Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Wall Street Melemah, Saham Chip Seret Nasdaq dan S&P 500

JUMAT, 17 JULI 2026 | 08:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Wall Street kembali kehilangan tenaga setelah reli selama dua hari berturut-turut. 

Di tengah optimisme terhadap musim laporan keuangan dan data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid, gelombang aksi jual pada saham-saham semikonduktor justru menjadi beban utama yang menyeret mayoritas indeks saham AS ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, waktu setempat.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,20 persen ke 52.553,32. Sementara itu, S&P 500 melemah 0,51 persen ke 7.533,77, sedangkan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot paling dalam, yakni 1,47 persen ke 25.881,95. Pelemahan dipicu aksi jual di sektor teknologi, khususnya saham-saham produsen chip.


Sektor teknologi dalam indeks S&P 500 turun 1,8 persen, sementara indeks semikonduktor anjlok 4,3 persen. Saham-saham produsen chip memori menjadi yang paling tertekan, dengan SanDisk, Western Digital, Seagate Technology, dan Intel terkoreksi antara 5,8 persen hingga 12,6 persen. Padahal, TSMC sebelumnya melaporkan lonjakan laba kuartalan sebesar 77 persen, namun hasil tersebut belum mampu mengangkat sentimen pasar.

Di tengah tekanan sektor teknologi, saham UnitedHealth Group justru menguat 1,2 persen setelah membukukan laba di atas ekspektasi analis dan menaikkan proyeksi laba tahun 2026. Kenaikan itu mendorong sektor kesehatan naik 2,2 persen dan membantu membatasi pelemahan indeks Dow Jones.

Sebaliknya, United Airlines turun 1,8 persen karena lonjakan harga minyak diperkirakan akan meningkatkan biaya operasional perusahaan. Sementara GE Aerospace juga melemah 4,1 persen meski telah menaikkan proyeksi laba tahun 2026.

Dari sisi ekonomi, penjualan ritel AS pada Juni masih mencatat pertumbuhan, klaim pengangguran menurun, dan aktivitas manufaktur menguat. Namun, pelemahan sektor perumahan serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Harga Minyak Dunia Menetap di Level 84 Dolar AS

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:17

Kejaksaan Agung Casablanca Bebaskan A.M. demi Jaga Objektivitas Proses Hukum

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:16

Usulan Nasdem Naikkan Ambang Batas Diduga untuk Jegal PSI

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:14

Komisi XII DPR: Kelangkaan BBM di Sumut Bukan Persoalan Biasa

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:58

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Dolar AS Melemah ke Rp17.943

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45

Pertarungan Bisnis Adidas-Nike dan Pundi Pundi FIFA di Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:44

Pulau Baai Butuh Solusi Permanen, Bukan Pengerukan Berulang

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:39

Emas Antam Anjlok Rp27.000, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31

Bobby Adhityo Dicecar KPK soal Pengaturan Temuan Audit BPK

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:26

Terungkap, 307 Ribu QR Code BBM Subsidi Bermasalah Diblokir

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:17

Selengkapnya