Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)
Pelemahan nilai tukar Rupiah membentur kinerja keuangan dua raksasa makanan nasional pada paruh pertama tahun ini.
Meski kompak mengamankan kenaikan omzet, PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), harus merela laba bersih mereka tergerus akibat lonjakan rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pendanaan.
Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 1 Agustus 2026, disebutkan bahwa hingga 30 Juni 2026 Indofood berhasil mengantongi penjualan neto konsolidasi sebesar Rp 65,53 triliun atau tumbuh 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 59,84 triliun.
Capaian positif ini mendorong laba usaha naik 14 persen menjadi Rp 13,29 triliun dari sebelumnya Rp 11,69 triliun, dengan marjin laba usaha yang konsisten di kisaran 20,3 persen. Sisi operasional murni perusahaan pun masih sangat tangguh, terbukti dari
core profit yang melonjak 7 persen menjadi Rp 6,18 triliun dari Rp 5,78 triliun.
Sayangnya, tekanan dari sektor keuangan berimbas pada hasil akhir. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Indofood melorot 19 persen menjadi Rp 4,72 triliun, turun dari posisi Rp 5,84 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Kondisi serupa dialami oleh sang anak usaha, ICBP. Merek produsen mi instan ini membukukan peningkatan penjualan sebesar 11 persen menjadi Rp 41,86 triliun dari sebelumnya Rp 37,60 triliun.
Seiring dengan itu, laba usaha ICBP terangkat 8 persen menjadi Rp 9,15 triliun dari Rp 8,48 triliun dengan marjin yang tetap sehat di level 21,9 persen, serta core profit yang tumbuh tipis 1 persen menjadi Rp 5,40 triliun dari Rp 5,37 triliun. Namun, efek rugi selisih kurs menyeret laba bersih entitas induk ICBP merosot cukup tajam hingga 33 persen, dari Rp 5,54 triliun menjadi Rp 3,70 triliun.
Menanggapi dinamika ekonomi tersebut, Direktur Utama dan CEO Indofood Anthoni Salim menegaskan bahwa bisnis utama perseroan sebenarnya tetap solid di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
"Di tengah situasi pasar yang masih penuh ketidakpastian, kami tetap waspada. Kami akan terus menyelaraskan produksi dengan kebutuhan pasar serta mengelola biaya secara efektif dan efisien untuk menjaga profitabilitas dan arus kas," tegas Anthoni Salim.