Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Presisi

Menjual Romantasi

MINGGU, 12 JULI 2026 | 23:01 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KALAU suatu hari Anda berjalan-jalan di sebuah kota, lalu menemukan toko buku yang seluruh isinya hanya novel roman, mungkin Anda akan tersenyum. “Apa ada yang mau membeli?” pikir Anda. Bukankah toko buku biasanya menjual segala macam buku, dari agama sampai akuntansi, dari buku anak sampai filsafat?

Namun di Oxford, Inggris, awal Juli lalu, sebuah toko bernama Bad Girl Books justru dibuka dengan konsep yang sebaliknya: hanya menjual romantasi  yang merupakan istilah yang saya Indonesiakan dari romantasy, gabungan romance (roman) dan fantasy (fantasi). Anehnya, sebelum pintu dibuka, ratusan orang sudah mengantre berjam-jam.

Mereka datang sejak subuh, bahkan ada yang membawa koper kosong untuk diisi buku. Peristiwa itu menarik bukan karena nama tokonya yang nyentrik, melainkan karena ia memperlihatkan satu kenyataan: orang ternyata tidak hanya membeli buku. Mereka membeli pengalaman, imajinasi, dan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas.


Nama tokonya sendiri mengundang senyum. Mengapa harus Bad Girl Books? Apakah semua pembacanya perempuan “nakal”? Tentu tidak. Dalam budaya populer Barat, istilah bad girl lebih sering dipakai untuk menggambarkan perempuan yang berani melanggar pakem, mandiri, keras kepala, atau tidak mau tunduk pada stereotip.

Di rak-rak toko buku memang bertebaran judul dengan frasa Bad Girl, mulai dari novel, memoar, hingga buku pengembangan diri. Barangkali para pendirinya sadar, “Bad Girl Books” lebih mudah diingat dari “Good Girl Books”. Lagi pula, dalam dunia pemasaran, nama yang sedikit usil sering kali lebih cepat mencuri perhatian.

Di era ketika banyak orang meramalkan toko buku fisik akan mati digilas dunia digital, justru muncul toko yang hidup karena keberanian memilih ceruk yang sangat sempit. Mereka tidak menjual semua hal kepada semua orang. Mereka menjual sesuatu yang sangat spesifik kepada orang-orang yang benar-benar mencintainya.

Mungkin di Indonesia belum ada toko buku yang mengkhususkan diri hanya pada satu genre seperti itu. Namun bukan berarti budaya membaca berdasarkan genre asing bagi kita.

Sejak lama kita mengenal rak “roman”, “cerita silat”, “detektif”, “horor”, atau “novel remaja”. Generasi yang tumbuh pada dekade 1970-an hingga 1990-an tentu masih ingat bagaimana nama-nama seperti Marga T., Mira W., atau Kho Ping Hoo memiliki pembaca fanatik yang rela menunggu buku berikutnya terbit.

Kata “roman” sendiri sebenarnya bukan istilah baru dalam khazanah sastra Indonesia. Ia telah lama menjadi bagian dari sejarah penerbitan kita. Bahkan salah satu roman terbesar dalam sastra Indonesia adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, karya Buya HAMKA yang bukan sekadar sastrawan, tapi ulama besar dan mufasir Al-Qur’an.

Di tangan HAMKA, roman tidak pernah menjadi pelarian dari kenyataan. Ia justru menjadi jendela untuk melihat kenyataan dengan lebih jernih. Kisah cinta Zainuddin dan Hayati bukan sekadar cerita dua insan yang gagal bersatu.

Di baliknya ada kritik terhadap adat yang membelenggu, perenungan tentang martabat manusia, serta pergulatan antara cinta, agama, dan keadilan sosial. Pembaca memang datang karena kisah cintanya, tetapi pulang membawa pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar “siapa akhirnya menikah dengan siapa”.

Tradisi roman di Indonesia sendiri sesungguhnya jauh lebih berwarna daripada yang sering dibayangkan. Ada roman religius yang memadukan cinta dengan pergulatan iman, sebagaimana ditulis Buya HAMKA. Ada roman populer yang ringan dan akrab dengan kehidupan sehari-hari melalui karya-karya Marga T. dan Mira W.

Ada pula roman sejarah, roman remaja, roman psikologis, hingga roman yang secara terbuka mengeksplorasi seksualitas. Di wilayah terakhir ini, publik mengenal nama Enny Arrow yang melegenda melalui novel-novel stensilan berisi erotika vulgar yang beredar luas pada dekade 1980-an dan 1990-an.

Setelah itu muncul pendekatan yang berbeda dari Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Melalui karya seperti Mereka Bilang, Saya Monyet! dan Saman, seksualitas tidak lagi sekadar menjadi sensasi, melainkan perangkat sastra untuk membicarakan tubuh, kebebasan, relasi kuasa, dan pengalaman perempuan.

Sementara itu, Moammar Emka lewat Jakarta Undercover membawa pembaca memasuki sisi gelap kehidupan malam Jakarta melalui perpaduan reportase dan narasi.

Ragam itu menunjukkan bahwa “roman” bukanlah satu warna. Ia adalah payung besar yang menaungi karya-karya dengan tujuan, gaya, dan kedalaman yang sangat berbeda mulai dari yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, sekadar hiburan, hingga yang sengaja mengguncang batas-batas moral dan sosial.

Di sinilah letak perdebatan yang mengiringi lahirnya toko seperti Bad Girl Books. Sebagian orang buru-buru menyimpulkan bahwa romantasy tidak lebih dari “fairy smut”, yakni pornografi yang dibungkus kerajaan peri, naga, dan sihir. Anggapan itu tidak sepenuhnya lahir dari ruang kosong.

Dalam dunia penerbitan Barat memang dikenal pembedaan antara romance, yang berfokus pada hubungan cinta; spicy romance, yang memuat adegan seksual secara cukup terbuka; dan smut, ketika adegan seksual eksplisit menjadi salah satu elemen utama cerita. Tidak sedikit novel romantasy yang masuk kategori terakhir, sehingga kritik terhadap genre ini pun dapat dipahami.

Namun, menyamakan seluruh romantasy dengan smut juga merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Para pembacanya justru menilai daya tarik utama genre ini terletak pada kemampuan penulis membangun dunia-dunia imajiner (world-building), menciptakan konflik antarkarakter, menghadirkan petualangan, serta merangkai kisah cinta yang menjadi penggerak emosi pembaca.

Unsur erotis, bagi banyak penggemarnya, hanyalah salah satu komponen dengan kadar yang berbeda-beda pada setiap novel. Ada yang nyaris tidak ada, ada yang sekadar bumbu, dan ada pula yang memang menjadi menu utama.

Karena itu, Bad Girl Books tidak tepat dipahami sebagai toko porno yang menyamar menjadi toko buku. Ia adalah toko buku yang memilih satu ceruk pasar yang sangat spesifik yaitu romantasy, sebuah genre yang spektrumnya sangat luas, dari karya yang relatif bersih hingga yang sangat eksplisit.

Yang sesungguhnya mereka bangun bukan sekadar rak-rak berisi novel, melainkan sebuah komunitas pembaca yang sebelumnya hanya saling bertemu di BookTok, Instagram, dan Reddit. Dalam pengertian itu, toko tersebut bukan hanya peristiwa bisnis, tetapi juga sebuah gejala budaya: bukti bahwa di zaman media sosial, orang tetap bersedia mengantre berjam-jam demi bertemu sesama pencinta buku.

Di situlah sebenarnya sastra menjalankan tugasnya. Ia menghibur, tetapi juga mengasah nurani. Ia menghadirkan air mata, tapi sekaligus mengajak berpikir. Roman yang baik tak menjadikan pembacanya lupa kepada kehidupan. Sebaliknya, ia membantu pembaca memahami kehidupan dengan cara yang lebih halus dari pidato atau ceramah.

Fenomena romantasy menunjukkan bahwa setiap zaman selalu melahirkan bentuk pelariannya sendiri. Dunia modern yang serba cepat membuat banyak orang mencari ruang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas. Mereka memasuki kerajaan naga, dunia peri, atau kisah cinta penuh sihir.

Tidak semuanya bermutu tinggi, tentu saja. Sebagian hanya menawarkan sensasi. Sebagian lagi mengandalkan adegan-adegan yang sengaja dibuat “pedas” agar laris. Namun tidak adil pula jika seluruh genre itu disapu bersih sebagai bacaan murahan. Seperti halnya film, musik, atau sastra pada umumnya, kualitas setiap karya tetap ditentukan oleh bagaimana ia ditulis.

Barangkali yang lebih menarik untuk direnungkan bukanlah jenis bukunya, melainkan keberhasilan membangun komunitas pembaca. Orang-orang rela datang dari berbagai kota bukan semata untuk membeli novel, melainkan untuk bertemu sesama pecinta buku.

Mereka ingin berbincang tentang tokoh favorit, bertukar rekomendasi, dan merasakan bahwa kegemaran membaca bukan hobi yang sunyi. Di tengah budaya media sosial yang sering membuat orang sibuk berbicara, mereka justru berkumpul karena sama-sama menikmati membaca.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak kecil untuk membangun ekosistem serupa. Kita memiliki ribuan penulis, ratusan penerbit, termasuk yang indi, serta tradisi sastra yang kaya.

Yang sering kurang adalah keberanian membangun komunitas berdasarkan minat pembaca, bukan semata-mata berdasarkan strategi penjualan. Toko buku bisa menjadi ruang perjumpaan, bukan hanya ruang transaksi. Perpustakaan dapat menjadi tempat orang saling bertukar gagasan, bukan sekadar tempat meminjam buku.

Mungkin suatu hari nanti akan lahir toko yang khusus menjual sastra klasik Indonesia, atau toko yang seluruh raknya berisi sejarah Nusantara, kitab-kitab keislaman, buku anak, atau novel detektif lokal.

Bukan mustahil pula muncul toko yang menjadi rumah bagi para pembaca HAMKA, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, atau Tere Liye. Sebab yang dicari orang sesungguhnya bukan hanya buku, melainkan tempat di mana mereka merasa “pulang” kepada kegemaran yang sama.

Hari libur sering kita isi dengan berjalan ke pusat perbelanjaan. Tak ada yang salah dengan itu. Namun sesekali, bayangkan betapa menyenangkannya jika tujuan perjalanan kita adalah sebuah toko buku yang membuat waktu berjalan lebih lambat. Tempat orang datang bukan untuk membeli sebanyak mungkin, melainkan untuk menemukan satu buku yang akan tinggal lama di dalam ingatan.

Barangkali itulah yang membedakan buku dengan barang lain. Setelah dibeli, sepatu akan aus, pakaian akan usang, dan gawai akan tergantikan model baru. Tetapi sebuah buku yang baik, seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, tetap sanggup mengetuk hati pembacanya, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.

Sebab toko buku sejatinya tidak menjual kertas dan tinta. Ia menjual kemungkinan bahwa seseorang akan pulang dengan pikiran yang sedikit lebih luas dan hati yang sedikit lebih lembut daripada ketika ia datang.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya