Berita

Logo Nahdlatul Ulama (NU)/Ist

Politik

Jelang Muktamar PBNU, Guru Besar UI Usulkan Ketua Umum Diseleksi AHWA

SABTU, 01 AGUSTUS 2026 | 14:37 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Penguatan peran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) diusulkan dalam mekanisme pemilihan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus mantan Ketua PBNU, Hanief Saha Ghafur, menilai AHWA tidak semestinya hanya berperan dalam memilih Rais Aam, tetapi juga perlu diperkuat untuk menyeleksi calon Ketua Umum PBNU.

Menurut Hanief, langkah tersebut penting agar kepemimpinan NU lahir melalui proses seleksi yang mempertimbangkan kapasitas, kompetensi, integritas, serta kebutuhan organisasi.


"Sistem yang dibangun bukan sekadar election, tetapi selection. Artinya, pemimpin dipilih berdasarkan kualifikasi dan kemampuan, bukan semata-mata melalui kontestasi politik," ujar Hanief dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia menilai mekanisme pemilihan kepemimpinan NU perlu lebih mengedepankan kualifikasi calon dibandingkan sekadar kontestasi elektoral. Menurutnya, penguatan AHWA dapat menjadi bagian dari upaya menjaga proses tersebut tetap sesuai dengan karakter dan tradisi NU.

Atas dasar itu, Hanief menilai peran AHWA perlu diperluas. Ia menyebut AHWA sebagai hasil ijtihad kelembagaan yang perlu diperkuat agar mampu menghasilkan kepemimpinan yang lebih ideal bagi organisasi.

Hanief menjelaskan, AHWA merupakan mahalul ijtihad atau ikhtiar organisasi untuk terus menyempurnakan sistem pemilihan agar semakin sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Karena itu, menurutnya, ruang lingkup AHWA sudah saatnya diperluas.

"AHWA tidak hanya memilih Rais Aam, tetapi juga menyeleksi Ketua Umum PBNU sehingga keduanya benar-benar memiliki kecocokan dalam menjalankan roda organisasi," katanya.

Menurut Hanief, harmonisasi antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu kunci untuk menjaga soliditas organisasi. Ia mengusulkan agar AHWA menyeleksi calon-calon terbaik sebelum nama-nama tersebut diserahkan kepada muktamirin.

Dengan mekanisme tersebut, hak muktamirin untuk memilih tetap terjaga. Namun, calon yang tersedia telah melalui proses seleksi yang objektif dengan mempertimbangkan kapasitas dan keserasian kepemimpinan.

"AHWA dapat menyodorkan tiga orang (Rais Aam, Ketua Umum PBNU, dan Sekretaris Jenderal PBNU). Selanjutnya muktamirin tetap memiliki hak memilih," jelasnya.

Selain mendorong penguatan peran AHWA, Hanief menekankan pentingnya konsistensi terhadap aturan organisasi. Menurutnya, seluruh mekanisme pemilihan harus berpijak pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Tata Tertib Muktamar, serta Tata Tertib Pemilihan yang saling berkaitan.

"AD/ART menjadi landasan utama, kemudian dijabarkan dalam tata tertib muktamar dan tata tertib pemilihan. Dengan demikian, mekanisme pemilihan berjalan tertib, memiliki kepastian aturan, dan mampu menghasilkan kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi NU," tegasnya.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya