Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Realisasi investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun sepanjang semester I-2026. Nilai tersebut naik 6,9 persen secara tahunan (yoy).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan kontribusi hilirisasi terhadap total investasi nasional juga semakin meningkat.
"Rata-rata total kontribusi investasi di bidang hilirisasi ini mencapai hampir 30 persen atau 29,7 persen, peningkatan 6,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini memang peningkatan yang cukup tajam, karena kalau dibandingkan dengan tahun 2023 itu kontribusi dari hilirisasi terhadap total investasi mencapai 24-25 persen," ujar Rosan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Rosan menjelaskan, investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral dengan nilai mencapai Rp206,5 triliun. Sebagian besar investasi tersebut berasal dari industri pengolahan nikel.
"Memang pada saat ini masih didominasi oleh bidang mineral, kurang lebih mencapai Rp206,5 triliun," ungkapnya.
Di luar sektor mineral, investasi hilirisasi pada sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp54,4 triliun. Investasi tersebut mencakup pengembangan komoditas kelapa sawit, karet, kakao, hingga produk turunan bioenergi.
Sementara itu, investasi hilirisasi di sektor minyak dan gas bumi tercatat sebesar Rp35,4 triliun. Adapun sektor perikanan dan kelautan menyumbang investasi senilai Rp3,8 triliun.
Dari sisi wilayah, Rosan mengungkapkan investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Nilainya mencapai Rp227,3 triliun atau setara 75,7 persen dari total investasi hilirisasi pada semester I-2026.
Sementara di Pulau Jawa hanya 24,3 persen dengan nilai Rp72,8 triliun.
Berdasarkan sumber investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi dengan nilai Rp212,8 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp87,3 triliun.
"Dan di dalam negeri ini juga investasinya yang berhubungan dengan hilirisasi juga persentase-nya sangat tinggi, dalam negeri itu Rp87,3 triliun, sedangkan PMA-nya itu Rp212,8 triliun," tegas Rosan.
Menurut Rosan, mayoritas investasi hilirisasi tersebut tersebar di sejumlah daerah penghasil sumber daya alam seperti Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Jadi kita ketahui ini lebih banyak di Maluku Utara, di Sulawesi, di NTB, dan lain-lainnya. Jadi ini yang bisa saya sampaikan berdasarkan semester pertama tahun 2026," tandasnya.