kemewahan.

Malam nanti, mungkin 225 orang yang selamat akan memeluk keluarganya dengan tangan gemetar. Tetapi 41 keluarga masih menunggu. 

Mereka mungkin duduk di depan televisi. Menatap ponsel. Membuka pesan berkali-kali. Berdoa dengan kalimat yang sama. "Ya Allah, kembalikan orang kami."

Semoga laut segera mengembalikan mereka. Untuk lima jiwa telah pergi, semoga perjalanan terakhir mereka berakhir di tempat yang jauh lebih damai dari dunia yang baru saja mereka tinggalkan. 

Sebab kapal boleh terbakar, baja boleh tenggelam, tetapi bagi keluarga yang ditinggalkan, cinta tidak pernah ikut karam.

Rosadi Jamani
Mantan Wartawan

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya