Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi ICX)

Bisnis

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

SENIN, 06 JULI 2026 | 03:20 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Di tengah persaingan industri securities crowdfunding (SCF) di Indonesia yang semakin kompetitif, pertumbuhan jumlah penerbit dan nilai pendanaan kerap menjadi indikator utama vitalitas sebuah platform. 

Setelah dua tahun terakhir bergerak melambat demi memperketat proses tata kelola dan pengawasan, platform Indonesia Crowdfunding Exchange (ICX), sebelumnya bernama LandX, kini memasuki fase pertumbuhan baru dan memperluas jangkauan pasar dengan mengandalkan keunggulan kualitas kurasi dan manajemen risiko.

Komitmen tersebut dibuktikan dengan catatan impresif di mana sejumlah perusahaan penerbit di platform ICX telah berhasil mengeksekusi mekanisme buyback (pembelian kembali saham) kepada para pemodal dengan total nilai kumulatif mencapai lebih dari Rp71 miliar sampai pertengahan tahun 2026. 


Eksekusi exit investasi ini telah berhasil mendistribusikan kembali hak investasi kepada 7.924 investor pemodal di seluruh Indonesia, membuktikan bahwa ekosistem penutupan investasi di ICX berjalan sehat dan transparan.

Direktur Utama Indonesia Crowdfunding Exchange, Romario Sumargo, menegaskan bahwa adanya fase yang berjalan melambat di tahun 2023-2026, di mana perusahaan hanya melisting satu penerbit baru, merupakan bagian dari strategi rekalibrasi. 

"Di saat industri SCF memasuki era penegakan kepatuhan yang lebih ketat melalui fase penguatan integritas oleh regulator, langkah mitigasi yang telah kami lakukan sejak awal kini menjadi batu loncatan utama untuk berakselerasi," jelas Romario dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 5 Juli 2026. 

Strategi ini menjadi modal berharga bagi ICX untuk memperluas penetrasi pasar di paruh kedua tahun 2026.

Kinerja Sektor Bisnis dan Faktor Utama Keberhasilan Buyback

Dari total 46 penerbit yang pernah difasilitasi oleh ICX, total sebanyak 16 penerbit tercatat telah berhasil menjalankan komitmen buyback maupun exit sepenuhnya. Sektor bisnis F&B dan properti menjadi industri yang paling dominan dalam merealisasikan komitmen buyback. 

Keberhasilan para penerbit dalam melakukan buyback ini didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain efisiensi pemanfaatan modal pasca-pendanaan, perputaran arus kas (cash flow) yang sehat, serta tata kelola bisnis yang baik.

Hingga saat ini, ICX telah memfasilitasi penghimpunan dana hingga Rp233 miliar dari 23 ribu pemodal dan dibagikan kepada 46 penerbit. Salah satu penerbit yang sukses melakukan buyback, Fitness Plus, menyatakan bahwa pendanaan SCF dari ICX telah menjadi motor penggerak perputaran bisnis mereka. 

"Seiring pertumbuhan bisnis yang kami capai, eksekusi buyback untuk 3 project sebesar Rp9,1 miliar menjadi bentuk komitmen dan apresiasi tertinggi kami kepada investor yang telah memberikan kepercayaan sejak awal," ungkap Dith Satyawan. 

Selain Fitness Plus, merek besar seperti PT Nmw Pratama Unggul (NMW Aesthetic Clinic & Dermatologi) juga sukses merealisasikan buyback sebesar Rp10 miliar.  

Langkah ICX untuk mengejar akselerasi pasar juga diimbangi dengan keterbukaan informasi yang tinggi. ICX secara transparan mengumumkan adanya 4 penerbit yang mengalami stagnasi operasional dan kesulitan usaha.  Sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi OJK, ICX menerapkan prosedur penanganan terstruktur dengan menjatuhkan status delist pada 1 penerbit, sementara 3 lainnya sedang dalam proses delisting dan fasilitasi penyelesaian hak pemodal semaksimal mungkin.  

Melihat masa depan industri dalam beberapa tahun ke depan, ICX optimis bahwa industri SCF akan semakin matang seiring meningkatnya literasi risiko investor. Mekanisme exit investasi yang jelas, seperti buyback, tidak lagi sekadar menjadi nilai tambah, melainkan pilar utama penentu kredibilitas sebuah platform dalam menjaga kepercayaan investor jangka panjang.

"Pada akhirnya, keberhasilan sebuah platform tidak hanya diukur dari seberapa cepat dana dihimpun di awal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perusahaan yang memperoleh pendanaan mampu bertumbuh, menciptakan nilai, dan menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang," tutup Romario.


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

DPR Dorong Pemerataan APBN Demi Daerah 3T Tidak Tertinggal

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:50

Utut Adianto Ngarep PDIP Tidak Ditinggalkan dalam RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:20

Dasco Pastikan Tak Akan Tinggalkan Fraksi PDIP di RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:50

Pidato Prabowo Bukti Pemerintah Berada di Jalur yang Benar

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:23

Purbaya: Pajak Karbon Motor BBM Masih Dikaji, Belum Final

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:57

Prabowo Pilih Guyur Insentif Motor Listrik Ketimbang Perbesar Subsidi BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:45

Perkuat Pasar Muslim Jelang Libur Akhir Tahun, Taiwan Bidik Wisatawan RI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:14

RUU Daerah Kepulauan jadi Kado Puluhan Juta Masyarakat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:59

Pidato Kenegaraan Prabowo Tunjukkan Kejelasan Arah Pemerintah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:31

Status Tim Penyelesaian Sengketa Internal PPP Dinilai Cacat Hukum

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:07

Selengkapnya