Berita

Yudhi Hertanto. (Foto: Dok. Penulis)

Publika

Menimbang Kegilaan Struktural

MINGGU, 12 JULI 2026 | 22:04 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

SENGKARUT! Drama tingkat tinggi tersaji di panggung ruang publik. Ketegangan terjadi antar aktor dan institusi. Bisa jadi saling sandera.

Dalam riuh hiruk pikuk tersebut, publik semakin kehilangan kepercayaan dan mengalami kelelahan psikologis. Perlu upaya serius mengatasi kegilaan struktural, dan menghadirkan kewarasan bersama di zaman modern.

Kesadaran akan kesehatan mental (mental health awareness), menjadi marak didiskusikan. Terdapat paradoks sosiologis yang membingungkan: mengapa semakin kita sadar akan kesehatan mental, angka depresi, kecemasan massal, dan keletihan psikologis (burnout) justru terus melonjak (Davies, 2021)?


Respons arus utama atas fenomena ini hampir selalu seragam, reduksionisme biomedis (Moncrieff, 2008). Problemnya ditelusuri dalam kadar neurotransmitter di otak. Lantas solusinya, obat penenang saraf atau terapi perilaku kognitif agar bisa beradaptasi dengan lingkungan (Moncrieff, 2008). Perspektif atomistik, manusia laiknya suku cadang rusak di pabrik sosial yang berfungsi normal.

Terbilang substansi yang luput diperbincangkan: bagaimana jika yang sakit bukan isi kepala, melainkan dalam struktur ekosistem masyarakat? Ketika mayoritas populasi mengalami tekanan psikologis serupa, penjelasan biologis-individual kehilangan validitasnya (Pilgrim, 2020).

Konsep kegilaan sosial, dalam konteks relasi terstruktur bersama perlu ditelaah ulang secara kritis.

Patologi Normalitas

Dalam kajian Erich Fromm, pada The Sane Society (1955) tersebut tesis: sebuah masyarakat secara keseluruhan bisa mengalami gangguan jiwa, jika struktur sosio-ekonominya mengabaikan kebutuhan eksistensial manusia. Di mana manusia, bagi Fromm, membutuhkan keterikatan yang otentik, rasa memiliki, identitas diri yang unik, dan ruang kreativitas (Fromm, 1955).

Sayangnya, dalam corak ekonomi kapitalisme modern serba pasar, manusia dipaksa melihat dirinya sebagai komoditas yang harus laku dijual (Fromm, 1955). Lalu terjebak dalam situasi konformitas robotik (automaton conformity). Demi menghindari isolasi sosial dan kecemasan, kita menanggalkan otentisitas batin lalu mengadopsi kepribadian robotik sesuai pasar.

Di titik inilah patologis normalitas, bekerja subtil. Ketika jutaan orang mengalami keterasingan yang sama, pendangkalan spiritual, dan stres kronis demi mengejar target nominal, ketidakwarasan massal justru dianggap sebagai normalitas atau indikator adaptasi sosial yang sukses (Fromm, 1955). Sehingga, yang waras dianggap gila, dan yang patologis dianggap normal. Dunia terbalik.

Pun demikian suguhan media kali ini. Para elit aparatur hukum saling bertengkar, meski para pihak memiliki coreng dan andil kesalahan. Publik semakin skeptis, bahkan menarik diri jauh dari harapan akan keadilan dan kebaikan bersama.

Jeruji Psikologis

Jika Fromm menyoroti pasar mengalienasi jiwa, Michel Foucault lewat History of Madness membongkar definisi kegilaan, konstruksi historis dari relasi kekuasaan untuk kontrol sosial (Foucault, 1961).

Sesuai temuan Foucault, sejak abad ke-17, momentum pengurungan pada orang gila dan gelandangan dipicu motif borjuasi. Siapa pun yang menolak ritme kerja industri, tidak produktif, menyimpang dari rasionalitas instrumental disingkirkan dari ruang publik.

Pada abad modern, mekanisme penundukan tidak membutuhkan dinding suaka fisik yang suram. Kekuasaan bermutasi menjadi tatapan medis (the medical gaze) (Foucault, 1961). Melalui berbagai institusi klinis, ketidakmampuan beradaptasi langsung dijinakkan dengan label diagnosis medis.

Arsitektur pendisiplinan tersebut, bahkan bergeser ke dalam kesadaran internal (Han, 2015). Hegemoni hustle culture dan tuntutan performa digital, secara sukarela mengeksploitasi diri kita sendiri atas nama self-improvement dan ambisi kesuksesan finansial (Srnicek, 2017). Kontras dengan aksi elit yang berhasil melakukan aksi licik, dan menculasi publik.

Ketika tubuh dan mental bersama tumbang akibat keletihan akut (burnout), bahkan tidak ada gugatan pada sistem yang menuntut produktivitas tanpa batas (Morrall, 2019). Justru menyalahkan diri sendiri, karena merasa kurang tangguh (less resilient), lambat, atau gagal memenangkan kompetisi eksistensial. Meski problem struktural muncul secara aktual dan krusial.

Depolitisasi Penderitaan

Dalam dunia modern, Peter Morrall menyebut kelahiran masyarakat yang tidak waras (insane society) (Morrall, 2019). Sistem ini peka melihat peluang di balik penderitaan kolektif (Esposito & Perez, 2014). Ketika struktur makro melahirkan kecemasan akibat melambungnya biaya hidup, dan runtuhnya jaring pengaman sosial, sistem justru tidak merombak kebijakannya.

Penderitaan sosial didefinisikan ulang, menjadi gangguan biologis privat yang harus disembuhkan secara mandiri lewat konsumsi barang jasa. Proses medikalisasi ini merupakan bentuk depolitisasi massa yang sangat berbahaya (Fisher, 2009).

Keputusasaan warga, yang ruang hidup ekologisnya digusur, diredam bukan dengan keadilan distributif atau kebijakan upah yang manusiawi. Protes bawah sadar batin manusia tersebut dikunci rapat di dalam kode diagnosis klinis (Horwitz & Wakefield, 2007).

Kita dilatih untuk meregulasi emosi secara privat, agar besok pagi bisa kembali menjadi unit produksi yang patuh dan efisien, tanpa pernah sempat mempertanyakan mengapa struktur sosial kita begitu toksik (Davies, 2021).

Memulihkan Kewarasan


Melihat krisis kesehatan mental kontemporer, semata dari kacamata medis-individual adalah kenaifan sosiologis. Selama kesehatan mental diposisikan sebagai tanggung jawab privat konsumen, kita sedang memutus sinyal alarm tanpa memadamkan api kebakaran. Penderitaan psikologis massal, adalah sinyal protes dari kemanusiaan yang menolak diubah menjadi instrumen kecil dalam sistem besar kehidupan sosial.

Strategi penanganan kecemasan dan kelelahan mental publik, tidak boleh berhenti pada penyediaan pusat kesehatan masyarakat. Pemulihan kewarasan sejati hanya bisa dicapai melalui transformasi preventif bersifat struktural-sistemik: memperkuat jaring pengaman sosial, menyediakan ruang publik inklusif, serta membangun solidaritas komunal yang renggang akibat individualisme radikal (Morrall, 2019).

Untuk keluar dari jebakan tatanan insane society, gerakan kewarasan harus bertransformasi menjadi kesadaran politik kolektif. Kita tidak hanya butuh ditenangkan secara klinis (sedated), tetapi memerlukan tatanan sosial yang adil, manusiawi, dan memiliki kesadaran dari mulai pucuk hingga ke akarnya pada kehidupan bersama. Waraslah!

Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya