Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/AI)

Publika

Bergerak Bersama Menuju Sila Kelima Pancasila

SENIN, 03 AGUSTUS 2026 | 01:30 WIB | OLEH: IWAN SUMULE

DI era pembebasan nasional, para pejuang merumuskan konsepsi perlawanan menghadapi kolonialisme yang bercokol di Hamparan Subur yang kelak bernama Indonesia. Sejak jaman 'nasionalisme mula-mula', Ahmat Adam dalam Disertasinya menyebut bagaimana Kesadaran kebangsaan dirumuskan melalui surat kabar. Para jurnalis tampil melawan. 

Kesadaran kebangsaan, kritik sosial, bahkan sikap politik dirumahkan melalui Surat Kabar. Sejak era Medan Prijaji media mulai punya sikap politik sebagaimana disebut Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula, jurnalisme advokasi. Sederet nama surat kabar lainnya segera menyusul, Jurnalis memasuki ruang aktivisme dalam semangat melawan kolonial. Mulai dari Surat kabar bernuansa nasionalis hingga kelompok agama dan 'Kaoem Kiri'. Semua menuju jalan raya yang sama, anti kolonialisme.

Begitu juga halnya dengan Vereeniging atau organisasi modern. Shiraishi, Van Niel dan sederet penulis yang menelaah masa itu mencatat betapa para aktivis mulai melakukan perlawanan juga melalui organisasi. Kita punya kategori sosial baru dalam memaknai kelas sosial, Kaum terdidik yang anti kolonial. Tirto dalam medan prijaji menyebutnya 'Bangsawan Pikiran'. Sejak dari yang bernuansa kedaerahan seperti Sarekat Priyayi, kemudian yang bernuansa Islam dan melibatkan orang keturunan Hadrami seperti Sarekat Dagang Islamiyah, hingga bercorak nasionalis seperti Boedi Oetomo, semua bermuara pada satu tujuan, melawan kolonialisme yang menghisap kesejahteraan rakyat. Ketajaman sikap ini makin meruncing di era HOS Tjokroaminoto dengan Sarekat Islam. 


Hingga tiba saat di mana SI beririsan dengan pengaruh ISDV yang dibentuk Sneevliet. Sarekat Islam terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih. SI Merah bergerak makin ke kiri dan pada gilirannya menjadi gerakan Politik berhaluan komunis. Sementara SI Putih kian ke kanan dan menjadi entitas Islam Politik Ideologis. Namun keduanya masih bertujuan sama, melawan penindasan kolonial dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Terinspirasi dari sosok bapak Kost yang berpikiran tajam, tiga aktivis muda yang tinggal dsn berdialektika di rumah Milik Tjokro pada akhirnya menempuh jalan berbeda. Soekarno menjadi seorang Nasionalis kiri, Kartosoewirjo berhaluan Kanan, Islam Politik. Smentara Semaoen berada di jalan Kiri. Kendati berbeda rute, ketiganya memiliki tujuan sama yakni menuju Indonesia merdeka yang adil makmur. 

Kita masih ingat betapa jalan panjang merumuskan dasar negara begitu sengit dan melelahkan. Ideologi yang berbeda saling bertinju argumen. Untuk apa? Untuk satu tujuan. Namun dari perbedaan pendapat yang terjadi, semua bersepakat ketika itu tentang sila "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia". Mau kanan atau kiri, semua sepakat satu suara tentang Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kelompok Agamis, Nasionalis, Sosialis atau Komunis bersepaham bahwa tujuan akhir kita adalah menciptakan masyarakat adil makmur sebagaimana termaktub dalam Konstitusi.

Zaman terus berganti dan ideologi berkembang melakukan penyesuaian. Namun Konstitusi tak bergeser ia setia pada cita-cita semula, mewujudkan masyarakat Indonesia Adil Makmur. Era pemerintahan silih berganti dengan beragam latar ideologi politik. 

Kini kita sampai pada masa Presiden ke delapan. Sikap Presiden Prabowo jelas bahwa Pemerintah sebagai Petugas Negara harus menjalankan amanat Konstitusi yang diturunkan dalam bentuk kebijakan dan program kerja yang bermuara pada upaya mewujudkan masyarakat Indonesia Adil Makmur. Ini bukan hal baru, melainkan mengembalikan arah bernegara kepada rel nya yang semula. Arah yang telah digariskan oleh Kesepakatan bersama para pendiri Bangsa dari berbagai Ideologi. Arah yang menuju kepada usaha mewujudkan Sila Kelima Pancasila. 

Maka bagi kita yang memahami konteks sejarah dan ruh konstitusi serta Determinasi Republik, maka kita paham betul bahwa ketika Pemerintah melahirkan kebijakan yang mengarah pada usaha mewujudkan kesejahteraan rakyat maka kita harus mendukung dan mengawal agar kebijakan tersebut terus berlangsung sampai terwujud masyarakat adil makmur. 

Tidak peduli apa latar belakang partai politik kita, dari ideologi mana kita berasal, bahwa Ketika kebijakan Pemerintah mengarah pada upaya mewujudkan sila ke Lima Pancasila kita wajib mendukung dan memastikan agar kebijakan tersebut konsisten pada garis amanat Konstitusi. 

Sebagai bagian dari partisipasi publik, maka masukan terbaik dengan rumusan teoritis, akademis, berbasis data dapat diberikan dan akan membantu pemerintah dalam mengimplementasi kebijakan. Pun demikian halnya dalam aspek evaluasi, Presiden Prabowo telah membuktikan bahwa Presiden mendengar masukan publik terkait adanya oknum nakal yang menyelewengkan uang rakyat. Tindakan tegas kerap Beliau ambil sebagai bukti konsistensinya dalam menjalankan amanat Konstitusi.

 
*Penulis adalah Wakil Kepala BP Taskin, Ketua Majelis Aktivis ProDEM (ProDemokrasi)


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya