Berita

Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) PKB ke-28 di JICC, Jakarta, pada Kamis 23 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres)

Politik

Istilah Londo Ireng Mengarah ke Orientasi Kepentingan Bukan Profesi

SENIN, 27 JULI 2026 | 04:01 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Arti Londo Ireng menjadi sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto menggunakan istilah tersebut dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis 23 Juli 2026.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan memandang, pernyataan Presiden Prabowo tentang Londo Ireng merupakan kiasan politik yang tidak tertuju kepada individu atau kelompok tertentu secara harafiah.

"Saya melihat pernyataan Presiden Prabowo lebih tepat dipahami sebagai kiasan politik, bukan ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu secara harfiah," kata Iwan kepada RMOL, Minggu 26 Juli 2026.


Menurutnya, istilah Londo Ireng itu merujuk pada oknum yang cara berpikir, keberpihakan dan atau tindakannya lebih menguntungkan kepentingan asing dibanding kepentingan nasional.

"Istilah “londo ireng” sendiri sudah lama dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai simbol bagi orang-orang yang secara fisik merupakan bagian dari bangsa sendiri," kata Iwan.

"Tetapi cara berpikir, keberpihakan, atau tindakannya lebih menguntungkan kepentingan asing dibanding kepentingan nasional," sambungnya.

Lebih lanjut, Iwan meyakini pernyataan Presiden Prabowo itu tak bisa dilepaskan dengan konteks sikap politiknya, yang menurutnya konsisten mengusung agenda kedaulatan nasional. 

Ia mengakui itu lantaran mengamati kebijakan hilirisasi, ketahanan pangan, swasembada energi, penguatan industri nasional, hingga keberanian Presiden Prabowo mengambil kebijakan yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan luar negeri. 

"Dalam situasi seperti itu, tentu akan muncul kelompok-kelompok yang secara terus-menerus membangun narasi pesimistis atau bahkan berupaya menggagalkan kebijakan strategis negara," kata Iwan.

"Saya kira Presiden sedang mengingatkan agar elite bangsa tidak menjadi perpanjangan kepentingan eksternal ketika Indonesia sedang berupaya memperkuat posisi tawarnya di tingkat global," demikian Iwan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya