Unggahan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, yang mengutip Surah Al-Anfal ayat 58 di tengah tuduhan bahwa AS telah melanggar komitmen dalam MoU gencatan senjata (Akun X @IRIMFA_SPOX)
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat (AS) melanggar komitmen dalam nota kesepahaman (MoU) yang menjadi dasar tercapainya gencatan senjata antara kedua negara.
Melalui unggahan di media sosial X, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei mengatakan sejak awal MoU tersebut tidak dibangun atas dasar saling percaya. Menurutnya, kesepakatan hanya dibuat berdasarkan prinsip bahwa setiap komitmen dari satu pihak harus dipenuhi dengan komitmen yang sama dari pihak lainnya.
Mengawali pernyataannya, Baghaei mengutip Surah Al-Anfal ayat 58 sebagai dasar sikap Iran terhadap dugaan pelanggaran perjanjian.
"Dan jika engkau khawatir akan pengkhianatan dari suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat," tulis Baghaei, dikutip Kamis, 9 Juli 2026.
Baghaei kemudian menegaskan bahwa AS telah mengingkari kesepahaman yang sebelumnya disepakati.
"Nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat sejak awal tidak dibangun atas dasar kepercayaan, melainkan melalui mekanisme yang jelas, yaitu 'komitmen dibalas dengan komitmen', karena tidak ada tanda-tanda itikad baik dari pihak lawan," tulis Baghaei.
Ia juga menuding Washington melanggar klausul kelima dalam MoU yang mengakui tanggung jawab Iran dalam menjaga keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, tindakan sepihak AS, termasuk serangan terhadap Iran, telah merusak fondasi kesepakatan yang menjadi dasar gencatan senjata.
"Amerika Serikat, meski terdapat ketentuan yang jelas dalam klausul kelima nota kesepahaman tersebut, justru menentang ketentuan itu dan pada praktiknya melanggar struktur perjanjian melalui tindakan sepihak serta serangan terhadap Iran," katanya.
Meski demikian, Baghaei menegaskan Iran tidak akan mundur. Ia memastikan negaranya akan tetap mempertahankan kepentingan nasional dan menjalankan hak kedaulatannya.
"Republik Islam Iran akan terus berupaya melindungi kepentingan nasionalnya dan menjalankan kedaulatannya dengan teguh," tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas komentar Presiden AS Donald Trump yang mengatakan dirinya tidak memperkirakan konflik dengan Iran akan kembali memanas. Namun, Trump juga mengisyaratkan bahwa Washington siap memberikan respons militer yang lebih keras apabila terjadi serangan baru.
Menurut Iran, pernyataan Trump serta tindakan yang diambil pemerintah AS menunjukkan bahwa Washington tidak menjalankan komitmen dalam MoU yang menjadi dasar tercapainya gencatan senjata antara kedua negara.