Berita

Trofi Piala Dunia. (Foto: Istimewa)

Publika

Sepakbola: Laboratorium Budaya Perubahan

SENIN, 13 JULI 2026 | 01:10 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

SEPAKBOLA bukan sekadar olahraga, melainkan laboratorium budaya perubahan, tempat bangsa menorehkan sejarah baru. Ada spirit untuk menggerakan semua itu.

Banyak negara ingin masuk putaran final Piala Dunia--hanya untuk merasakan ritual akbar--turnamen sepakbola 4 tahunan itu. 

Tapi ada beberapa negara yang datang ke sana dengan spirit membuat sejarah baru. Karena konsep dalam olahraga bukan “jas merah” (jangan sekali-sekali melupakan sejara), tetapi: “Buatlah sejarah!”


Empat timnas (Perancis, Spanyol, Inggris dan Argentina) bisa lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 bukan semata karena berbekal teknik, strategi dan kekompakan tim yang mumpuni, tetapi juga spirit untuk menorehkan sejarah baru. 

Bahkan Argentina dan Perancis bukan hanya datang untuk memperbarui database gelar juara menjadi 4 dan 3 kali, tetapi juga memecahkan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia bagi jagoan mereka, Lionel Messi dan Kylan Mbappe. 

Saat tulisan ini dibuat, Lionel Messi (39), Kapten Timnas Argentina sudah memecahkan rekor itu dengan 21 gol, sementara Kapten Timnas Perancis Kylan Mbappe baru mencetak 20 gol, di atas rekor yang sebelumnya dipatok Miroslav Klose (Jerman) -- kini di posisi ketiga dengan 16 gol. 

Tapi mengingat usianya yang masih muda,  Mbappe (27) kemungkinan masih bisa menambah jumlah gol lebih banyak di dua atau tiga Piala Dunia mendatang yang masih bisa diikutinya.

Bagi negara-negara yang progresif, perubahan adalah nilai, semacam budaya yang terus hidup dalam masyarakatnya. Karena itu perjuangan dan inovasi menjadi jalan hidup mereka.

Tapi dibandingkan dengan Spanyol yang hanya ingin menambah gelar menjadi dua kali (pertama: 2010), spirit Inggris jauh lebih kuat. Kane-Bellingham dkk ingin memecah kebekuan 60 tahun hampa gelar, sejak menjuarai Piala Dunia pada 1966.

Olahraga dan Energi Perubahan

Benar, peradaban memang tidak hanya bergerak oleh dorongan material atau politik, melainkan oleh nilai transendensi yang memberi arah dan makna. 

Dalam konteks Barat, nilai transendensi sering diekstraksi menjadi energi perubahan. Ia tidak berhenti sebagai ritus, melainkan dijadikan proyek untuk mendinamisasikan peradaban.

Piala Dunia menjadi panggung di mana ideologi perubahan tampil nyata. Tim-tim berorientasi perubahan datang dengan semangat memperbaiki database: statistik gol, rekor kemenangan, capaian generasi baru. 

Setiap pertandingan adalah perjuangan mengubah angka, menulis ulang sejarah. Sebaliknya, tim yang hanya bangga ikut serta menjadikan kehadiran sebagai ritus kebangsaan, bukan arena pecah rekor. Sepakbola, dengan demikian, adalah metafora peradaban: antara proyek perubahan dan ritus memori.

Peradaban yang Dilampaui

Fenomena ini tidak hanya tampak di olahraga, tetapi juga dalam cara bangsa progresif memperlakukan sejarah. Sejarah, bagi negara-negara progresif, dengan demikian, memang hanya sekedar catatan, bukan untuk dirindukan. 

Karena itu Italia modern tidak pernah terdengar merindukan Romawi yang agung. Romawi dihormati sebagai simbol, tetapi tidak dijadikan proyek nostalgia. Orientasi Barat adalah melampaui, bukan menghidupkan kembali. 

Romawi menjadi batu loncatan, bukan tujuan. Inilah ciri ideologi perubahan: sejarah dipandang sebagai fondasi untuk mencipta masa depan, bukan sebagai beban untuk diulang.

Mesin Waktu: Imajinasi Proyek

Bahkan HG (Herbert George) Wells, penulis Inggris, menggagas konsep mesin waktu (The Time Machine ) bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk bereksperimen dengan kemungkinan. 

Mesin waktu adalah metafora radikal dari ideologi perubahan: waktu bisa ditembus, diubah, dijadikan arena proyek. Transendensi diolah menjadi imajinasi progresif, bukan ritus siklus.

Dan sejak awal 1950-an, The Guinness Book of Records menjadi ikon budaya perubahan. Ia membakukan capaian manusia dalam bentuk angka, tetapi bukan untuk diabadikan -- melainkan untuk dipecahkan. 

Rekor yang bertahan lama dianggap stagnasi; yang dirayakan adalah “pecahnya rekor.” Database menjadi arena kompetisi, dan perjuangan manusia adalah mengubah catatan itu menjadi lebih baik.

Sintesis Filosofis

- Barat: transendensi diekstraksi menjadi energi perubahan, diwujudkan dalam proyek, rekor, dan imajinasi masa depan.
- Timur: transendensi diekspresikan dalam ritus, menjaga kesinambungan memori dan identitas.
- Ukuran peradaban: bukan sekadar rekor atau ritus, melainkan sejauh mana nilai transendensi mampu menjaga martabat manusia sambil mendinamisasikan sejarah.

Penutup

Dengan demikian, ideologi perubahan adalah seni mengekstraksi transendensi agar peradaban tidak sekadar merawat memori, tetapi terus menulis sejarah baru. Ideologi perubahan bukan sekadar dorongan untuk “pecah rekor” atau “buat sejarah baru.” 

Ia adalah cara peradaban mengekstraksi nilai transendensi agar manusia tidak berhenti pada nostalgia, tetapi juga tidak kehilangan akar. 

Sepakbola, Romawi, mesin waktu, dan Guinness Book of Records adalah ikon yang menunjukkan bagaimana transendensi bisa diolah menjadi energi perubahan.

*Perumus dan Peramu Peradaban

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya