Berita

Ahmad Khozinudin. (Foto: Istimewa)

Publika

Jaksa vs Polisi: Quo Vadis Pemberantasan Korupsi

MINGGU, 19 JULI 2026 | 03:01 WIB

DI kalangan aktivis, menyikapi kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam isu pemberantasan korupsi dan sejumlah isu lainnya, nampaknya terbelah. Namun, keterbelahan itu tetap bersatu dalam koridor muak dan marahnya pada perilaku pejabat di Republik ini.

Klaster pertama, mereka yang marah pada perilaku korup pejabat, namun tetap memberikan kepercayaan pada Presiden untuk memimpin perbaikan negeri. Meski, kadangkala sedikit disisipkan ultimatum pada presiden.

Yang masuk klaster ini, misalnya seperti Manusia Merdeka, mantan Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu. Said Didu begitu marah, atas marak dan masifnya korupsi para pejabat, yang dibelakang layar mereka berkolaborasi dengan geng SOP (Solo, Oligarki, Parcok).


Meskipun demikian, diantara kritikan tajam seorang Said Didu, dia masih memendam harapan bahwa Presiden bisa memimpin perang melawan korupsi pejabat dan keserakahan oligarki. Hanya saja, sesekali Said Didu memberikan ultimatum bahwa saat ini fasenya telah sampai pada posisi 'membunuh atau dibunuh'.

Klaster kedua, mereka yang sudah pada puncak kemarahan atas perilaku korup pejabat, dan sudah kehilangan  kepercayaan pada Presiden untuk memimpin perbaikan negeri. Kritik tajam bukan hanya ditujukan pada pejabat korup, melainkan juga pada Presiden.

Perseteruan antara institusi Bhayangkara (Polri) vs institusi Adhiyaksa (Kejaksaan) pada kasus korupsi Jampidsus Febrie Ardiansyah menjadi titik puncak kemarahan. Kasus ini terjadi menjadi penanda bahwa Presiden tak berdaya mengendalikan bawahan. Presiden ikut disandera oleh oligarki melalui bawahannya.

Aktivis mantan Danjen Kopassus, Mayjen TNI (purn) Soenarko, masuk kluster ini. Bahkan, dia menyebut Prabowo bagian dari pengkhianat karena tak mampu menyelesaikan persoalan ini, termasuk kasus ijazah palsu Jokowi.

Bisa dipahami, karena Presiden pemegang pucuk pimpinan kekuasaan. Semestinya,  Presiden berkuasa untuk menertibkan bawahan. Namun kenyataannya, Presiden tak berdaya.

Presiden hanya sibuk nyenye nyenye, sambil bergosip petani Indonesia liburan ke luar negeri. Sesekali, mengultimatum rakyat agar keluar dari NKRI jika merasa Indonesia tak lagi nyaman untuk tinggal.

Sedangkan bagi kita, segenap rakyat Indonesia hanya bisa merasakan betapa makin susahnya hidup. Yang dikejar sampai gurun Sahara dan benua Antartika bukanlah koruptor. 

Akan tetapi, rakyat kecil yang dikejar kejar-pajak. Hingga beredar kabar, di SPBU petugas pajak menyisir kendaraan bermotor dan mengancam tak boleh beli BBM kalau menunggak pajak.

Ini negeri sudah sangat semrawut, kerusakannya sudah sampai level yang sangat parah. Rakyat tak lagi bisa berkata-kata, kecuali hanya bertanya mau dibawa kemana negeri ini?

Ahmad Khozinudin
Advokat

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Jasa Kiai Kampung

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:26

Waketum MUI Usul Gaji Guru Pesantren di Atas UMR

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:16

Jangan Takut Kritik Pemerintah

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:04

Saham BYAN Mencuat, IAW Ingatkan soal Pengawasan Regulator

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:20

Melawan Amplop di Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:08

Program Streamlining Danantara Tak Boleh Identik dengan PHK

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:38

Investor Diajak Terlibat 37 Proyek Investasi Strategis di Jakarta

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:17

Budi Arie Tolak Cabut Analisis Pemilu sebelum 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:02

Jangan Berhenti pada Janji 15 Desember

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:35

Pajak Diduga Bocor Rp5 Triliun, Purbaya Kantongi 40 Nama Perusahaan Baja

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya