Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Opening Ceremony Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta. (Foto: Istimewa)
PT PLN (Persero) terus mendorong pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sekaligus mendukung visi swasembada energi Presiden Prabowo Subianto melalui pembangunan ekosistem hidrogen di Tanah Air. Komitmen ini tercermin dalam agenda Global Hydrogren Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, hidrogen merupakan salah satu alternatif energi yang memiliki peran strategis dalam mendukung transisi dan kemandirian energi sekaligus mendorong hilirisasi sumber daya nasional sesuai Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Karena hidrogen ini dihasilkan dari air, gas, batu bara, biomassa, bahan baku hidrogen yang ada pada bangsa kita itu tidak perlu diragukan lagi,” kata Bahlil, dikutip Senin 27 Juli 2026.
Menurut Bahlil, melalui pembangunan ekosistem hidrogen yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, Indonesia tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri, meningkatkan daya saing industri nasional, menarik investasi, serta membuka peluang kerja dan pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi menyampaikan, pengembangan hidrogen nasional didorong guna mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun," ujar Eniya.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa pengembangan hidrogen merupakan wujud komitmen PLN dalam mendukung visi besar Presiden Prabowo untuk mencapai swasembada energi nasional.
”Hidrogen merupakan solusi transisi dari energi fosil ke energi masa depan. PLN siap memimpin pengembangan ekosistem hidrogen nasional secara terintegrasi melalui kolaborasi dengan pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pelaku industri, akademisi, hingga mitra internasional,” kata Darmawan.
Sebagai upaya konkret, sejak 2023 PLN telah mengoperasikan Green Hydrogen Plant (GHP) pertama di Indonesia yang berada di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang, Jakarta. Hingga saat ini, total sebanyak 24 GHP di lokasi tersebar se-Indonesia telah dioperasikan.
Darmawan menjelaskan, dari seluruh GHP tersebut, PLN dapat memproduksi hidrogen hijau hingga 203,6 ton per tahun, di mana sebanyak 75 ton per tahun dimanfaatkan untuk kebutuhan pendingin generator pembangkit. Sementara selebihnya, sebanyak 128 ton per tahun siap digunakan untuk mendukung berbagai sektor strategis.
"PLN siap
all out mengekspansi apa yang sudah kami awali di setiap lini, sehingga ekosistem hidrogen nasional dapat terakselerasi. Ini adalah komitmen PLN sebagai pionir ekosistem hidrogen
end-to-end di Indonesia,” kata Darmawan.
Tidak hanya menjadi produsen hidrogen hijau, lanjut Darmawan, PLN juga membangun infrastruktur pendukung lain, seperti
Hydrogen Refueling Station (HRS) sebagai stasiun pengisian hidrogen dan Hydrogen Center sebagai pusat kompetensi hidrogen pertama di Indonesia. Kolaborasi pun terus dilakukan, salah satunya kerja sama produksi green ammonia dengan Pupuk Kujang, yang kemudian dimanfaatkan pada
co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan, Banten.
Untuk mengakselerasi ekosistem green hydrogen di Indonesia, PLN juga melakukan beberapa joint study, seperti pengembangan Jakarta Hydrogen Mobility bersama KESDM, TransJakarta, dan DAMRI, serta
joint study untuk produksi
green hydrogen di Jambi dan Gresik bersama mitra dan Pupuk Indonesia.