Berita

Logo Kabinet Bayangan. (Website/Kabinetbayangan.id)

Politik

Kabinet Bayangan Bentuk Partisipasi Politik Publik

JUMAT, 31 JULI 2026 | 14:36 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kemunculan Kabinet Bayangan yang digagas kalangan akademisi, peneliti, dan pegiat masyarakat sipil dinilai menjadi penanda bahwa proses politik tidak berhenti setelah pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu).

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, mengatakan demokrasi tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang dalam kontestasi politik, tetapi juga bagaimana kekuasaan diawasi setelah pemerintahan terbentuk.

"Politik bukan hanya soal menang dalam pemilu. Yang paling penting justru setelah kekuasaan dijalankan. Ketika ada kebijakan atau pernyataan penguasa yang dianggap tidak sesuai dengan koridor demokrasi, tidak boleh ada yang diam," kata Adi, lewat kanal Youtube miliknya, Jumat, 31 Juli 2026.


Menurut Adi, pada fase itulah partisipasi politik masyarakat harus hadir. Kritik dan masukan terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang sehat.

"Salah satu ciri negara demokratis dan demokrasi yang terkonsolidasi adalah ketika warga negaranya tanpa lelah dan tanpa henti terus memberikan masukan dan kritik secara terbuka apabila ada kebijakan yang dinilai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," ujarnya.

Karena itu, Adi memandang lahirnya Kabinet Bayangan sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Kehadiran kelompok tersebut dinilai dapat memperkuat fungsi kontrol terhadap pemerintah sekaligus memperkaya diskursus kebijakan publik.

"Lahirnya Kabinet Bayangan saya kira akan semakin memperkaya khazanah politik dan demokrasi di Indonesia," pungkasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya