Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Bisnis

Pertamina Dukung Ketahanan Energi Nasional Lewat Potensi Sawit

RABU, 22 JULI 2026 | 02:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendukung target Pemerintah untuk menekan angka impor Bahan Bakar Minyak (BBM) guna memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah strategis tersebut difokuskan melalui optimalisasi pemanfaatan kelapa sawit beserta produk turunannya.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam forum Pekan Riset Sawit Indonesia 2026. Ia menyatakan bahwa bioenergi berbasis sawit merupakan solusi nyata dan terukur untuk menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan energi domestik yang saat ini masih ditopang oleh impor minyak mentah dan produk BBM.
 
"Jawabannya ada di depan mata kita. Dengan sumber daya CPO (Crude Palm Oil) dan Tandan Kosong Sawit, kita harus mampu mengubahnya menjadi energi," ujar Oki dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.


Lebih lanjut, ia memaparkan tiga potensi utama bioenergi dalam menjaga ketahanan energi nasional. Pertama, ketersediaan biomassa domestik yang sangat melimpah. Kedua, perannya yang krusial dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat dekarbonisasi di sektor transportasi. Ketiga, bioenergi mampu menggerakkan roda ekonomi sirkular yang berkontribusi  pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
 
Pertamina tidak bisa berjalan sendiri dalam transisi energi ini. Skema yang harus dibangun adalah memperkuat seluruh ekosistem biofuel, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga distribusi ke masyarakat.
 
Langkah konkret tersebut telah diwujudkan melalui implementasi program biodiesel B50, yang saat ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penggunaan biodiesel terbesar di dunia. Jaringan distribusinya pun telah masif, menjangkau 86 dari 121 Terminal BBM milik Pertamina di seluruh Indonesia.
 
Di sisi lain, untuk menekan impor bensin, Pertamina juga tengah membangun fasilitas pengembangan bioetanol di Glenmore dengan kapasitas 30 ribu kiloliter per tahun. Langkah ini dilakukan guna mengejar target pencampuran E10 sesuai peta jalan (roadmap) Pemerintah.
 
Di samping CPO, Pertamina mulai melirik potensi besar  yang belum tergarap maksimal, yaitu Tandan Kosong Sawit (TKS). Dengan potensi volume mencapai sekitar 25 juta ton per tahun, TKS dinilai memiliki nilai tambah strategis untuk diolah menjadi bioetanol.
 
"Tantangan kita sekarang ada di hilirisasi. Bagaimana TKS ini bisa kita pecah menjadi glukosa lalu menjadi bioetanol. Kalau inisiatif ini berhasil, maka tidak ada lagi limbah yang sia-sia," jelas Oki.
 
Fokus pengembangan tersebut juga diikuti dengan peningkatan kapasitas infrastruktur kilang hijau. Saat ini, Pertamina tengah mendukung pembangunan Dedicated Green Refinery di Cilacap. Sebelumnya, perusahaan juga telah mengaplikasikan teknologi coprocessing secara komersial di Kilang Cilacap, dan tengah melakukan tahap uji coba untuk Kilang Balongan serta Dumai.
 
Menutup paparannya, Oki menegaskan bahwa transisi menuju kemandirian energi memerlukan ekosistem yang solid, mulai dari penyediaan bahan baku, pengembangan teknologi di kilang, hingga distribusi hilir.
 
"Ini semua membutuhkan kerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan industri, namun harus ada sinergi antara Pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya satu, mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi beban devisa negara," tutupnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya