Berita

Yuri O. Thamrin (Foto: Dokumen Pribadi)

Publika

Polandia-Ukraina: Dari Gandum ke Luka Sejarah

JUMAT, 17 JULI 2026 | 11:26 WIB

DI TENGAH perang yang masih berkecamuk melawan Rusia, banyak orang mengira hubungan Polandia dan Ukraina akan semakin erat. Bagaimanapun, kedua negara memiliki kepentingan strategis yang sama. 

Polandia menjadi pintu utama masuknya bantuan militer Barat ke Ukraina, sementara Ukraina menjadi garis depan pertahanan Eropa menghadapi agresi Rusia. Namun, dalam beberapa bulan terakhir hubungan kedua negara justru kembali memanas.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya. Pada 2023-2024, Polandia dan Ukraina sempat berselisih mengenai impor gandum Ukraina. Petani Polandia memprotes membanjirnya produk pertanian Ukraina yang dinilai menekan harga di pasar domestik.  


Persoalan ketika itu terutama menyangkut kepentingan ekonomi. Meski sempat menimbulkan ketegangan, kedua pemerintah akhirnya berusaha mencari jalan tengah karena sama-sama menyadari pentingnya kerja sama strategis.

Kini persoalannya jauh lebih rumit. Yang diperdebatkan bukan lagi gandum, melainkan sejarah. Pada 11 Juli lalu, Polandia kembali memperingati Pembantaian Volhynia, ketika sekitar 100.000 warga sipil Polandia dibunuh oleh kelompok nasionalis Ukraina (UPA) pada 1943-1944.  

Bagi banyak orang Polandia, tragedi tersebut merupakan luka sejarah yang belum pernah benar-benar sembuh. Sebaliknya, di Ukraina, sebagian tokoh UPA tetap dipandang sebagai pejuang kemerdekaan yang melawan pendudukan Nazi dan Uni Soviet. 

Perbedaan cara memandang sejarah inilah yang kini kembali memicu ketegangan. Situasi semakin memanas setelah Presiden Volodymyr Zelenskyy memberikan 
penghormatan kepada tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan UPA. 
Langkah tersebut memicu reaksi keras di Polandia, terutama dari kalangan nasionalis. Presiden Karol Nawrocki mengambil sikap yang lebih tegas, sementara pemerintahan Donald Tusk menghadapi dilema. 
Di satu sisi, Polandia tetap ingin mendukung Ukraina menghadapi Rusia. Di sisi lain, pemerintah juga tidak dapat mengabaikan sentimen publik yang sangat sensitif terhadap tragedi Volhynia.

Yang menarik, kedua negara sebenarnya tidak memiliki banyak pilihan selain tetap bekerja sama. Dari sudut pandang keamanan, Polandia membutuhkan Ukraina sebagai buffer state terhadap Rusia. 

Sebaliknya, Ukraina sangat bergantung pada Polandia sebagai jalur utama bantuan militer dan logistik dari negara-negara Barat. Dengan kata lain, mereka mungkin sedang berselisih, tetapi kepentingan strategis membuat keduanya sulit untuk benar-benar berpisah.

Esensi persoalan yang dihadapi Polandia dan Ukraina sebenarnya sederhana. Kepentingan strategis mendorong kedua negara untuk tetap bekerja sama menghadapi Rusia. Namun, memori sejarah terus membayangi hubungan keduanya. 

Majalah The Economist (11 Juli 2026) merangkum situasi tersebut dengan ungkapan yang sangat tepat: history is colliding with strategy --- ketika sejarah bertabrakan dengan strategi.

Hubungan Polandia dan Ukraina mengingatkan bahwa hubungan antarnegara tidak pernah ditentukan oleh kepentingan strategis semata. Sejarah dan memori kolektif juga membentuk cara bangsa-bangsa memandang satu sama lain. 

Karena itu, tantangan diplomasi bukan hanya menemukan kepentingan bersama, tetapi juga mengelola warisan masa lalu agar tidak menjadi penghalang bagi kerja sama di masa depan.

Yuri O. Thamrin

Penulis adalah Dubes RI untuk Inggris, Irlandia, IMO (2008-2011) dan untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020)


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya