Berita

Kortastipidkor dan Polda Metro Jaya menemukan brankas tersembunyi berisi 74 kg emas hingga mata uang asing saat menggeledah sebuah rumah di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat pada Rabu 8 Juli 2026. (Foto: Dok. Polri)

Publika

Drama Brankas, Jangan-jangan Uang Koruptor Disimpan di Situ

KAMIS, 09 JULI 2026 | 13:06 WIB

DRAMA saling buka borok antara cokelat muda dan cokelat tua. Uang Rp60 miliar sudah disita polisi. Publik bertanya, uang itu jangan-jangan uang koruptor yang disita lalu diamankan dalam brankas. 

Kalian pasti pernah bertanya dalam hati, "Uang hasil korupsi yang disita selama ini sebenarnya disimpan di mana?" Kaum berpikiran positif langsung menjawab, "Ya masuk kas negara dong, semua ada prosedurnya." Penjelasan itu indah, menenangkan, dan cocok dijadikan lagu pengantar tidur.

Lalu muncul pikiran usil khas netizen. "Ups... jangan-jangan selama ini ada juga yang mampir dulu ke brankas model beginian?" Tenang, itu cuma satire. Jangan dibawa ke ruang sidang. Tapi setelah sebuah brankas rahasia di balik lemari sebuah kafe mengeluarkan uang hampir Rp60 miliar, imajinasi publik langsung berlari lebih kencang dari Kylan Mbappe.


Rabu malam, 8 Juli 2026, Tim Kortas Tipidkor Polri bersama Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menggeledah de'Clan Signature Cafe di Cipete, Jakarta Selatan. Hasilnya bikin mesin penghitung uang minta pensiun dini. 

Dari brankas yang tertanam di balik lemari lantai dua, polisi menyita 3.130.000 dolar Singapura dalam pecahan 100 dolar Singapura, 889.965 dolar AS, serta Rp259.159.000. Kalau dikonversi, nilainya hampir Rp60 miliar.

Belum cukup membuat jantung rakyat berdebar, polisi lanjut menggeledah sebuah money changer. Di sana ditemukan 71 item barang bukti, 16 jenis mata uang asing dengan nilai sekitar Rp7,2 miliar, ditambah dokumen penting dan telepon genggam. 

Tiga pegawai kafe ikut dibawa sebagai saksi. Kasihan mereka. Mungkin daftar kerja niatnya bikin kopi, tahu-tahu harus menjelaskan kenapa dolar Singapura lebih banyak makanan MBG yang dibuang siswa.

Barang bukti mulai diangkut sekitar pukul 20.00 WIB menggunakan dua mobil dan satu kendaraan taktis Brimob. Yang belum ikut mengangkut mungkin cuma mobil bak terbuka tetangga.

Menurut Kakortas Tipidkor Polri Irjen Totok Suharyanto, penyitaan ini merupakan bagian dari penyidikan tiga perkara yang menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto, yakni dugaan korupsi, suap, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang terkait pengadaan batu bara PLN yang dikaitkan dengan blackout, PT Asabri, dan PT Krakatau Steel.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan uang itu memang disimpan secara tersembunyi di balik lemari dalam sebuah brankas besar yang tertanam di dinding. Delapan lokasi digeledah secara serentak dengan pengamanan Brimob bersenjata lengkap sesuai SOP.

Nah, di sinilah rakyat mulai menikmati serialnya. Adegan pembuka sudah sempurna. Brankas dibongkar. Duit segunung dipamerkan. Kendaraan taktis mondar-mandir. Kamera televisi bekerja lembur. Tinggal satu adegan yang selalu ditunggu penonton, siapa pemeran utamanya?

Sampai hari ini, belum ada tersangka yang diumumkan. Penyidik masih mendalami aliran uang, pemilik kafe, dokumen, telepon genggam, serta keterkaitan dengan para pihak yang diduga terlibat. 

Secara hukum, peluang penetapan tersangka memang terbuka setelah alat bukti dinilai cukup. Tapi, publik pesimis, paling hanya gitu doang, tak bakalan ada tersangkanya.

Nama pengelola resmi kafe yang muncul di pemberitaan adalah Ferry Yanto Hongkiriwang. Sementara itu, berbagai pemberitaan juga mengaitkan kafe tersebut dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah. 

Namun, keterkaitan itu belum dikonfirmasi secara resmi oleh polisi sehingga asas praduga tak bersalah tetap berlaku. Kafe ini juga diketahui dulunya bernama Gontran Cherrier dan pernah ramai diberitakan sebagai lokasi yang sering dikunjungi Febrie.

Publik berharap episode kali ini tidak berhenti di acara pamer brankas dan parade uang. Sebab rakyat sudah terlalu sering disuguhi trailer yang megah, tetapi film utamanya tak kunjung tayang. 

Kalau nanti benar ada tersangka, tepuk tangan pasti terdengar. Kalau tidak, jangan salahkan rakyat bila mulai curiga, yang paling sering ditangkap di negeri ini hanyalah perhatian publik. Sementara koruptornya selalu punya bakat luar biasa untuk menghilang sebelum tulisan "Tamat" muncul di layar.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Bikin Lomba Kota Terbersih, Lima Terbaik Dapat Rp20 Miliar

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:26

Oknum Brimob di KPK Diduga Bocorkan Dokumen Perkara, Dipakai Peras Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:18

ST Burhanuddin Mutasi 176 Jaksa, 90 Kajari Bergeser

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:17

Prabowo Wanti-wanti Konflik Timteng Bisa Meluas dan Semakin Memburuk

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:51

Deddy Sitorus Bantah Hina Wartawan dan Tantang Balik KWP

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:35

Lokataru: Kopdes Merah Putih Rawan Dimobilisasi Jadi Mesin Politik Bawah Tanah

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:26

Prabowo Tertarik Belajar Cara India Bangun 3 Juta Rumah dalam Setahun

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:21

Terima Aspirasi Guru TK, DPR Siap Agendakan Penguatan PAUD

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:19

MK: Anggaran MBG Tak Boleh Lagi Masuk Pos Pendidikan

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Pembahasan RUU HAM, Perlindungan Harus Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Selengkapnya