Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Investor SBN Ritel Didominasi Milenial, Tembus 52 Persen

JUMAT, 17 JULI 2026 | 07:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa mayoritas investor Surat Berharga Negara (SBN) ritel berasal dari kalangan usia produktif, terutama generasi milenial. 

Kondisi ini menunjukkan meningkatnya minat generasi muda terhadap instrumen investasi yang relatif aman karena dijamin oleh negara.

Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu, Chandra AS Wibowo, mengatakan sebanyak 52 persen investor SBN ritel merupakan generasi milenial atau kelompok usia di bawah 40 tahun.


"Kalau dilihat dari proporsi investor SBN ritel, itu ternyata 52 persen generasi milenial, artinya yang 40 tahun ke bawah," ujar Chandra dalam acara UOB Media Literacy Circle bertajuk Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 di Jakarta, Kamis 16 Juli 2026. 

Selain milenial, investor SBN ritel juga berasal dari generasi X dengan porsi 26,5 persen, sementara generasi Z menyumbang sekitar 4,7 persen. Sisanya berasal dari kelompok usia lainnya.

Menurut Chandra, dominasi investor usia produktif tidak terlepas dari karakteristik SBN ritel yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sedang aktif bekerja dan membangun aset.

"Mayoritas investor SBN ritel itu usia produktif. Instrumen ini memang cocok karena mereka sedang fokus berkarya dan bekerja," katanya.

Ia menilai, dibandingkan berinvestasi di saham yang membutuhkan pemantauan pasar secara rutin, SBN ritel lebih praktis karena investor cukup membeli instrumen tersebut dan menerima pembayaran kupon secara berkala.

"Kan tinggal beli, sudah ditinggal saja, nanti tiap bulan ada tambahan cashflow. Jadi ini sangat cocok buat generasi yang produktif," ujarnya.

Chandra menambahkan, meningkatnya minat generasi muda terhadap obligasi negara juga dipengaruhi kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. 

Menurutnya, masyarakat yang memiliki akses informasi lebih luas kini cenderung memilih instrumen investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan aset yang berfluktuasi tinggi.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya